Ticker

6/recent/ticker-posts

Duduak Marauik Ranjau, Tagak Maninjau Jarak, Islam dan Spirit Kewirausahaan

"Duduk Meraut Ranjau, Berdiri Meninjau Jarak" (Pepatah Minang)

Oleh : Nanang Sumanang, Guru Sekolah Indonesia Davao di Filipina

Tanamonews | Teringat dulu, penulis ketika masih menjadi mahasiswa, mendengarkan Nurcholis Majid, menyampaikan pentingnya kewirausahaan kaitannya dengan hijrah seseorang.

Diawali ceritanya beliau dari sejarah Imlek, yaitu suatu ungkapan kebahagiaan masyarakat di Cina dalam menyambut musim semi, dimana pada bulan Januari salju-salju sudah mulai mencair, tunas-tunas muda pepohonan mulai muncul dan itu tandanya waktu bercocok tanam akan dimulai. 

Mereka ungkapkan kegembiraan dalam sebuah pesta dimana kesenian agraris yang terbungkus dengan kepercayaan menjadi satu. Artinya bahwa masyarakat Cina awalnya adalah para petani bukan pedagang.

Pesta ungkapan kegembiraan apabila mulai bercocok tanam juga bisa didapati pada msayarakat agraris dimana saja. Pesta ini dibalut dengan puja-puji disertai doa kepada Yang Maha Esa agar tumbuhannya nanti berhasil dengan baik. 

Ungkapan puja-puji serta permohonan agar usahanya diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa juga dilakukan oleh bangsa-bangsa lain. Spanyol misalnya, juga merayakan pesta ketika mereka akan berlayar ke suatu tempat, atau ketika sampai daerah yang dituju dengan cara menyembelih sapi (carne) untuk dimakan bersama-sama, yang akhirnya kebiasaan tersebut menjadi perayaan yang kita kenal sebagai Carnival atau Carnaval.

Menarik dicermati adalah bahwa ketika bangsa Cina bermigrasi ke daerah lain, diikuti dengan adanya perubahan perilaku dari masyarakat agraris menjadi masyarakat pedagang.  

Sebagai pendatang, tentunya mereka tidak akan mudah dan sesegera mungkin dapat memiliki tanah baik sebagai lahan pertanian, maupun sebagai tempat usaha, karena mereka adalah pendatang. 

Maka cara yang paling mudah dilakukan adalah merubah kebiasaan bertani menjadi kebiasaan berdagang, yaitu menjadi distributor/ perantara antara petani penghasil kepada konsumen, dengan mengambil keuntungan. 

Menjadi pedagang ini awalnya tidak memerlukan modal yang besar, yang harus dikembangkan adalah kemampuan berkomunikasi yang baik, serta bagaimana mendapatkan kepercayaan dari produsen maupun konsumen. 

Kegiatan berdagang kemudian diwariskan secara turun temurun dan menjadikan orang-orang Cina di masyarakat agraris lebih banyak menjadi pedagang. 

Islam lahir dan tumbuh berkembang di jazirah Arab yang masyarakatnya adalah pedagang. Selain Rasulullah sebagai pedagang yang handal, Chadijah yang Agung juga seorang pedagang yang bisnisnya melintasi antar negara. Para sahabatnyapun demikian : Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Amr bin Ash dan yang sangat fenomenal adalah Abdurrahman bin Auf, yang ketika hijrah ke Madinah, beliau nggan menerima bantuan dari kaum Anshar, tapi lebih suka mencari pasar.

Karena ayat-ayat al-Qur’an turun pada masyarakat pedagang, maka tentunya untuk memudahkan pemahaman, Allah SWT banyak menggunakan term-term perdagangan dalam firmnaNya. Maka kita akan temukan ayat-ayat perdagangan yang banyak dalam al-Qur’an. 

Suarat al-Lail ayat 1-4 menceritakan bahwa usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya berlainan. Surat al-Quraisy juga menceritakan tentang perjalanan para pebisnis melintasi jazirah Arab yang dijamin makanannya dan keamanannya oleh Allah SWT. 

Ayat pertama turun adalah surat al-‘Alaq ayat 1-5, dimana kita disuruh membaca dengan menyebut TuhanMu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. 

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ayat ini memerintahkan kepada kita agar mempunyai literasi yang baik, literasi yang bukan hanya tekstual, tapi juga kontektual, dimana alam jagat raya ini merupakan ayat-ayat Allah juga.

Surat al-Baqarah ayat 245 berbunyi “Man dzalladzii yuqridlullaaha qordlon hasanan, fayudloo’ifahu lahu adl’aafan katsiirotan…”Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. 

Kata kata Qordlon ini kemudian bertransformasi menjadi kata kredit yang berarti pinjaman, dimana dalam sistim perdagangan modern sekarang ini hampir sulit pengusaha-pengusaha besar tidak memanfaatkan kredit.

Ayat ini turun diawali dengan suatu peristiwa dimana ada dua orang bertetangga berkelahi memperebutkan sebatang pohon kurma. Salah seorang ingin memagar tanahnya, tetapi terhalang oleh pohon kurma lainnya, yang tumbuh melewati pekarangannya. 

Hal ini sampai kepada Rasulullah SAW. Lalu baginda Rasul berkata “Berikanlah batang kurma itu kepada saudaramu (agar ia bisa memagar tanahnya), engkau akan mendapatkan ganti sebuah kebun kurma di surge” tetapi sipemilik pohon kurma tidak mau. 

