Dampak Ekonomi Indonesia Pada Pilpres Amerika Serikat - Tanamonews.com
  • Breaking News

    Dampak Ekonomi Indonesia Pada Pilpres Amerika Serikat

    TanamonewsPemilihan Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) selalu menarik mata dunia, di tengah situasi pandemi korona sekalipun. Sebagai poros kekuatan politik-ekonomi dunia, tak pelak momen pilpres AS memunculkan berbagai spekulasi terkait siapa yang akan terpilih.

    Dari sisi ekonomi, kebijakan ekonomi AS dianggap mampu menggiring pusaran arus modal global yang tidak jarang membuat mata uang domestik di berbagai negara kelimpungan dibuatnya. Kebijakan perdagangannya juga memiliki dampak yang luar biasa terhadap konstelasi perdagangan global.

    Sementara itu, arah kebijakan ekonomi dan perdagangan sangat tergantung dari kebijakan pemimpin terpilih. Meski dalam sejarah AS petahana memiliki kecenderungan memenangkan kontestasi pilpres, namun dalam krisis kesehatan akibat pandemi yang diikuti kemerosotan ekonomi, sejarah tersebut bisa saja terpatahkan.

    Dalam situasi tersebut, rival Presiden Trump, Joe Biden berpeluang memenangkan pertarungan. Namun, siapapun yang terpilih dalam pilpres AS di tengah pandemi ini, diperkirakan akan memberikan dampak baik positif maupun negatif terhadap perekonomian Indonesia.

    Pandemi dapat menjadi senjata ampuh bagi Biden untuk menarik perhatian publik di tengah upaya penanganan pemerintahan Presiden Trump yang dirasa lemah. Dalam arena debat terakhir lalu, terlontar pernyataan menohok sang rival "siapapun yang bertanggung jawab atas banyaknya kematian tidak bisa lagi menjadi presiden AS".

    Bukan tanpa alasan pernyataan tajam tersebut dikeluarkan, data per 23 Oktober menunjukkan pandemi Covid-19 di AS tak kurang menyerang 8,54 juta warga, setara dengan 20,24% kasus global, dengan 224.000 kematian, dengan persentase yang hampir sama, 20,36%. Kondisi pandemi juga menyebabkan kontraksi ekonomi AS hingga mencapai -9.14% pada kuartal II dan diprediksi juga akan kembali tumbuh pada kuartal III, sehingga kuat dugaan AS akan memasuki resesi.

    Dengan situasi pandemi di AS yang belum menunjukkan tanda-tanda menepi, ditambah dengan kontroversi sebagai individu maupun kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan terkait penangannya, bukan hal mudah bagi petahana untuk kembali bertahta di Gedung Putih. Lebih lagi Pemerintah AS baru saja mengumumkan tak lagi akan mengendalikan pandemi, melainkan akan fokus pada penemuan vaksin yang efektif dalam pencegahan pandemi. Seolah menyerah pada pandemi, bisa jadi kebijakan tersebut bertentangan dengan pandangan ratusan juta rakyat AS yang juga menjadi pemilih dalam pilpres nanti.

    Sementara disatu sisi, rival dari Partai Demokrat seolah tanpa beban dan tidak sepenuhnya bertanggung jawab dalam krisis kesehatan dan ekonomi yang terjadi. Kondisi ini sekilas memberikan sinyal bahwa keterpilihan calon presiden Joe Biden mengungguli petahana. Hal tersebut juga dikonfirmasi dari hasil jajak pendapat yang menunjukkan bahwa Biden masih berada diatas Presiden Trump.

    Namun, bukan hal yang mustahil bagi Presiden Trump untuk memenangi pilpres AS tahun ini, mengingat dari sisi kebijakan ekonomi, kandidat petahana tersebut jauh lebih populer di banding isu arah kebijakan ekonomi yang diusung sang rival. Selain itu, fakta mengejutkan juga terjadi pada pilpres 2016 lalu yang memunculkan Donald Trump sebagai pemenang, mengalahkan Hilarry Clinton yang selalu unggul di survei. Fakta tersebut bisa saja terulang pada pilpres 2020 ini.


    Analisis simulatif

    Dampak negatif berpotensi kembali dirasakan jika Presiden Trump terpilih kembali. Arah kebijakan ekonomi AS diperkirakan tidak akan jauh berbeda, yakni bernuansa konservatif. Semboyan keep America great dari sisi ekonomi dapat dimaknai bahwa proteksi ekonomi AS dari serbuan produk impor akan tetap dilakukan. Artinya, perang dagang berpotensi berlanjut.

