Ticker

6/recent/ticker-posts

Ta’lim Wa Muta’alim Dan Pendidikan Karakter

Kalaulah kail panjang sejengkal, jangan lautan hendak di duga, kalaulah pandai gunakan akal, budi pekerti gunakan juga. (Pantun Nasehat Melayu)

Oleh: Nanang Sumanang, Guru Sekolah Indonesia Davao

Tanamonews | Pantun itu sepertinya sedang mengingatkan dunia pendidikan kita yang kurang menghasilkan manusia-manusia yang berpendidikan dan berkarakter. Dengan sangat mudah kita akan mendaparkan berita orang-orang pintar yang tidak mempunyai integritas sehingga dengan kepintarannya banyak nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, berani, malu dan sebagainya terpupus oleh hasrat nafsu duniawi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud karakter adalah:  tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak. Sementara kepribadian adalah: sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain. (KBI edisi elektronik, 2008). Keduanya mempunyai kesamaan yaitu sama-sama yang dimiliki dan membedakan dengan orang lain.

Macionis (2006) mengartikan kepribadian sebagai pola tindakan, pemikiran, dan perasaan seseorang yang cukup konsisten, konsisiten antara status dan peran (role) dalam masyarakat. Kepribadian merupakan kesatuan antara pemikiran (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action) Kepribadian ini terbentuk dari sosialisasi (penanaman nilai) yang dimulai dari keluarga, sekolah, teman bermain, media massa, teman kerjanya dan sebagainya.

Fungsi dan tujuan pendidikan dalam Undang-Undang No 20 tahun 2003 yang dijabarkan oleh Kurikulum 2013 ke dalam Kompetensi Inti (KI) 1 dan 2 memuat penguatan karakter pada setiap mata pelajaran seperti; Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif dan cinta damai. Pengembangan karakter tersebut bukan pelajaran tersendiri yang terpisah, tapi menjadi satu dengan mata pelajaran diajarkan oleh setiap guru.

Ryan dan Lickona menyatakan bahwa inti dari pendidikan dan pengajaran pembangunan karakter adalah “Respect” menghormati; hormat kepada diri sendiri, hormat kepada orang lain, hormat kepada lingkungan, hidup dan kehidupan dimana akan melahirkan kesadaran kesederajatan yang berharga.

Kitab Ta’lim Muta’allim atau lengkapnya Ta’lim wa Muta’allim Thariq at Ta’allum adalah sebuah kitab yang sangat mahsyur di dunia pesantren dan madrasah taradisional di Indonesia. Kitab yang ditulis oleh seorang yang sangat alim dari Turki as Syekh Burhanuddin Ibrahim al Zarnuji al Hanafi ini memuat tentang bagaimana cara seorang murid belajar dengan cara mengindahkan akhlaq, sehingga tujuan sesungguhnya dari menuntut ilmu yaitu mendapatkan ilmu yang penuh dengan keberkahan dan menjadi manusia yang berkarakter, yang sangat menghormati guru, teman, lingkungannya serta tanggap dengan situasi yang ada bisa tercapai.

Kitab ini diawali dengan pengantar yang sangat bagus sekali yaitu penyadaran bagi para murid, agar bisa mendapatkan ilmu, kemanfaatan dari ilmu dan menyebarkannya haruslah tahu tata cara bagaimana mendapatkan ilmu tersebut. 

Secara garis besar, Syekh Az Zarnuji membahas hal tersebut ke dalam tiga belas pasal pembahasan: Pertama Hakekat ilmu, Fiqh dan Fadhilahnya (keutamaannya). Kedua niat dalam mencari ilmu. Ketiga cara memilih ilmu, guru, teman dan ketekunan. Keempat cara menghormati ilmu dan guru. Kelima bersungguh-sungguh, istiqomah dan bercita-cita yang luhur. Keenam ukuran dan urutannya. Ketujuh tawakal. Kedelapan waktu belajar. Kesembilan saling mengasihi dan saling menghormati. Kesepuluh mencari tambahan ilmu. Kesebelas bersikap wara’ dalam menunutut ilmu. Keduabelas hal-hal yang dapat menguatkan hapalan/ pemahaman dan melemahkannya. Ketigabelas membahas hal-hal yang bisa mempermudah datangnya rezeki dan yang menghalanginya.

