Melirik Tambang Di Bulan Dan Asteroid - Tanamonews.com
  • Breaking News

    TV. TANAMO

    Melirik Tambang Di Bulan Dan Asteroid


    Tanamo News | Impian kehidupan di bulan memang sudah lama hinggap dalam semesta kehidupan manusia. Pada 1820-an, astronom Franz von Paula Gruithuisen mengklaim telah melihat sebuah kota yang dihuni makhluk hidup di bulan. Ia menyebut mereka yang tinggal di sana sebagai “lunarian”.

    Sedangkan Sir William Herschel, astronom kenamaan asal Inggris, berpikir bahwa alien hidup di bulan. Herschel juga mengaku melakukan pengamatan rutin tentang proyek konstruksi yang dilakukan alien di sana. Sementara itu, hidup di bulan juga menjadi bagian dalam bayangan kehidupan manusia masa depan yang biasa muncul dalam serial televisi dan film layar lebar.

    Namun, sebentar lagi, tampaknya hal itu bukan imajinasi semata. Moon Express, perusahaan asal AS, menampilkan dalam lamannya bahwa misi perusahaan tersebut adalah membantu para peneliti mengembangkan koloni luar angkasa untuk ditempati manusia di masa depan. Selain itu, Moon Express juga mengejar ambisi menambang sumber daya alam yang dimiliki bulan, seperti Helium-3, emas, platinum, logam tanah jarang, dan air.

    Pada Agustus 2016, pemerintah AS memberikan izin kepada Moon Express untuk melakukan eksplorasi di bulan. Ia adalah perusahaan swasta pertama yang diberikan izin macam itu.

    Setahun berikutnya, pada November 2017, pimpinan Moon Express Naveen Jain menyebut misi pertama Moon Expres, MX-1, bakal diluncurkan pada 2018 dengan skema pembiayaan ditopang investasi pihak swasta.

    Sebelumnya, pada Januari 2017, Moon Express mengumumkan pihaknya berhasil mendapatkan $20 juta untuk pembiayaan misi pendaratan pertama. Dana tersebut membuat total investasi Moon Express menjadi $45 juta.

    Keberadaan kandungan mineral di bulan memang bukan cuma isapan jempol. Kepada Space, profesor bidang sains planet dan astrobiologi di Birkbeck College, Inggris, Ian Crawford, menyebutkan hasil penginderaan jauh bulan menunjukkan secara konsisten keberadaan air yang terkunci di dalam kawah kutub bulan. Namun, banyaknya air yang ada di sana, menurut Crawford, perlu dicek secara lebih teliti.

    "Tapi untuk benar-benar mencapai bagian bawahnya, kita perlu pengukuran on-the-spot dari permukaan di kutub bulan," kata Crawford.

    Pengamatan on-the-spot tersebut, lanjut Crawford, juga berguna untuk menghimpun informasi mengenai keberadaan logam tanah jarang. Crawford menduga bulan memliki konsentrasi logam tanah jarang lebih tinggi dibanding dengan apa yang sudah diamati melalui penginderaan jauh.

    Namun, Crawford pesimistis mengenai penambangan Helium-3 karena unsur yang terbentuk di bulan akibat angin matahari ini merupakan sumber daya alam yang amat terbatas.

    "Ini adalah cadangan bahan bakar fosil, seperti menambang semua batubara atau menambang semua minyak, begitu Anda menambangnya, [mereka akan] hilang," kata Crawford.

    Menambang di Asteroid
     
    Selain Moon Express, perusahaan swasta Planetary Resources juga bertekad menambang di luar angkasa. Namun, Planetary Resources punya ambisi berbeda. Perusahaan tambang luar angkasa yang dibekingi Larry Page dari Google dan Bryan Johnson dari Braintree itu tidak ingin menambang bulan. Mereka ingin mengeksploitasi sumber daya alam asteroid.

    Tech Crunch melaporkan, Planetary Resources berhasil meluncurkan Arkyd-6 CubeSat, sebuah satelit eksperimen guna mendeteksi keberadaan air, khususnya di asteroid, pada Januari 2018.

    Dalam artikel berjudul “Want faster data and a cleaner planet? Start mining asteroids”, saintis bidang ilmu planet dari AS, Philip Metzger, membuat ancar-ancar kemungkinan untuk menambang air dari asteroid.

    Menurutnya, air dapat diekstraksi dari mineral tanah liat yang terkandung dalam asteroid kategori asteroid-berkarbonasi. Dengan metode elektrolisis, air dapat dibentuk menjadi hidrogen dan oksigen. Metzger menjelaskan kedua unsur tersebut sangat dibutuhkan sebagai propelan (bahan yang dapat menggerakkan) dalam racikan bahan bakar roket.

    Bahan bakar roket tersebut dapat dijual ke perusahaan telekomunikasi dan perusahaan transportasi luar angkasa. Asumsinya, kelak jika perusahaan macam itu telah banyak berdiri, mereka bisa memanfaatkannya untuk bahan bakar pendorong satelit agar mengorbit pada jalur yang telah direncanakan.

    “Satu-satunya kekhawatiran adalah apakah ada cukup banyak pelanggan awal untuk mendapatkan layanan yang ditetapkan,” sebut Metzger.

    # ia.1*tirto.id

    RADIO TANAMO

    IKLAN DALAM

    ad728
    Selamat datang di Website www.tanamonews.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pimred: Indra Afriadi