    Jika potensi perang dagang masih berlanjut dan semangat keep America Great terus tergelora, maka konstelasi perdagangan global tidak akan jauh berbeda dengan tahun 2019. Ketika arus perdagangan AS-China terdisrupsi, maka akan berdampak negatif pada negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia.

    Neraca dagang Indonesia berpotensi tertekan sebagaimana terjadi pada kuartal-IV tahun lalu. Selain itu, agresivitas stimulus ekonomi dengan penetapan pajak yang rendah bagi dunia usaha tentu berdampak positif terhadap kinerja profitabilitas perusahaan-perusahaan AS. Kedua faktor tersebut berpotensi menarik sebagian aliran modal global berlabuh di AS, termasuk dari Indonesia. Jika itu terjadi, maka rupiah berpotensi bergejolak.

    Sebaliknya, jika calon presiden Joe Biden yang memenangi pertarungan, dampak positif berpeluang dirasakan ekonomi Indonesia. Sinyal pengakhiran perang dagang AS-China yang sangat mungkin dilakukan jika Biden terpilih dan Indonesia secara tidak langsung akan mendapat manfaat.


    China merupakan mitra dagang strategis sekaligus pangsa terbesar (19,75%) bagi ekspor non-migas Indonesia selain AS. Jika perdagangan kedua negara tersebut kembali terelaksasi, maka permintaan ekspor produk Indonesia China berpotensi meningkat dan sudah barang tentu memperbaiki neraca dagang.

    Selain itu, akan terdapat potensi penguatan rupiah jika Biden terpilih. Hal ini disebabkan konsep kebijakan ekonomi usungan Biden yang tidak populis bagi perekonomian AS, seperti pengetatan pajak korporasi. Dengan pajak yang tinggi, tentu akan menambah beban sektor usaha di AS dan investor akan berpeluang hengkang dari perekonomian AS, yang diikuti dengan aliran modal keluar. Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak dilirik pemodal, yield yang tinggi yang ditopang stabilitas makroekonomi dan politik menjadi alasannya, rupiah pun berpotensi menguat.

    Dari analisis simulatif di atas, sekilas memperlihatkan bahwa terdapat potensi dampak positif jika Biden terpilih. Konstelasi perdagangan global diprediksi akan membaik jika AS dan China kembali akur dan ini tentu membuat potensi penguatan rupiah. Peluang keterpilihan Biden juga terbuka lebar di tengah kelemahan Presiden Trump dalam isu penanggulangan pandemi. Kondisi tersebut membawa harapan positif bagi perekonomian Indonesia.

    Namun, terlepas dari siapa pun yang terpilih, pemerintah sudah harus mulai me-reorientasi strategi dagang. Selama ini transaksi dagang memang condong dan dominan pada dua pihak yang berseteru tersebut. Guna mengantisipasi ketidakpastian situasi perdagangan global, mencari mitra dagang potensial baru dapat dilakukan sejak saat ini. Selain itu, kebijakan aliran modal harus bersifat antisipatif terhadap potensi pelarian modal yang sangat mungkin terjadi ditengah ketidakpastian akibat arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat.

    Penulis : Teguh Santoso (Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Universitas Padjajaran).


    Tidak ada komentar

    Selamat datang di Portal Berita www.tanamonews.com : Legalitas perusahaan media SIUP. No. SK 0075/03.07/MK/SIUP/V/2017-TDP. No. : 03.07.3.58.05437-IG. No. SK : 1078/IG-NI/DPMPTSP/V/2017 - NPWP. Badan : S-4488KT/WPJ.27/KP.0403/2017 - Diskominfo : 555.166/Diskominfo/IV-2017-Surat Domisili : 470/44/APK-IV/2017. Bank Nagari : 2100.0210.45535-821039217 dan BRI : 5466-01-017035-53-8 a/n Pt. Tanamo Media Inter Pers, atas nama segenap redaksi dan Pimpinan Pt. Tanamo Media Inter Pers, mengucapkan Terima kasih telah berkunjung.. tertanda: Owner, Pendiri dan Direksi : Indra Afriadi dan Pemimpin Redaksi : Robby Octora Romanza