Ada Apa Dengan Minang? Oleh Irwan Prayitno - Tanamonews.com
  • Breaking News

    Ada Apa Dengan Minang? Oleh Irwan Prayitno


    Tanamo News | Padang - Sabtu, 26 Mei 2018 lalu di Grup Whats App (WAG) SKPD/OPD Pemprov yang saya termasuk anggotanya, masuk sebuah tulisan dengan judul “Di Sumbar Tak Mudah Jadi Pemimpin” yang ditulis oleh Emeraldy Chatra. Tulisan ini menjadi diskusi hangat di WAG tersebut. Saya juga mendapat informasi bahwa tulisan tersebut juga hangat dibicarakan di beberapa media sosial. 

    Inti dari tulisan itu menyatakan bahwa sulit menjadi pemimpin di Sumbar karena adanya karakter orang Minangkabau (selanjutnya disebut Minang) yang disebut: teman banyak tapi kawan tak ada. Artinya, kenalan atau teman itu banyak, tapi yang susah adalah kawan sepenanggungan yang sulit dicari.

    Secara umum, orang Minang dalam memilih pemimpin adalah dengan mempertimbangkan takah, tokoh, dan tageh. Maka yang mampu memunculkan tiga hal tersebut ia bisa dipilih menjadi pemimpin. 

    Pada era 1980an, ketika saya kuliah di Fak. Psikologi UI, Dr. Sunarsih Warnaen seorang dosen Psikologi Sosial UI membuat disertasi yang cukup heboh terkait karakter orang Minang yang disebutnya licik. Hal ini sempat menimbulkan gelombang protes dan demonstrasi dari orang Minang rantau dan ranah. Karakter suatu masyarakat dapat dibentuk melalui lingkungan sosial, adat dan budayanya.

    Dan karakter suatu etnis bisa jadi berbeda dengan etnis lain. Sebagai contoh, ketika saya bersama rombongan pemprov mengunjungi suatu masjid untuk suatu kegiatan pemerintahan, yang menyambut kami adalah pejabat pemerintahan dan pengurus masjid. Sedang jamaah masjid atau masyarakat tetap berada di tempat mereka duduk. Kami menyalami mereka satu persatu. Kami berdiri, mereka duduk.

    Berbeda hal jika seorang gubernur di pulau Jawa mengunjungi suatu masjid, yang menyambutnya mungkin tidak hanya pejabat pemerintah dan pengurus masjid, tapi juga masyarakat dan jamaah berdiri ikut menyambut. Perbedaan ini mungkin timbul karena perbedaan adat, budaya dan lingkungan yang berdampak kepada karakter masyarakat.

    Sulit menyebut mana yang positif dan negatif. Karena boleh jadi apa yang ada di Sumbar itu dianggap positif bagi masyarakat setempat. Demikian pula apa yang terjadi di pulau Jawa juga dianggap positif bagi masyarakat setempat. Di samping itu, bisa pula yang di Sumbar dinilai negatif, dan di pulau Jawa juga dinilai negatif. Sebuah perilaku yang muncul bisa dinilai positif atau negatif tergantung latar belakang, keinginan dan kepentingan, dan kemana ditujukan.

    Misalnya saja, orang Minang dikenal sebagai pengkritik, yaitu kritis terhadap apa yang dirasakan dan dilihat, baik dalam menilai kebijakan pemerintah maupun lingkungan sekitar, serta hal lainnya. Kritik dilontarkan karena ada ide atau gagasan yang ingin disampaikan, di mana ide yang dimiliki orang lain dianggap memiliki kekurangan sehingga perlu dikoreksi. Ketika kritik menjadi cemeeh (cemooh), maka yang muncul bukan lagi hal positif, tapi negatif. Sehingga ada yang menyebut orang Minang sebagai pencemeeh (pencemooh) di satu sisi, dan pengkritik di sisi lain.

    Orang Minang juga dipersepsikan sebagai orang pelit. Saya pernah mengalami hal tersebut ketika hidup di rantau di mana lingkungan sekitar ada yang menyebut orang Minang itu pelit. Mungkin saja anggapan itu muncul ketika seseorang bergaul dengan sebagian kecil orang Minang yang kedapatan pelit, seperti dalam masalah pemberian sumbangan untuk kegiatan sosial. Persepsi negatif ini mungkin saja benar, namun tidak seluruhnya benar. 

    Karena orang Minang juga dikenal memiliki perhitungan angka yang matang dan berhemat. Ketika menjadi Ketua Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, teman-teman saya anggota dewan mempercayakan kepada saya bersama Bpk. Fasli Jalal dari Departemen Pendidikan untuk melakukan penghitungan anggaran (APBN) terkait bidang pendidikan yang dipimpin pak Fasli.

