Tentang Asal Usul Mahapatih Gajah Madah, Anak Siapa.. - Tanamonews.com
  • Breaking News

    Tentang Asal Usul Mahapatih Gajah Madah, Anak Siapa..

    Nusantara - Tokoh ini ditulis dalam banyak naskah lama, prasasti, dan cerita rakyat, antara lain: Kakawin Gajah Mada, Babad Gajah Mada, Negarakertagama, Pararaton, Kidung Sundayana, Cerita Raja Banjar dan Raja Kota Waringin, Hikayat Hang Tuah, Babad Pungkalan Timbul, Babad Triwangsa, Prasasti Gajah Mada di Buleleng Singaraja, Naskah Usana Jawa, Babad Arung Bondhan, Babad Arya Kotawaringin, Babad Dalem, Nawanatya-Kaprajnyanira Apatih Gajah Mada (prosa), Gajah Mada (Wet Book), dan cerita rakyat yang ditulis H.H. Noorsten berjudul “Historische Maskers van Poera Panataran Topeng te Blahbatoe” Bali; cerita terakhir ini sering dipentaskan dengan topeng pajegan Bali sebelum Perang Dunia II. Meskipun ditulis dalam banyak naskah, tak lantas tokoh ini jelas asal-usulnya. Asal-usul mahapatih ini tetap misterius.
    .
    Image: Jonathan.
    Tanamonews.com | Ada banyak versi tentang asal-usul Gajah Mada, di antaranya yang tertulis dalam Kakawin Gajah Mada, Babad Gajah Mada, cerita rakyatnya Noorsten, Gajah Mada (Wet Book), Usana Jawa yang menjadi rujukan Muhammad Yamin, dan Babad Arung Bondhan.
    .
    Versi kakawin menceritakan, Gajah Mada adalah anak kandung perempuan pertapa bernama Nari Ratih yang bersuamikan Sura Dharma. Suami-istri itu adalah murid di pertapaan Pendeta Hangga Runti. Selain cantik, Nari Ratih adalah pertapa yang hebat, hal itu yang membuat Dewa Brahma bermaksud menitipkan “benih” di rahimnya. Dewa Brahma memang sedang mencari wadah untuk melestarikan kehidupan di dunia, Nari Ratih-lah yang terpilih. Dengan menyamar sebagai Sura Dharma, Dewa Brahma akhirnya berhasil menitipkan benihnya di rahim Nari Ratih. 

    Kehamilan pertapa perempuan itu membuat suaminya marah, meskipun akhirnya bisa menerimanya. Nari Ratih yang tak ingin memiliki anak sebagai bagian dari lakunya sebagai pertapa merasa malu dengan kehamilannya. Suami-istri itu akhirnya meninggalkan pertapaan Pendeta Hangga Runti dan melahirkan di tempat pemujaan di Desa Mada. Bayi itu ditinggalkan di tempat pemujaan dan dipungut anak oleh kepala desa. Bayi itu diberi nama Pipil Mada (Anak Pungut Desa Mada).
    .
    Secara alur cerita, kisah dalam kakawin ini tak lebih sama dengan kisah dalam Babad Gajah Mada. Yang membedakan, cerita dalam kakawin lebih rinci dibanding cerita dalam babad, juga penyebutan nama. Pendeta Hangga Runti dalam babad disebut Raga Runting, sedangkan Sura Dharma disebut dengan nama Cura Dharma.
    .
    Asal-usul Gajah Mada dari dua sumber di atas sama sekali berbeda dengan cerita rakyat yang ditulis H.H. Noorsten dalam “Historische Maskers van Poera Panataran Topeng te Blahbatoe (Bali).” Noorsten menulis bahwa Gajah Mada merupakan anak hasil perselingkuhan antara Pendeta Naga Runting dengan istri kepala Desa Mada. Perselingkuhan itu akhirnya diketahui oleh penduduk desa. 

