Ticker

6/recent/ticker-posts

Impor Beras, Validitas Data dan Kesucian Niat

FILIPINA, TANAMONEWS - INTERNASIONAL | Kita mungkin sudah mendengar/tahu cerita tentang Jaka Tarub yang berhasil menyembunyikan selendang salah satu Dewi dari Kahyangan, dan akhirnya berhasil mengawininya. 

Oleh: Nanang Sumanang, Guru Sekolah Indonesia Davao-Filipina

Diakhir cerita, Jaka Tarub harus berpisah dengan istrinya yang kembali ke Kahyangan, dan dia harus bekerja keras menanam padi, karena Jaka Tarub telah melanggar pesan istrinya untuk tidak membuka tempat memasak sebutir padi istrinya. Cerita ini banyak kesamaan pada daerah atau Negara yang mempunyai makanan pokoknya nasi, termasuk di Korea Selatan.

Atau cerita seorang putri raja yang sangat disayangi oleh sang Raja, harus terusir keluar dari Istana dan tinggal di sebuah hutan karena menyamakan cintanya kepada sang ayahanda (Raja) dengan garam. 

Diakhir cerita sang Raja yang tersesat di hutan, dan kelaparan bertemu dengan putrinya yang sudah tidak dikenalinya. Sang Raja diberi makanan oleh putrinya tanpa garam. Sang Rajapun tidak bisa makan, akhirnya sang putripun mengatakan bahwa dia sebenarnya putri Raja yang terusir, dan betapa besarnya cinta putri kepada sang Raja yang digambarkan dengan garam. Akhirnya sang putripun kembali ke kerajaan.

"Kedua cerita tersebut memberitahu kita bahwa beras dan garam menjadi sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita dan sangat penting".

Wacana yang dilontarkan oleh Menteri Perdagangan, M. Lutfi yang berencana mengimport beras, untuk menjaga stok beras Bulog dikisaran 1 juta ton hingga 1,5  juta ton, mendapat reaksi yang sangat besar dari lapisan masyarakat. Menurutnya  impor beras ini akan dilakukan karena sekarang stok beras di Bulog mencapai titik terendah dalam sejarah Bulog. 

Pernyataan ini,  ditayangkan secara virtual dalam program Weekly Update bersama Menteri Perdagangan, Jumat, 19 Maret 2021. 

Gara-gara wacana tersebut dunia perjurnalistikan  maupun media sosial di Indonesia menjadi ramai, hiruk pikuk pro dan kontra dengan berbagai alasannya. 

Dari mulai menteri, mantan menteri antara lain; Susi Pujiastuti, Dahlan Iskan, Kabulog Budi Waseso,  akademisi, para busser, ibu-ibu, petani sampai obrolan di group wa keluargapun membahas rencana import beras ini.

Di tengah ramainya perdebatan tentang import beras, tiba-tiba Presiden Jokowi menghimbau agar tidak perlu memperdebatkan masalah import beras, karena sejak tiga tahun lalu, Indonesia sudah tidak mengimpor beras lagi.

Pernyataan Presiden tersebut malah membuat perdebatan impor beras semakin ramai. Banyak orang-orang mencari data apa benar Indonesia sudah tiga tahun tidak impor beras.

Media massa seperti Tempo, CNBC Indonesia dan lainnya membandingkan pernyataan Presiden dengan data  Badan Pusat Statistik, data dari Bulog, data dari Kementerian Perdagangan  dan Kementerian Pertanian sendiri.

Seorang teman yang mengadakan penelitian tentang pertanian di suatu daerah, dan berhasil mengumpulkan data dari lapanganpun ternyata berbeda datanya dengan instansi lainnya.

Bukan Cuma data beras yang tidak sama, data data lainpun banyak yang tidak sama antara satu instansi dengan instansi lainnya. Hal ini, pernah diungkap oleh Muhajir Effendy selaku Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dalam kegiatan Sosialisasi Sustainable Development Goal’s dan Rakor Teknis Sensus Penduduk Tahun 2020 (26 Nopember 2020). 

Mengawali sambutannya, Muhajir Effendy mengingatkan akan visi dan misi Jokowi-Ma’ruf Amin tahun 2020-2025 yaitu terwujudnya Indonesia maju, berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong royong.

Menurutnya, untuk mewujudkan visi dan misi tersebut dibutuhkan data yang berkualitas dan seragam, baik yang akan dipergunakan untuk penyusunan perencanaan maupun untuk pelaksanaan yang terpadu pada semua pihak. Namun hingga saat ini kondisi data di Indonesia masih sangat beragam,

Beliau memberi contoh misalnya jumlah penduduk Indonesia apabila didasarkan data BPS dan Bappenas sebesar 264,2 juta orang, sedangkan jika menggunakan data dari Dukcapil Kemendagri hanya 263, 9 juta orang.

Perbedaan ini, menjadi sangat penting dikaitkan dengan penyediaan bahan pangan bagi selisih kedua data tersebut, hal ini menyebabkan tidak optimalnya kebijakan pemerintah dilaksanakan.

Lalu Menko PMK menyitir ucapan presiden Jokowi “Kesimpang-siuran sejumlah data dari berbagai Kementerian dan Lembaga menjadi salah satu penyebab tidak optimalnya pelaksanaan kebijakan pemerintah” (diunduh dari laman Kemenko PMK, 26 Nopember 2019).

