Ticker

6/recent/ticker-posts

Keunikan Singgasana Istana Basa Kerajaan Minangkabau Yang Jarang Diketahui Orang

TANAMONEWS = TANAHDATAR, SUMBAR | Istano Basa Pagaruyung yang berada di Provinsi Sumatera Barat,  Kabupaten Tanahdatar, Kecamatan  Tanjung Emas adalah saksi nyata  keberadaan Kerajaaan Minangkabau di masa lampau yang hingga sekarang masih bisa kita ditemui.

Banyak sejarah yang bisa dipelajari dan kita petik Ilmunya dari berbagai  peningalan - peninggalan yang berada di Istana Basa Pagaruyung. Walaupun bangunan yang sekarang bukan lagi bangun asli namun replika - replikanya hampir 100 persen menyerupai bangunan asli di masa lalu.

Keindahan dan keunikan  peninggalan  istana kerajaan Minangkabau ini, telah berhasil menarik wisatawan - wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satu dari  sekian banyak keunikan yang ada di istana tersebut yaitu, sebuah Singgasana kerajaan yang berada di lantai satu.

Berbeda dengan Singgasana di kerajaan - kerajaan lain yang ada di indonesia yang biasanya Singgsana tersebut diduduki oleh seorang raja atau ratu yang memerintah saat itu.

Namun berbeda halnya dikerajaan Minangkabau, Singgasana hanya  di peruntukan untuk Ibunda Raja atau yang biasa di panggil dengan Bundo Kanduang, sedangkan tempat duduk raja hanya di depan kamarnya.

Hal tersebut tentu menjadi tanda tanya bagi semua orang   yang suka sejarah. Dan alasan ibunda raja  yang menduduki Singgasana kerajaan di karenakan di Minangkabau menganut garis keturanan matrilineal  yaitu garis keturanan menurut perempuan atau ibu, jadi di minang di dalam rumah yang sangat berperan itu adalah perempuan. 

Dan bahkan  juga ada sebuah istilah di minang kalau perempuan itu adalah induk bareh yang berarti perempuan menjadi sosok yang terpenting dalam kehidupan di dalam adat  minangkabau. Dan oleh karna itu di dalam Istana yang mengatur adalah perempuan atau bundo kanduang.

Sedangkan seorang  raja lebih punya power atau  kekuasaan diluar istana dalam menjalankan memerintah. Bahkan sampai  tongak tuo atau tiang utama yang berdiri tegak berwarna kuning yang  berada di samping  Singgasana  adalah sebuah  simbolisasi dari Bundo Kanduang yang memiliki arti adalah  sosok yang penting dalam suatu rumah, kluarga atau adat. 

Dan di zaman itu ketika  seorang  tamu yang  ingin bertemu dengan raja atau dengan kluarga kluarga raja  harus terlebih dahulu meminta izin kepada Ibunda raja yang berada di singgasana tersebut.

Jadi Singgsana Kerajaan  Minangkabau yang di tempati oleh ibunda raja mengambarkan tentang posisi seorang perempuan yang memiliki peran penting  di dalam  adat Minangkabau.  (Nasriadi)

Posting Komentar

0 Komentar

"PITUAH PITARUAH DARI YUS DATUAK PARPATIAH, ADAT ISTIADAT MINANGKABAU"



Welcome to Thank's