    Si pendeta ditangkap dan hendak diseret ke hadapan raja Majapahit untuk diadili, tapi pendeta pesakitan itu berhasil meloloskan diri. Pasangan selingkuh lari, perempuan selingkuhannya melahirkan bayi laki-laki dan meninggalkannya di rumah pemujaan. Bayi itu dipungut anak oleh kepala desa dan diberi nama si Papak karena jari tangan dan kakinya sama panjangnya.
    .
    Dalam Gajah Mada (Wet Book), tokoh Gajah Mada diceritakan sebagai cucu dari Begawan Sukerti, bapanya bernama Menak Madang. Tak dijelaskan siapa ibunya. Sedangkan Muhammad Yamin dalam buku “Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara” menyebut tokoh itu adalah anak jelata yang berdarah rakyat biasa. Yamin menulis bahwa berdasarkan naskah Usana Jawa, Gajah Mada adalah penjelmaan Hyang Narayana yang memancar dari buah kelapa. Gajah Mada bukan bayi yang dilahirkan perempuan.
    .
    Berbeda dengan sumber-sumber sebelumnya, Babad Arung Bondhan menyebut Gajah Mada adalah anak Patih Lugender yang dalam Carita Damarwulan disebut sebagai musuh Minakjingga dari Blambangan. J.L.A. Brandes (sejarawan Belanda) menjelaskan bahwa kisah dalam Carita Damarwulan terjadi pada masa pemerintahan Rani Suhita (1429-1447). Mengikuti penjelasan Brandes, informasi Babad Arung Bondhan tak bisa digunakan karena linimasa kehidupan Patih Lugender tak sesuai dengan masa hidup Gajah Mada.
    .
    Apakah hanya itu saja informasi asal-usul Gajah Mada? Tidak! Prof. Agus Aris Munandar (arkeolog dan sejarawan UI) dalam buku “Gajah Mada: Biografi Politik” menyebut bahwa Gajah Mada adalah anak Gajah Pagon, salah satu kadean/pengikut Wijaya ketika menjadi pelarian dan saat mendirikan Majapahit. Dalam Pararaton, Gajah Pagon disebut terluka dan tak bisa melanjutkan perjalanan menuju Sumenep bersama rombongan pengungsi; ia dititipkan kepada kepala Desa Pandak, Macan Kuping. 

