Ticker

6/recent/ticker-posts

Eksistensialisme, Frankl dan Hakekat Manusia Minang

Dalam situasi apapun, hidup haruslah bermakna, agar hidup mempunyai makna dan berbahagia. (Victor E. Frankl)

Oleh: Nanang Sumanang, Guru Sekolah Indonesia Davao

TanamonewsMengawali tahun 2021 ini, banyak sekali berita duka mewarnai pemberitaan di media massa maupun media sosial. Angka penyebaran dan korban COVID-19 yang terus bertambah dengan cepat sejak 2020, kematian saudara-saudara kita tercinta, baik karena COVID-19 maupun karena lainnya, wafatnya para pemuka agama, penolakan vaksinisasi oleh beberapa orang, korupsi bansos dan pembuatan Surat Keterangan palsu COVID-19, influenser yang tidak memberikan contoh dalam melakukan protokol kesehatan setelah divaksin. 

Bencana alam tahun 2020 belum usai ditangani dengan baik seperti di Banten, sekarang berita duka bertambah lagi dengan kecelakaan pesawat di wilayah kepulaun Seribu, bencana alam di Sumedang, Puncak, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara dan di beberapa tempat lainnya.

Pernyataan Presiden Jokowi tentang krisis pangan akibat pandemic COVID-19 dalam rapat terbatas (13/4/2020), ditambah lagi pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dan mantan menteri perdagangan, Thomas Lembong, yang menyatakan perekonomian tahun 2021 masih tetap berat dan dibayangi ketidak-pastian menyiratkan adanya tantangan besar bangsa ini. 

Tantangan tersebut adalah masalah kesehatan, krisis sosial karena banyak masyarakat yang hilang mata pencaharian, dan krisis sektor usaha yang berimbas kepada sektor keuangan tentunya. Ini belum ditambah dengan biaya pemulihan bencana alam.

Catatan FAO (Organisasi Pangan se Dunia) pada Hari Pangan se Dunia tahun 2020 tercatat lebih dari 2 milyar orang tidak mempunyai akses rutin pangan yang aman, bergizi dan cukup. Sekitar 135 juta di 55 negara mengalami kelaparan akut. Populasi global diperkirakan hampir mencapai 10 miliar pada tahun 2050. 

14 % pangan dunia hilang/rusak sebelum sampai ke konsumen. Produk pangan yang instensif plus perubahan iklim telah menghilangkan keanekaragaman hayati. Pola makan yang salah dan gaya hidup pasif menyebabkan angka obesitas tinggi.

Catatan-catatan di atas tentunya membuat kita merenungkan akan keberadaan (eksistensi) kita sebagai manusia di muka bumi ini.

Eksistensi berasal dari bahasa Latin Exisitere, Ex berarti “keluar” dan sistere yang berarti “tampil, muncul”, sederhananya bisa diartikan sebagai “Apa yang ada” atau “Apa yang memiliki aktualitas”,segala sesuatu yang dialami” dan  “esse” kesempurnaan (Lorens Bagus:2000). Heideggard mengartikan eksistensi sebagai “Das wesen des daseins liegh in seiner Existenz” adanya kesadaran manusia dengan tempat dan keberadaannya.

Sebagai sebuah aliran filsafat, eksistensialisme lahir sebagai antitesa dari filsafat “kahyangan”, dimana alam ide dan rasio (esensi) telah membuat manusia menderita sebagai manusia yang ada yang dinafikan keberadaannya dengan dunianya. Hal ini diperparah lagi dengan adanya Perang Dunia (PD) yang telah meluluh-lantakan tatanan di dunia Barat, dan menghancurkan keyakinan banyak manusia, bahwa kemajuan teknologi dan peradaban akan mendatangkan kebahagiaan bagi manusia. 

Aliran ini tidak berdiri sendiri, tapi juga dipengaruhi oleh fenomonologi Hussrel dan filsafat kehidupan Bergson. Eksistensialisme banyak mempunyai pemikir-pemikir hebat; Heidegger, Kierkegaard, Sarte, Jaspers, Marcel dan sebagainya. Persamaan dari pemikira para tokohnya adalah Eksistensialisme itu; fokus pada cara manusia berada, eksistensi harus diartikan secara dinamis dan aktif (manusia adalah mystere kata Marcel), terbuka, terikat pada dunia sekitarnya, dan pada pengalaman yang kongkrit.  