Jangankan berbicara data yang berbeda, memahami pernyataan presiden Jokowi tentang tidak impor beras selam tiga tahunpun masih bisa diperdebatkan tentang jenis berasnya. Ini beras premium atau beras biasa. 

Ini beras yang biasa dipakai oleh hotel melati, atau berbintang, kalau berbintang bintang berapa. Atau beras  di restaurant atau di warteg, atau beras yang dikonsumsi masyarakat kelas mana, dan lain sebagainya.

Dalam dunia penelitian, validitas data sangat menentukan validitas sebuah penelitian. Dalam sosiologi, data bisa disebut sebagai bahan keterangan yang berupa himpunan fakta-fakta, angka-angka,hurup-hurup, kata-kata, grafik, gambar, lambang yang menyatakan suatu pemikiran, objek, kondisi, dan situasi tertentu. 

Data ini harus bisa memberikan gambaran tentang suatu masalah secara benar, sehingga penelitian nanti mempunyai validitas dan reliabilitas yang baik. Data yang baik harus objektif, representatif, mempunyai kesalahan baku yang kecil, actual da nada hubungannya dengan permasalahan yang diteliti.

Saya sangat yakin, bahwa semua peneliti sudah tahu kaidah data yang baik, tapi permasalahnnya adalah seringnya seseorang melakukan manipulasi data untuk menghasilkan hasil penelitian yang sesuai dengan yang diinginkan. 

Ini masalah yang sangat menyedihkan dalam dunia penelitian. Manipulasi bisa dimulai dari pemilihan responden, penggunaan sampel, penggiringan opini pada kuesioner atau wawancara, bahkan sampai merubah hasil data di lapangan.

Teringat ucapan presiden Jokowi dulu. Kan semuanya mudah saja, kita bisa manfaatkan anak-anak muda yang ahli IT, kita minta buatkan programnya dan nanti data dan program yang berjalan akan transparan, dan mudah diakses oleh siapapun, ternyata untuk datapun saat ini masih belum rapih.

Masalah impor beras dan impor garam yang lagi marak sebenarnya bukan masalah, karena globalisasi menuntut adanya inter-dependent antar negara-negara. Tidak ada satupun Negara yang bisa independent 100 %. 

Permasalahnnya adalah bahwa impor beras, garam atau apapun harus berdasarkan data yang valid dan alasan yang bisa dipertanggung jawabkan. Data yang benar-benar akurat, bukan data yang berdasarkan pesanan orang atau golongan tertentu, dan bukan demi keuntungan pribadi atau golongan tertentu. Apalagi kalau melihat negara kita adalah negara agraris dan negara kepulauan yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia.

Jamannya pak Habibie, pernah pesawat terbang buatan IPTN ditukar dengan beras ketan, ini untuk memperkenalkan produk pesawat terbang kita ke mancanegara. Alasan dan datanya sangat jelas dan terukur.

Dalam ilmu Fiqh, Niat dalam beribadah adalah penentu sah atau tidaknya ibadah kita. Niat menjadi rukun dalam segala ibadah kita. Dalam setiap ibadah niat harus benar-benar lurus karena Allah SWT semata.

Dulu ketika kecil, ketika kami masih di madrasah Raudlotul Hasanah di Cawang Kapling, ustadz kami mengajarkan untuk mendzaharkan (mengucapkan) bacaan niat kami kalau kami mau sholat atau berpuasa. 

Mendzaharkan niat ini bertujuan membantu niat yang di dalam hati agar benar-benar apa yang kita lakukan lillaahi ta’alaa, hanya untuk Allah SWT semata, bukan untuk yang lain, apalagi untuk dipamerkan (riya) kepad makhluk Allah.

Setelah saya masuk Sekolah Muhammadiyah, kami diajarkan untuk membaca niat hanya dalam hati. Fokuskan pikiran, pikiran dan hati kita, dan rasakan ketika kita berniat dalam hati agar ibadah kita benar-benar lillaahi ta’alaa, bukan untuk yang lainnya.

Niat pemerintah untuk impor beras ataupun garam harus dilihat dari niatnya. Apabila niatnya lillaahi ta’alaa untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia, maka masyarakat Indonesia yang mana yang akan disejahterakan. 

Apakah tidak ada “pesan sponsor” dari orang-orang tertentu atau golongan tertentu untuk mengambil keuntungan dalam impor tersebut? Melihat pengalaman-pengalaman yang lalu, setiap impor pasti ada satu golongan yang diuntungkan, dengan cara memark-up biaya dan sebagainya.

Semoga sebagai Negara agraris dan Negara yang mempunyai garis pantai terpanjang di dunia tidak akan ada lagi impor beras dan garam di masa-masa yang akan datang, yang ada kita menjadi negara pengekspor beras dan garam, dimana para petani dan rakyat semuanya sejahtera sesuai dengan cita-cita dari kemerdekaan bangsa Indonesia. (Intanamo).

Posting Komentar

0 Komentar

"Upaya Pemprov Sumbar Membangkitkan Ekonomi dimasa Pandemi Covid-19"





Welcome to Thank's