Mendengar baginda Rasul berkata demikian, tiba-tiba datang sahabat, Abu Dahdah, bertanya kepada Rasulullah “Benarkah demikian yang engkau katakana ya Rasulullah?” Lalu Rasulullah mengiyakan. 

Dengan segera, Abu Dahdah mendatangi sipemilik pohon kurma tersebut untuk ditukarkan dengan kebun kurma miliknya. Seperti diketahui kebun kurma Abu Dahdah berisi 600 batang kurma, dan berisi sumur, serta rumah yang cukup baik. Lalu memberikan kepada pemilik tanah untuk  memagar tanahnya.

Ia kemudian berbegas menemui keluarganya agar keluar dari rumahnya yang berada dalam kebun kurma tersebut. Istri Abu Dahdah dan keluarganyapun sangat senang, karena sudah berbisnis dengan Allah, dan pasti akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar.

Dalam an-Nisa ayat 97-100 menarik untuk dicermati. Bahwa tidak ada alasan bagi siapapun hidup dalam keadaan yang lemah (baik ekonomi, politik, budaya dsb) ataupun dilemahkan. 

Malaikat mengatakan bahwa bukankah bumi Allah itu luas, maka berhijrahlah untuk mencari hidup yang lebih baik, karena sesungguhnya orang yang berhijrah di jalan Allah itu pasti akan mendapatkan “muroghoman katsiiron” rezeki yang banyak “wa sa’atan” keleluasaan, kemudahan.

Mengutip Imam Syafi’I RA beliau berkata “Bukankah kayu gaharu itu tidak bernilai di tempatnya, dan akan mahal kalau sudah keluar dari tempatnya. Pedang itu akan terlihat tajam apabila sudah keluar dari sarungnya, dan anak panah akan terlihat lancip apabila sudah lepas dari busurnya.

Dari berhijrah inilah kemudian peradaban Islam dibangun dan menyumbangkan ilmu pengetahuan yang banyak kepada dunia, juga bahasa. Cotton berasal dari kata Qothnun yang berarti kapas. 

Earth berasal dari kata Ardlun, Jewelry berasala dari kata Jawahir, Tamarin yang berarti asam berasal dari kata Tamar yang berarti korma, hanya karena Vasco da Gama mengira bahwa asam di India itu adalah buah kurma. 

Sugar dari kata Sukar yang berarti gula, Canon dari kata Qonun, Duane dari kata Diwan dan sebagainya, apatah lagi lagi serapan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia, nama haripun hampir semuanya berasal dari bahasa Arab dan lain-lain.

Ada sebuah hadits, sekalipun status hadist ini dloif, kalaupun bukan hadits, tapi perkataan ini sangat menginspirasi kita agar bahwa Allah mmpunyai 10 pintu rezeki dan 9 pintu rezeki adalah perdagangan.

Bukankah negara yang maju porsi pertaniannya lebih kecil dari porsi jasa/ perdagangan.

Untuk merebut kembali kejayaan umat Islam, kiranya saat ini harus diingatkan kembali jati diri umat Islam, yaitu umat yang mempunyai tradisi kuat dalam berniaga dan berkemajuan- berkeadaban.

Perubahan tingkah laku serta orientasi tentunya akan memakan waktu yang cukup lama. Proses sosialisasi diawali dari rumah, dimana nilai-nilai keislaman dan kewirausahaan sudah mulai ditumbuhkan. 

Peran orang tua sangat penting untuk tidak memaksakan kehendaknya agar anak-anaknya menjadi pegawai, apalagi dengan cara mengijinkan sogok menyogok. Berikan pemahaman bahwa masa depan bukan hanya menjadi pegawai, dan untuk berbakti kepada nusa, bangsadan agama juga bisa lewat wirausaha.

Selain sosialisasi di rumah, sosialisasi dan internalisasi dilakukan juga dari mulai kurikulum pendidikan keIslaman harus diarahkan untuk menjadikan para siswa-siswinya mandiri, berkreasi, berinisiatif, dan mempunyai jiwa kewirausahaan yang tinggi dengan nilai-nilai yang Islami : jujur, kerja keras, mencintai proses, dan mensyukuri hasil. Pemagangan dan pembimbingan dalam dunia usaha harus dilaksanakan secara bersama-sama dan berkesinambungan.

Pendidikan Literasi dan Numerasi yang baik, terutama untuk membaca situasi dan kondisi serta respon terhadap perubahan jaman yang begitu cepat tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Menumbuhkan jiwa berani mengambil keputusan, berani meninggalkan kemapanan untuk mencoba hal-hal yang baru, dan berorientasi ke masa depan. 

Dengan ekonomi yang kuat, serta sikap mental yang lebih mengutamakan kehidupan akherat, sehingga tidak diperbudak oleh harta, akan menjadikan umat Islam unggul dalam segala hal.

Selamat berwira-usaha. Mulailah dari sekarang, dari hal yang kecil akan tumbuh menjadi besar, dari hal yang sederhana akan menjadi seuatu yang luar biasa. Selamat menempuh keberkahan hidup. (Indra).

Posting Komentar

0 Komentar

"Upaya Pemprov Sumbar Membangkitkan Ekonomi dimasa Pandemi Covid-19"



Welcome to Thank's