Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Ketua DPRD Dukung Inyiak Canduang Jadi Pahlawan Nasional


    TANAMO News | Padang(Sumbar), TN - Banyak kontribusi Syekh Sulaiman Arrasuli atau yang dikenal dengan Inyiek Canduang terhadap dunia pendidikan Sumatera Barat di masa lalu.

    Pria kelahiran Candung, Agam pada 1871 itu pantas diajukan menjadi pahlawan nasional. Ketua DPRD Sumbar Hendra Irwan Rahim memberikan dukungannya terhadap pengusulan gelar tersebut 

     "Inyiek Canduang telah terbukti kiprahnya pada masa pergerakan kemerdekaan. Tak hanya di Sumbar, bahkan di nusantara pada masa itu. Dia menegaskan, pengusulan gelar Pahlawan Nasional untuk Inyiek Canduang sudah sepentasnya direspon oleh pemerintah pusat," ujar Hendra saat, Selasa (6 /3) 

    Ia mengatakan, bukti-bukti sejarah telah menunjukkan bagaimana ulama, pendidik dan politisi itu berjuang dalam masa pergerakan kemerdekaan Indonesia. bukti sejarah telah menunjukkan Inyiek Canduang sebagai ulama, pendidik dan politisi, berjuang dalam masa pergerakan kemerdekaan Indonesia.

     ”Kami mendukung, tokoh pejuang asal Minangkabau sangat banyak, dan beberapa di antaranya masih ada yang belum diakui sebagai pahlawan nasional,” ujarnya.

    Banyak pahlawan nasional berasal dari suku Minang. Jika dilihat dari presentase populasi Indonesia, suku Minang cuma 2 persen saja. Namun suku Minang memiliki pahlawan nasional, yang cukup banyak dan berjumlah sekitar 10 persen dari total pahlawan yang diakui negara.

    Hendra menyampaikan sejarah singkat Inyiek Canduang yang menentang kebijakan pemerintah kolonial Belanda dengan menolak ordonisasi sekolah liar. Tahun 1937 beliau juga menentang penjajah dengan menolak ordonisasi kawin bercatat.

    Inyiek Canduang membentuk kepanduan Al-Anshar pada tahun 1939 dan menentang politik bumi hangus penjajah kolonial Belanda pada tahun 1942. Tahun 1943, Inyiek Canduang menjadi Ketua Umum Majelis Islam Tinggi Minangkabau (MITM) serta menjadi salah satu pendiri Lasykar Muslimin Indonesia (LASYMI) pada tahun 1947.

    Pada tahun 1948, Inyiek Canduang dipercaya menjadi penasihat Gubernur Militer Sumatera Tengah dan tahun 1955 memimpin sidang pertama konstituante hasil pemilu 1955 di Bandung. Di antara penghargaan yang pernah diraih Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli adalah Penghargaan Bintan Perak Besar pada tahun 1931 dan Bintang Sakura pada tahun 1943. Pada tahun 1969, Inyiek Canduang dianugerahi gelas sebagai Tokoh Perintis Kemerdekaan RI.

    Inyiek Canduang wafat pada tanggal 1 Agustus tahun 1970 pada usia lebih kurang 99 tahun di Canduang. Pada saat itu, Gubernur Sumatera Barat Harun Zein memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di kantor-kantor pemerintah dan di depan rumah masyarakat.

    Gubernur Sumbar Irwan Prayitno juga menyatakan dukungan tersebut. Bahkan, katanya, seharusnya pengusulan tersebut dilakukan lebih awal. 

    ”Kami akan memberikan dukungan agar proses pengusulan gelar pahlawan ini bisa disetujui oleh pemerintah pusat secepatnya karena seharusnya gelar pahlawan nasional untuk Inyiek Canduang sudah dari dulu diberikan,” tegasnya.

    sejarahwan dari Unand Nopriyasman ada beberapa poin yang disampaikannya agar menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam menganugerahi Inyiek Canduang sebagai pahlawan nasional. 

    Seperti konsisten dalam memajukan bangsa dari bidang pendidikan. Baginya, agama Islam adalah pondasi penting dalam upaya memajukan martabat bangsa. Inyiek Canduang juga aktif di politik dimulai sejak masa kolonial. Dia pernah menjadi pengurus dan ketua anak cabang dari organisasi Syarikat Islam (SI) di Baso (Agam).

    Syekh Sulaiman Ar-Rasuli banyak memberi masukan bagi pembenahan pemerintahan dan strategi-strategi berhadapan dengan Belanda pada masa revolusi. Lalu dinilai berjasa dalam memberikan pemikiran dalam upaya mencari solusi terhadap persoalan perkembangan negara pasca revolusi. 

    Beberapa solusi yang ditawarkan menyangkut soal kelayakan seorang menjadi pemimpin negara, penegakan keadilan, pemeratan pembangunan, hingga perlunya masyarakat kembali menerapkan nilai-nilai adat dan syarak, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Inyiek Canduang juga meninggalkan warisan untuk kejayaan bangsa dengan karya tulisnya. Berupa buku atau pun karangan yang diterbitkan media massa. Beberapa dari karya itu masih tersimpan dan terawat baik di Pesantren Tarbiyah Islamiyah (Perti). Karya-karya itu, diantaranya Dhiyaus Siraj fil Isra' wal Mi'raj, Tsamaratul Ihsan fi wiladah Sayyidil Insan, Dawa-ul Qulub fi qishah Yusuf wa Yaqub, Risalah al Aqwal al-Washitah fidz Dzikri war-Rabithah.

    #ia.1*tags: Publikasi.(dprd.sumbarprov.go.id)

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728
    Selamat datang di Website www.tanamonews.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pimred: Indra Afriadi