Secara sederhana adalah cara manusia berada di dalam dunia. Eksistensialisme teistik dipelopori oleh Kierkegaard, sementara yang ateistik dipelopori oleh Nietzsche. Dalam perkembangannya yang sangat pesat, terutama setelah PD II, eksistensialisme mempengaruhi perjalanan Psikoanalisa Eropa secara luas.

Victor Emil Frankl merupakan bagian dari sejarah perjalan psikonoanalisa yang diperngaruhi oleh filsafat eksistensialisme (C.P.Chaplin:1995). Britannica menulisanya sebagai “third school of Viennese psychotherapy”, setelah psikoanalisa Sigmund Freud dan psikologi individual Alfred Alder. 

Berbeda dengan Freud bahwa penggerak utama manusia adalah untuk mencapai kesenangan (pleasure principle), berbeda juga dengan Adler yang mengatakan bahwa penggerak utama manusia adalah mencari kekuasaan (will to power) dimana semua kegiatan manusia dipusatkan utnuk mencapai keunggulan (striving for superiority). 

Frankl dengan teori logoterapi menyatakan  bahwa penggerak utama manusia bergerak untuk mencari makna hidup yang sangat spiritualis dan humanis.

Dilahirkan dari keluarga Yahudi menengah di Austria (1905), memberikan kesempatan kepada Frankl untuk belajar spiritual, terutama tentang makna hidup dan bisa bersekolah hingga Universitas.  

Mendapatkan gelar dokternya pada tahun 1930, Ph.D-nya pada tahun 1949 pada Vienna University. Frankl mengajar dan menjadi guru besar dalam bidang neurologi dan psikiatri di Fak, Kedokteran, dan juga sebagai guru besar pada bidang Logoterapi di US Internasional University. 

Karena kecerdasannya, Frankl mendapatkan Doktor Honoriskausa dari 120 universitas di dunia, dan menjadi dosen tamu pada universitas-universitas ternama seperti Harvard, Loyola University, dan beberapa universitas lainnya di dunia.. 

Penajaman spiritualnya terjadi ketika Frank dan keluarganya dijebloskan ke kamp konsentrasi (1942-1945) di Theresienstadt. Frankl mengalami sendiri penyiksaan-penyiksaan yang sangat kejam terhadap dirinya juga kamp-kamp konsentrasi lainnya seperti Auscwitch, Dachau, Treblinka dll. 

Orang-orang yang sangat dicintainyapun mati dibunuh di dalam Kamp. Frankl juga melihat dengan mata kepala sendiri para tahanan Yahudi disiksa, diteror secara bengis (dehumanisasi), dibunuh secara kejam karena ada program pemusnahan massal oleh Hitler.  

Banyak tahanan yang putus asa, apatis, tidak mempunyai semangat hidup dan mereka bunuh diri untuk mengakhiri penderitaannya. Di sisi-lain, Frankl juga melihat ada beberapa tahanan, termasuk dirinya dalam keadaan yang sangat mencekam dan menyedihkan berusaha berbagi kepada tahanan lainnya untuk membangkitkan semangat hidup memberikan pengobatan dan support psikologis kepada tahanan lain. Membangkitkan harapan-harapan tentang kebebasan, kemerdekaan dan kebahagiaan.

Frankl melihat dari teman-temannya yang tabah itu karena berhasil mengembangkan dalam dirinya harapan-harapan yang baik seperti adanya pertolongan Tuhan dengan berbuat kebajikan. Mereka berhasil menemukan dan mengembangkan makna dari pengalaman pahit mereka dalam kamp-kamp konsentrasi (Meaning in suffering).   

Dari kamp konsentrasi tersebut Frankl banyak belajar tentang makna hidup dan makna penderitaan. Lalu iapun membuat kelompok-kelompok psikoterapi guna membantu tahanan yang lain agar bangkit semangat untuk hidupnya dan mengatasi frustasi. Pengalaman di dalam kam konsentrasi ini memperkaya teori dan praktek psikiatrinya kemudian.

