PIMRED : ROBBY OCTORA ROMANZA (WARTAWAN UTAMA)

6/recent/ticker-posts
"SEBAR LUASKAN INFORMASI KEGIATAN DAN PROMOSI USAHA ANDA DISINI"

Balimau Paga di Painan, Jejak Adat yang Dihidupkan Kembali Menjelang Ramadan

Painan, Tanamonews.com – Pagi itu, halaman Mesjid Akbar Baiturrahman Painan dipenuhi wajah-wajah penuh khidmat. Langkah masyarakat yang datang silih berganti menghadirkan suasana sakral dalam tradisi Balimau Paga, Senin (16/2) sebagai penanda datangnya Ramadan 1447 Hijriah.

Tradisi yang telah lama berakar di tengah masyarakat Nagari Painan ini kembali menjadi ruang pertemuan antara adat, agama, dan kebersamaan. Balimau Paga bukan sekadar agenda tahunan, tetapi peristiwa budaya yang memanggil ingatan kolektif tentang jati diri masyarakat Minangkabau.

Di tengah kerumunan itu, hadir Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, bersama unsur Forkopimda dan berbagai elemen masyarakat. Kehadirannya bukan hanya seremonial, melainkan wujud komitmen pemerintah daerah dalam merawat warisan adat yang terus hidup.

Turut hadir pula anggota DPRD dari Dapil I Pesisir Selatan, Ketua LKAAM Pesisir Selatan, Ketua KAN Nagari Painan Syafrizal Ucok, para ninik mamak, serta Bundo Kanduang. Mereka berdiri dalam satu barisan nilai yang sama: menjaga marwah adat di tengah perubahan zaman.

Balimau Paga secara harfiah dimaknai sebagai kegiatan membersihkan pagar makam leluhur menjelang Ramadan. Namun lebih dari itu, ia adalah simbol pembersihan diri—lahir dan batin—sebelum memasuki bulan suci.

Dalam sambutannya, Hendrajoni menyampaikan bahwa tradisi ini adalah bagian dari identitas masyarakat Pesisir Selatan yang tidak boleh luntur oleh arus modernisasi. Ia menyebut Balimau Paga sebagai refleksi hubungan manusia dengan sejarah dan spiritualitasnya.

“Balimau Paga bukan sekadar ritual membersihkan pagar kuburan, tetapi simbol nilai-nilai luhur yang kita warisi dari nenek moyang,” ujarnya di hadapan para tokoh adat dan masyarakat yang hadir.

Bagi masyarakat Minangkabau, menghormati leluhur bukan sekadar mengenang, tetapi juga mendoakan dan menjaga tempat peristirahatan terakhir mereka. Nilai ini menjadi pengikat antara generasi terdahulu dan generasi masa kini.

Hendrajoni menegaskan, ada pesan moral yang kuat dalam setiap gerakan membersihkan pagar makam. Pagar yang dibersihkan menjadi perlambang hati yang harus disucikan sebelum memasuki Ramadan.

Ia menyebutkan, setidaknya ada tiga makna utama dalam tradisi Balimau Paga yang terus relevan hingga kini. Pertama, sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi para leluhur.

Kedua, sebagai ajang mempererat silaturahmi dan memperkuat semangat gotong royong. Di tengah masyarakat yang semakin individualis, momen seperti ini menjadi pengikat sosial yang sangat berarti.

Ketiga, sebagai persiapan spiritual menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih dan niat yang lebih lurus. Tradisi ini mengajarkan bahwa perjalanan ibadah dimulai dari kesadaran diri.

“Membersihkan pagar adalah simbol dari membersihkan hati kita dari segala kotoran dan dosa,” tegas Hendrajoni, yang disambut anggukan setuju dari para ninik mamak.

Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan daerah tidak harus identik dengan meninggalkan adat. Justru, menurutnya, pembangunan yang kokoh adalah pembangunan yang berakar pada nilai budaya.

Kepada generasi muda, ia berpesan agar tidak sekadar menjadi penonton dalam tradisi adat. Anak nagari harus berani mengambil peran, memahami makna, dan meneruskan nilai-nilai luhur tersebut.

Balimau Paga, lanjutnya, mengajarkan kepedulian, kebersamaan, dan spiritualitas—tiga hal yang tetap relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat.

Ia pun mengajak ninik mamak dan alim ulama untuk terus membimbing generasi muda agar tetap mencintai adat istiadat. Pepatah “adat nan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek ujan” kembali digaungkan sebagai pengingat akan kekuatan tradisi.

Sementara itu, Ketua LKAAM Pesisir Selatan, Syafrizal Ucok, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan Bupati terhadap pelestarian Balimau Paga. Ia menilai kehadiran kepala daerah memberi makna lebih dalam pada upacara adat tersebut.

Menurut Syafrizal, dukungan pemerintah menjadi energi baru bagi para ninik mamak untuk terus menjaga adat sebagai fondasi moral masyarakat. Ia menyebut sinergi ini sebagai langkah strategis dalam mempertahankan identitas daerah.

“Ini menjadi semangat baru bagi kami kaum ninik mamak. Ketika pemerintah berdiri bersama adat, maka nilai-nilai luhur akan semakin kuat tertanam dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap tradisi seperti Balimau Paga tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diperkenalkan lebih luas sebagai kekayaan budaya Pesisir Selatan yang sarat makna spiritual.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, kata Hendrajoni, akan terus memberikan dukungan terhadap berbagai upaya pelestarian budaya lokal. Ia meyakini bahwa adat dan agama dapat berjalan seiring dalam membangun daerah.

Menjelang akhir acara, suasana khidmat tetap terasa. Doa-doa dipanjatkan, harapan disematkan, dan tekad diperbarui untuk menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih.

Di Painan, Balimau Paga bukan sekadar tradisi. Ia adalah cermin ingatan, jembatan antar generasi, dan pengingat bahwa kemajuan sejati adalah ketika adat tetap dijunjung, dan nilai luhur terus diwariskan. (Adv)

Posting Komentar

0 Komentar





Selamat datang di Portal Berita, Media Online : www.tanamonews.com, atas nama Redaksi mengucapkan Terima kasih telah berkunjung.. tertanda: Owner and Founding : Indra Afriadi Sikumbang, S.H. Tanamo Sutan Sati dan Pemimpin Redaksi : Robby Octora Romanza