    Cerita Pagon dalam Pararaton selesai sampai di situ. Agus Aris Munandar kemudian mengembangkan cerita itu: Pagon kawin dengan putri Macan Kuping dan mewarisi kedudukannya sebagai kepala Desa Pandak. Perkawinan Pagon dengan putri Macan Kuping kemudian melahirkan Gajah Mada. Arkeolog UI itu kemudian mengisahkan, Gajah Mada berguru selama dua belas tahun di salah satu karsyan (pusat pendidikan keagamaan) di Gunung Penanggungan. Berikutnya Gajah Mada mengabdi sebagai prajurit di Majapahit.
    .
    Munandar mengisahkan pembangunan caitya (bangunan suci) untuk pendarmaan Kertanegara oleh Gajah Mada. Dia menulis “Jadi Gajah Mada dengan Tribhuwanatunggadewi mungkin saja mempunyai eyang yang sama, mereka sama-sama cucu Kertanegara… Gajah Mada cucu dari selir Kertanegara.” Pertanyaany, benarkah Gajah Pagon anak selir Kertanegara? Tak ada data yang mendukung klaim ini. Sama dengan kisah rekaan Munandar tentang perkawinan Gajah Pagon dengan putri Macan Kuping yang kemudian melahirkan Gajah Mada.
    .
    Mengapa Munandar memilih Gajah Pagon sebagai orangtua Gajah Mada di antara para kadean Wijaya lainnya seperti Sora, Nambi, Peteng, Banyak, Wiragati, Pamandana, dan Dagdi? Pertama, karena tokoh itu bernama “Gajah”, tak sembarangan seseorang menggunakan nama “Gajah”. Kedua, Gajah Pagon adalah pengikut setia Wijaya dan seorang perwira, dalam keadaan terluka pun masih sanggup bertarung di medan perang. Ketiga, Pararaton memberitakan keadaan Gajah Pagon secara khusus karena naskah itu memiliki maksud, yaitu untuk mengenang jasa-jasa ayahanda Gajah Mada.
    .
    Saya menyangsikan argumentasi Prof. Manandar. Pertama, pada masa Gajah Pagon hidup, orang yang menggunakan nama “Gajah” bukan hanya Gajah Pagon, pengikut Sora juga bernama “Gajah”: Gajah Biru yang ikut mati saat Patih Daha itu mempertahankan harga dirinya. Apakah Gajah Biru juga anak Gajah Pagon? Kedua, bukan hanya Pagon yang menunjukkan kesetiaan dan keberanian di antara pengikut Wijaya, semuanya menunjukkan hal itu, lebih-lebih Sora yang menyediakan perutnya untuk diduduki putri Kertanegara ketika melarikan diri dari Singasari ke Sumenep. Ketiga, betulkah penulis Pararaton memiliki maksud khusus dengan menceritakan kisah Pagon yang terluka dan dititipkan di Pandak? Mengapa Pararaton tak langsung menulis bahwa Gajah Pagon adalah anak selir Kertanegara atau sebagai orangtua Gajah Mada? Untuk apa disembunyikan? Sayang Prof. Munandar tak menjelaskan tentang hal ini.
    .
    Alih-alih mengambil salah satu cerita muasal Gajah Mada di atas, penulis Novel “Ranggalawe: Sang Penakluk Mongol” menulis ceritanya sendiri dengan menyebut Gajah Mada adalah putra Ranggalawe dengan Tribuwaneswari. Penulis novel memang berhak membuat kisah sendiri, sama dengan penulis kakawin, kidung, babad, dan prosa Jawa-Bali lainnya. Sama dengan kisah (sejarah) rekaan Prof. Munandar tentang orangtua Gajah Mada. Apa alasan penulis novel menyebut Gajah Mada sebagai putra Ranggalawe dan Tribhuwaneswari?
    .
    Pertama, penunjukan Sri Kresna Kepakisan sebagai penguasa Bali adalah berkat usulan Gajah Mada kepada Rani Tribhuwanatunggadewi. Babad Dalem mengisahkan, awalnya Gajah Mada mengusulkan Wangbang Kepakisan sebagai penguasa Bali kepada Jayanegara, namun raja kedua Majapahit itu menolaknya. Meskipun begitu, Wangbang Kepakisan tetap tinggal di Trowulan hingga lahir putranya, Kresna Kepakisan. Pada saat Rani Tribhuwanatunggadewi berkuasa, Kresna Kepakisan diusulkan menjadi penguasa Bali oleh Gajah Mada, Sang Rani Setuju. Siapa Sri Kresna Kepakisan ini? Berdasarkan Babad Dalem dia adalah keturunan Mpu Baradha. Sri Kresna Kepakisan anak Kresna Wangbang Kepakisan anak Danghyang Kepakisan anak Mpu Tantular anak Mpu Bahula anak Ida Mpu Baradha. Jika ditarik ke atas lagi, Ida Mpu Baradha anak Danghyang Tanuhun/Mpu Lumpita anak Danghyang Bajrasatwa.
    .
    Pemilihan Sri Kresna Kepakisan sebagai penguasa Bali setelah kekalahan Bali seperti yang dikisahkan dalam Babad Arya Kotawaringnin bukan pilihan acak. Gajah Mada terlihat tahu betul garis darah Sri Kresna Kepakisan. Prof. Munandar menyebut bahwa pengetahuan tersebut dia dapat saat masih menjadi patih di Kediri. Saya lebih suka mengatakan bahwa pengetahuan Gajah Mada tentang garis darah Sri Kresna Kepakisan karena dia satu garis keturunan dengan penguasa tanah Bali itu. Bagaimana bisa Gajah Mada satu garis darah dengan Sri Kresna Kepakisan? Karena Gajah Mada adalah putra Ranggalawe; adipati Tuban itu adalah keturunan kedelapan Danghyang Bajrasatwa. Ranggalawe anak Ida Wangbang Banyak Wide anak Ida Wangbang Manik Angkeran anak Mpu Siddimantra anak Mpu Tantular anak Mpu Bahula anak Ida Mpu Baradha anak Mpu Lumpita anak Danghyang Bajrasatwa. Garis darah Gajah Mada dan Sri Kresna Kepakisan berpisah pada Mpu Tantular.
    .
    Kedua, Gajah Mada adalah orang yang membangun prasasti di Candi Singasari, sebuah bangunan caitya yang isinya untuk memperingati gugurnya Kertanegara dan para sentananya ketika membela negara. Beberapa ahli sejarah menyebut, pembangunan itu dilakukan oleh Gajah Mada karena alasan bahwa mahapatih itu sangat mengagumi Kertanegara, mereka sama-sama punya cita-cita menyatukan Nusantara. Kertanegara dengan proyek Cakrawala Mandala, sedangkan Gajah Mada dengan proyek Sumpah Palapa. Namun ada juga yang mengatakan bahwa Gajah Mada mungkin masih keturunan Prabu Kertanegara, salah satunya Prof. Munandar di atas. 