Setelah PD II berakhir dan semua tahanan kamp konsentrasi dibebaskan, Frankl kembali ke wina menjadi Kepala Neurologi dan psikiatri di rumah sakit, serta menjadi dosen di Vienna Medical School. Pengalaman hidupnya selama di kamp konsentrasi disebarkan lewat tulisan dan menjadi dosen tamu di berbagi universitas, kemudian dikembangkan menjadi Logoterapi yang sangat dikenal karena metodenya memberikan hidup bermakna agar mendapatkan makna hidup dan kebahagiaan.

Melihat manusia Minang memang agak sulit apabila hanya melihat budayanya secara separuh-separuh karena “Adat salingka nagari” bahwa budaya dan adat itu diparaktekan tidaklah sama antara nagari. 

Keberadaan manusia Minang-pun semakin dipertanyakan keberadaannya, karena banyak manusia Minang yang hanya berdasarkan kelahiran, tanpa mengetahui akar budayanya. Padahal budaya sebagai hasil interaksi manusia dengan sesamanya dan alam raya bisa merupakan obor bagi sebuah perjalanan sebuah bangsa.

Ada beberapa penyebab yang bisa diutarakan anatara lain: bergesernya media sosialisasi dengan adanya sekolah formal yang menggantikan fungsi Rumah Gadang, Surau dan Lapau. 

Rumah Gadang merupakan media sosialisasi pembentukan anggota keluarganya. Surau sebagai sosialisasi religious, norma, etika dan nilai, serta Lapau sebagai media kesadaran akan ruang sekitarnya untuk berdiskusi permsalahan masyarakatnya.

Faktor lainnya adalah kurangnya revitalisasi budaya Minang sehingga banyak orang-orang Minang yang meninggalkan budayanya, bergeser dengan budaya Barat yang praktis, individualis dan hedonis. “Adat babuhue matie” (Adat bersimpul mati) 

Pepatah-petitih Minang yang  bersifat “atomistis” dimana dalam kata-kata yang tersurat mengandung makna yang tersirat. Sementara kebudayaan Barat sekarang langsung pada point permasalahan.

Karena kurangnya pemahaman budaya, maka keberhasilan seorang manusia Minang adalah apabila mereka membangun masjid, membangun rumah gadang dan menjadi penghulu/datuk, tanpa melihat tata cara dan mekanismenya terutama pengangkatan menjadi seorang Datuk.

Dalam Filsafat Minangkabau ada tiga hal  agar hidup kita mempunyai makna yaitu dengan cara bermakna bagi orang lain yaitu: 

Pertama adalah Iduik Bajaso (Hidup berjasa) terhadap manusia dan kemanusiaan. Selalu berbuat baik dengan niat tulus dan ikhlas (Hablum minallah wa hablum minan naas). 

Kedua adalah Matie Bapusako (Meninggal Meninggalkan Warisan). Warisan yang dimaksud bukan hanya harta, tapi yang pasti adalah Manusia Minang harus bisa mewarisi nilai-nilai luhur seperti spiritual, intelektual, mental dan moral yang baik kepada generasi selanjutnya.

Yang ketiga adalah Alam Takambang Jadi Guru memiliki arti yang sangat luas, bahwa kita sebagai manusia tidak boleh sombong, karena kecerdasan, kekayaan dan sebagainya. Semangat untuk terus berusaha dan belajar kapan dan dimanapun harus terus dihidupkan, karena alam berubah dan jaman terus berkembang. 

Dalam situasi Indonesia seperti sekarang ini, maka keberadaan kita dituntut untuk memberi kepada Negara yang kita cintai dalam bentuk apapun dan sebesar apapun. Bangsa ini telah terlampau banyak memberi, kini giliran kita untuk memberi bangsa Indonesia. 

Hidup harus bermakna agar manusia mendapatkan makna hidup dan kebahagiaan. Filsafat hidup Minang telah mengajarkan kepada kita semua agar bisa menjadi manusia yang berbahagia dunia akherat, harus bermanfaat bagi orang lain, mewarisi yang baik dan selalu belajar, karena hidup terus berubah. (Intanamo SIkumbang Sutan Sati).

Posting Komentar

0 Komentar

"Upaya Pemprov Sumbar Membangkitkan Ekonomi dimasa Pandemi Covid-19"





Welcome to Thank's