Hubungan Pendidikan Karakter dalam Sistim Pendidikan Nasional yang harus diajarkan dan dipraktekan pada setiap pelajaran yang diberikan kepada murid, dengan pendidikan  karakter pada kitab Ta’lim  Muta’allim sangatlah sangat erat hubungannya. Hal ini bisa kita lihat dari pasal-asalnyanya antara lain: 

Religius: Pada pasal pertama dan pasal kedua yaitu tentang Hakikat Ilmu, Fiqh dan Keutamaannya, serta Niat dalam Menuntut Ilmu Syekh Az Zarnuji mengatakan antara lain bahwa seorang murid harus mengetahui benar-benar keutamaan sebuah ilmu. Orang yang belajar menuntut ilmu itu bagaikan nabi Adam AS yang diberikan kemuliaan oleh Allah SWT di atas para makhluknya yang lain. Bahwa menuntut ilmu itu adalah perbuatan yang sangat mulia, sehingga akan mempengaruhi niat dan semangat seorang murid menuntut ilmu, maka seorang yang menuntut ilmu haruslah diniatkan hanya untuk mencari ridlo Allah semata, berniat untuk menghilangkan kebodohan dalam dirinya dan orang lain, serta menghidupkan agama dan untuk mensyukuri nikmat akal sehat dan kesehatan yang diberikan Allah SWT. Syekh Az Zarnuji juga mengintakan agar para murid dilarang untuk mencari kedudukan, dan pengaruh di masyarakat maupun di sisi penguasa. 

Menurutnya ilmu dibagi menjadi empat bagian; yang wajib dipelajari secara individu (fardlu ‘ain), yang wajib dipelajari secara kelompok (fardlu kifayah), yang haram dipelajari, dan yang boleh dipelajari. Dituliskan juga bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu hal (Fardlu ‘ain) dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku. Disini Syekh Az Zarnuji menanamkan kepada para murid untuk selalu melaksanakan ibadah fardlu ‘ain dan bertingkah laku yang baik dan penuh dengan budi pekerti. 

Jujur: Dalam hal ini Ta’lim Muta’allim mengajarkan agar murid para murid dan guru mempunyai sifat jujur dalam segala hal. Murid dianjurkan untuk bermuzakarah (berdiskusi/ belajar bersama, mengingat-ingat kembali, mengambil manfaat dari apa yang sudah diajarkan oleh gurunya), bermunadharah (berdebat dengan akal sehat dan hati nurani) dan bermuthaharah. Maka dalam tahapan bermuzakarah harus adanya kejujuran apa yang ada di dalam hati, di dalam pikiran, di dalam ucapan dan tindakan tidak boleh ditutupi dihadapan gurunya agar gurunya bisa mengingatkan kembali (Pasal keenam). Jujur merupakan dasar dari akhlak mulia, maka kejujuran merupakan inti budi pekerti.

