• Breaking News

    Puluhan Wartawan Media Online, Cetak, Elektronik Ikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia


    Tanamonews | Padang - Teknik penguasaan Bahasa Indonesia yang baik bagi wartawan sangat krusial. Apalagi di era globalisasi ini media atau wartawan sering salah menulis ejaan dan penulisan yang benar karena mereka kurang memahami konsep dan istilah teknis pada bidang penguasaan Bahasa Indonesia.

    Itulah sebabnya
    Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat menggelar Sosialisasi dan Tes dan uji kemahiran berbahasa indonesia bagi wartawan se kota padang di Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat di Jalan Simpang Alai, Cupak Tangah,15 April 2018.

    Pelatihan dibuka
    Dwi Sutana, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat, sebanyak 24 orang wartawan di Kota Padang, Sumatera Barat mengikuti Uji Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI) yang diselenggarakan Balai Bahasa Sumbar untuk mengetahui sejauh mana keterampilan dalam menggunakan bahasa Indonesia.

    "Wartawan merupakan mitra Balai Bahasa untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, tentu saja sebelum melaksanakan tugas kemampuan bahasanya harus terasah, minimal unggul," kata Kepala Balai Bahasa Sumbar, Dwi Sutana, di Padang.
     

    Menurut Dwi, masyarakat akan cenderung berbahasa mengacu kepada apa yang tertulis dan didengar di media. Oleh sebab itu wartawan memiliki peran strategis untuk ikut mendidik masyarakat menggunakan bahasa Indonesia secara benar.
     

    Ia menyampaikan, dalam UKBI ini nilai yang diperoleh peserta dikelompokkan menjadi istimewa, sangat unggul, unggul, madya, semenjana, marjinal dan terbatas

    Dwi menyebutkan untuk predikat istimewa, jika nilainya 725 sampai 800. Sangat unggul dengan nilai 641 sampai 724. Unggul dengan nilai 578 sampai 640. Madya dengan nilai 482 hingga 577. Semenjana dengan angka 405 hingga 481. Marginal jika nilainya 326 hingga 404. Terbatas, jika nilainya 252 sampai 325.


    Uji Kemahiran Bahasa Indonesia yang perdana diselenggarakan Balai Bahasa Sumbar khusus para wartawan ini dilaksanakan dalam tiga sesi yaitu sesi mendengar, sesi merespons kaidah dan sesi membaca.

    "Sebenarnya ada lima sesi, namun karena waktu terbatas, hanya tiga sesi test yg dilaksanakan. Dua lagi yaitu sesi menulis dan berbicara," katanya.


    Ia berharap untuk profesi wartawan minimal memperoleh predikat madya hingga sangat unggul.



    Dr. Puteri Asmarini, M.A. (Koordinator UKBI dan Penyuluh), Wahyudi, M.Hum. (anggota tim UKBI dan Peneliti), Lismelinda, M.Pd. (anggota tim UKBI dan Peneliti), Dini Oktarina, M.A. (anggota tim UKBI dan Peneliti), Andriana Yohan, M.A. (anggota tim UKBI dan Pengkaji [ketua pelaksana]

    Pada sesi pertama berupa mendengar, diputar audio yang kemudian peserta harus menjawab 40 soal dalam waktu 25 menit.

    Kemudian di sesi kedua peserta mengerjakan soal berkaitan dengan kalimat efektif dan ejaan yang disempurnakan dengan jumlah soal sebanyak 25 dalam waktu 20 menit.

    Selanjutnya di sesi ketiga peserta harus membaca dan memahami tulisan dengan jumlah soal 40 dalam waktu 45 menit.

    Dwi menambahkan, Uji Kemampuan Berbahasa Indonesia sudah dilaksanakan di Sumbar sejak 2004 namun lebih fokus kepada pelajar dan mahasiswa.

    Akan tetapi saat ini beberapa profesi sudah diharuskan lulus Uji Kemahiran Bahasa Indonesia dengan predikat tertentu seperti rektor, peneliti hingga tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia, ujar dia.

    Sejumlah peserta, dalam sesi tanya jawab, menyampaikan harapan, setelah adanya Uji Kemahiran Bahasa Indonesia ada tindak lanjut berupa upaya peningkatan berbahasa bagi wartawan. Kemudian, ada pula nilai tambah bagi peserta di bidang pers. 




    Ketua Aliansi Jurnalistik Online (AJO) Indonesia Sumbar, mengutus berberapa orang mengikuti kegiatan tersebut demi kemajuan dan konpetensi wartawan online di Sumbar.

    Ketua, AJO Indonesia mengusulkan, ada sertifikat yang diperoleh para wartawan setelah mengikuti Uji Kemahiran Bahasa Indonesia ini bisa dikoneksikan atau terintegrasi dengan kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di kalangan pers.

    Harapan Ketua, AJO Indonesia agar sosialisasi dan tes dan uji kemahiran berbahasa indonesia bagi wartawan secara rutin diselenggarakan melalui kerjasama dengan organisasi profesi yang telah terferivikasi administrasi dan faktual di Dewan Pers. 

    "Setidaknya jadi modal penambah nilai nantinya bagi pemegang sertifikat Uji Kemahiran Bahasa Indonesia ketika mengikuti UKW," ujar Ecevit Demirel akrab disapa, Ede.

    Keinginan Ketua AJO Indonesia, disambut baik oleh kepala balai bahasa provinsi sumatera barat yang mengatakan, kami  ita berkewajiban membina dan mengembangkan keterampilan berbahasa dan bersastra. Akan tetapi, disadari bahwa tumbuhnya keterampilan berbahasa dan bersastra itu bukan sesuatu yang alamiah, melainkan harus diupayakan secara terus-menerus. 

    Karena itu, sebagai instansi pemerintah yang bertugas melaksanakan program pembangunan di bidang kebahasaan dan kesastraan, Balai Bahasa membuka pintu bagi lembaga-lembaga lain, baik pemerintah maupun swasta, untuk bekerja sama dalam upaya menumbuhkan keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra masyarakat, pungkasnya.


    #ia.1
    #Tags:Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan





    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728
    Selamat datang di Website www.tanamonews.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pimred: Indra Afriadi