    Ada pula orang yang menyebut  bahwa orang Minang banyak omong/bicara (banyak ota). Karakter orang Minang memang banyak bicara, banyak berkomunikasi. Karena untuk kasus tertentu, orang banyak omong ini disebut pembual. Tapi untuk kasus lain, orang Minang yang banyak omong adalah mereka para politisi, pelobi, guru, dosen, penceramah, seniman, budayawan, wartawan, sastrawan, pengamat, intelektual, diplomat, pedagang, dan lainnya.

    Dari beberapa data statistik, tersebut orang minang tidak cepat puas atau kepuasaannya rendah. Sebetulnya orang minang itu cenderung dengan perubahan dan ingin sesuatu yang baru. Sehingga tidak cukup kalau pendidikan hanya tamat SMA tapi ingin S1 dan seterusnya.

    Ada juga yang menyebut bahwa orang Minang ini, misalnya pedagang, tidak mau bekerja sama. Berbeda dengan pedagang yang berasal dari etnis lain yang bisa bekerja sama. Terkesan orang Minang egois. Boleh jadi itu benar. Tapi boleh jadi hal itu juga sebagai tanda bahwa mereka ingin mandiri dan independen.

    Orang Minang dianggap sebagai orang licik. Boleh jadi ini benar, ditemui di segelintir orang minang. Tapi banyak pula mereka yang cerdik. Dua hal yang berbeda, tapi sering dianggap sama. Ini artinya, dari uraian uraian di atas karakter mana yang diambil merupakan pilihan masing-masing orang.

    Jika melihat daftar orang Minang yang ditetapkan menjadi pahlawan nasional, jumlah mereka lebih dari 10 persen jumlah total pahlawan nasional se-Indonesia. Padahal etnis Minang hanya berjumlah sekitar 2,5 persen dari jumlah total penduduk Indonesia. Banyak orang luar justru mengapresiasi peran para pahlawan nasional dari ranah Minang ini. 

    Termasuk di antaranya Wapres RI Bpk. Jusuf Kalla yang sering menyampaikan dalam berbagai forum, bahwa pahlawan nasional dari ranah Minang lebih banyak menggunakan otaknya dalam berjuang, dan juga mereka yang bukan pahlawan nasional tapi sukses di bidangnya masing-masing.

    Dengan melihat apresiasi orang luar terhadap pahlawan nasional dari ranah Minang, ini menandakan bahwa orang Minang memiliki karakter positif sehingga bisa sukses dalam hidupnya. Tidak hanya pahlawan nasional, tetapi juga dalam kehidupan terkini.

    Dalam bidang politik, di banyak daerah pemilihan di Indonesia, dari berbagai partai politik, terdapat orang Minang di dalamnya. Juga termasuk para pimpinan partai politik, ada orang Minang di dalamnya. Demikian pula para pedagang, juga banyak yang meraih keberhasilan, dan mereka ada di mana-mana. Dan juga dosen, guru, penceramah, intelektual, pengamat, sastrawan, budayawan, seniman, serta profesi lainnya.

    Dengan melihat uraian tentang karakter orang Minang yang sering dipersepsikan negatif oleh orang lain, dan fakta lain yang juga muncul, maka orang Minang yang berhasil adalah mereka yang memiliki karakter positif seperti cerdik, mandiri, independen, pintar berkomunikasi, memiliki perhitungan yang matang, dan mampu memberikan kritik konstruktif, serta egaliter. Maka, jika ada orang yang mempersepsikan orang Minang dari sisi sebaliknya, boleh jadi karena karakter negatif yang memang menjadi pilihan dari orang yang diamati. 

    Mereka memilih hidup dengan berbagai karakter negatif yang sebenarnya merugikan diri sendiri dan tidak bisa memunculkan kesuksesan. Maka ibarat sebuah koin mata uang, karakter positif dan negatif dari suatu perilaku itu memang hidup di kalangan orang Minang. Dan sebenarnya, karakter negatif pun terjadi di semua etnis, tidak hanya orang Minang. Di etnis lain pun ada orang yang suka mencemooh, licik, banyak omong, pelit, dan lainnya.

    Dalam beberapa sambutan yang saya berikan tentang adat dan budaya, saya menyampaikan bahwa adat dan budaya itu suatu sistem yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Di Minang muncul dan tumbuh adat dan budaya. Kesuksesan orang Minang terjadi karena melaksanakan adat dan budaya yang kemudian memunculkan karakter positif. 

    Maka saya memberanikan diri menyatakan bahwa mereka yang hidup dan tumbuh dengan budaya Minang, insya Allah akan bisa mengaktualisasikan dirinya seperti halnya para pahlawan Nasional dari ranah Minang yang sudah mencontohkannya. Oleh karena itu, mari arahkan kehidupan kita kepada hal yang positif agar mendapatkan kesuksesan.

    Dalam surat As-Syams ayat 8-10 Allah Swt berfirman yang artinya, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. 



    #ia.1*Singgalang

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728
    Selamat datang di Website www.tanamonews.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pimred: Indra Afriadi