Toleransi, disiplin, demokrasi dan kerja keras: Karakter ini dibahas dalam banyak pasal pada Ta’lim wa Muta’allim antara lain pada pasal lima dan pasal ke enam yaitu tentang bersungguh-sungguh, tekun dan semangat serta tahap awal, ukuran dan urutan belajar. Dalam pasal ke enam disebutkan agar para murid terbiasa untuk Muzakarah (berdiskusi), bermunadhorah (berdebat) dan bermuthaharah. Dikatakn bahwa baik dalam berdiskusi maupun berdebat para murid tidak boleh gaduh, tidak emosi, dan harus berpikir tenang dan rasional. Karena berpikir tenang itu adalah tiangnya musyawarah. Tujuan berdiskusi dan berdebat yang halal adalah untuk mencari kebenaran, diluar tujuan tersebut maka hukumnya tidak halal. Karena ilmu itu adalah sangat agung, maka untuk mencarinya harus bersungguh-sungguh dan bekerja maka baik murid, guru, orang tua dan masyarakat harus benar-benar bersungguh-sungguh untuk menyiapkannya. Manusia itu ada tiga macam: Manusia sempurna, yaitu manusia yang pendapatnya benar dan suka bermusyawarah. Manusia setengah sempurna, yaitu manusia yang pendapatnya benar tapi tidak suka bermusyawarah. Dan yang ketiga adalah manusia tidak sempurna sama sekali, yaitu yang pendapatnya salah dan tidak suka bermusyawarah. Syekh Az Zarnuji juga mengingatkan kepada para murid waktu-waktu yang sangat baik untuk belajar.

Kreatif dan mandiri: Dalam Ta’lim Muta’allim seorang murid harus tahu tentang kemampuannya sendiri sebelum melanjutkan pendidikan selanjutnya. Untuk mengetahui kompetensinya seorang murid harus kreatif menggali potensi yang ada dan juga merangcang pembelajaran berikutnya secara mandiri. Agar murid kreatif maka dilarang tidur pagi-pagi, mengurangi makan, banyak membaca, dan mengurangi tidur. Ini juga merupakan latihan self control dan latihan pemberdayaan diri.

Semangat kebangsaan dan cinta tanah air secara dzohir memang tidak dibahas oleh Syekh Az Zarnuji, tapi secara tersirat banyak sekali Az Zarnuji dalam kitabnya Ta’lim wal Muta’allim mengajarkan kepada para murid untuk selalu mensyukuri nikmat Allah yang tiada terkira, termasuk nikmat bertanah air yang merdeka. Bagi Syekh Az Zarnuji cinta kepada tanah air harus lahir dari perasaan yang dalam, diucapkan dan dibuktikan dengan perbuatan. Pembuktian cinta kepada tanah air para murid adalah dengan belajar yang baik, dengan ikhlas dan niat yang baik juga, sehingga menghasilkan manusia-manusia yang berkarakter.

Menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif dan cinta damai. Dalam pasal ke Sembilan yaitu tentang kasih sayang dan nasehat, Syekh Az Zarnuji mengingatkan kepada para murid agar jangan pernah iri terhadap teman yang lain. Harus menghargai prestasi orang lain. Harus memiliki rasa kasih sayang, menghindari sekecil apapun permusuhan, dan menghindari berburuk sangka.

Dilihat dari sisi ini, maka sesungguhnya kitab Ta’lim  Muta’allim sangat baik untuk diajarkan pada sekolah-sekolah. Agar tujuan pendidikan berkarakter ini bisa berjalan dengan baik dan sukses menghasilkan produk manusia yang berkarakter, maka kitab Ta’lim wa Muta’allim wajib diajarkan (cognitive) dengan baik, bisa dirasakan (felling) dengan contoh dari guru dan masyarakat sekitarnya, setelah tersosialisasi dan terinternalisasi dengan baik, maka murid akan mengerjakan (action) sifat-sifat yang baik tersebut sehingga menghasilkan manusia yang berkarakter.

“Siapa yang menuntut ilmu untuk akherat, tentu akan mendapatkan anugerah kebenaran. Dan kerugian besar bagi orang yang menuntut ilmu hanya karena mencari kedudukan di masyarakat”.(Syair Imam Hammad bin Ibrahim bin Ismail Assyafar al Anshari dalam kitab Ta’lim wa Muta’allim). (Ind-Red).

Posting Komentar

0 Komentar

"Tanamonews TV Channel"





Welcome to Thank's