    Caitya umumnya dibangun oleh keluarga/keturunan tokoh bersangkutan. Caitya Prabu Wisnuwardhana (Candi Jago) dibangun Kertanegara dan diperbaiki oleh Adityawarman pada 1265. Caitya Wijaya (Candi Sumberjati) dibangun Jayanegara pada 1321. Caitya Rajapatni Gayatri (Candi Bhayalango) dibangun oleh Hayam Wuruk pada 1362. Alasan ini yang digunakan untuk menyebut ibu Gajah Mada dalam Novel Ranggalawe adalah Tribuwaneswari, janda Ardaraja, putri pertama Prabu Kertanegara. Mengapa Tribuwaneswari? Karena dialah perempuan yang diantar Ranggalawe pulang ke Jawa dari pengungsian di Sumenep, dititipkan di Tuban selama masa pengasingan sampai Majapahit berdiri.
    .
    Ketiga, ada adagium Jawa yang berbunyi “trahing kesuma rembesing madu cedhak turune atapa” (orang hebat [kesuma] selalu barasal dari moyang yang hebat [rembesing madu] dan keturunan pertapa). Saya meyakini Gajah Mada keturunan orang hebat, kalau tidak dari ibunya pasti dari bapanya. Ranggalawe sendiri adalah keturunan orang-orang hebat baik dari garis bapaknya (Danghyang Bajrasatwa) dan garis ibunya (Prabu Banjaransari).
    .
    Jika analisis ini benar bahwa Gajah Mada adalah anak Ranggalawe dan Tribhuwaneswari, maka dalam tubuh Gajah Mada mengalir darah kehebatan Mpu Sindok, pendiri Wangsa Isana; juga kesaktian pendeta dugdeng Danghyang Bajrasatwa; juga kecemerlangan Airlangga (Wangsa Isyana) dan kesaktian Mpu Baradha; juga keberanian Ken Angrok, pendiri Wangsa Rajasa, sekaligus kehebatan Kertanegara yang berasal dari wangsa Sinelir; dan tentu saja darah kecerdikan Wiraraja, ayah Ranggalawe. (1n*)
    .
    Makinuddin Samin (penulis novel sejarah Ranggalawe: Sang Penakluk Mongol).
    .

    No comments

    Selamat datang di Portal Berita www.tanamonews.com : Legalitas perusahaan media SIUP. No. SK 0075/03.07/MK/SIUP/V/2017-TDP. No. : 03.07.3.58.05437-IG. No. SK : 1078/IG-NI/DPMPTSP/V/2017 - NPWP. Badan : S-4488KT/WPJ.27/KP.0403/2017 - Diskominfo : 555.166/Diskominfo/IV-2017-Surat Domisili : 470/44/APK-IV/2017. Bank Nagari : 2100.0210.45535-821039217 dan BRI : 5466-01-017035-53-8 a/n Pt. Tanamo Media Inter Pers, atas nama segenap redaksi dan Pimpinan Pt. Tanamo Media Inter Pers, mengucapkan Terima kasih telah berkunjung.. tertanda: Owner, Pendiri dan Direksi : Indra Afriadi dan Pemimpin Redaksi : Robby Octora Romanza