PIMRED : ROBBY OCTORA ROMANZA (WARTAWAN UTAMA)

6/recent/ticker-posts
"SEBAR LUASKAN INFORMASI KEGIATAN DAN PROMOSI USAHA ANDA DISINI"

Padang dan Ambisi Menjadi Kota Gastronomi Dunia

Jika berhasil, Padang bukan hanya akan dikenal sebagai kota asal rendang. Ia akan dibaca sebagai kota yang memahami makanannya sebagai cermin peradaban

Oleh: Muhibbullah Azfa Manik

Tanamonews.com - Di Padang, aroma santan dan rempah bukan sekadar penanda dapur yang sibuk. Ia adalah bahasa kebudayaan yang hidup, mengalir dari rumah gadang ke lapau, dari upacara adat ke etalase global. Maka ketika Pemerintah Kota Padang memutuskan mengalihkan lokomotif ekonomi kreatifnya ke subsektor kuliner, keputusan itu bukanlah lompatan mendadak, melainkan pengakuan atas sesuatu yang telah lama berakar. Padang sedang menata ulang wajahnya, bukan sebagai kota yang hanya dikenal lewat sejarah dan pantai, tetapi sebagai simpul gastronomi dunia. 

Apa itu kota gastronomi?

Kota gastronomi adalah kota yang menjadikan makanan dan budaya kuliner sebagai identitas utama, penggerak ekonomi, dan daya tarik dunia — bukan cuma soal enak, tapi juga soal budaya, sejarah, dan keberlanjutan. Biasanya istilah ini dipakai dalam konteks UNESCO Creative Cities Network (UCCN) kategori Gastronomy.

Menggeser Arah, Menegaskan Identitas

Selama beberapa tahun terakhir, seni pertunjukan menjadi subsektor unggulan ekonomi kreatif Padang. Namun peta potensi berbicara lain. Kuliner Minangkabau telah lebih dulu menjelajah dunia melalui jalur informal: perantauan. Warung Padang berdiri di sudut-sudut kota global, dari Jakarta hingga Amsterdam, dari Tokyo hingga New York. Tidak banyak kota yang memiliki diaspora kuliner sekuat itu. Karena itulah, pengalihan fokus ke kuliner lebih menyerupai penegasan identitas daripada perubahan haluan.

Langkah ini juga dibaca sebagai strategi menuju pengakuan internasional, khususnya jejaring Kota Kreatif UNESCO kategori Gastronomi. Status tersebut bukan sekadar label prestisius, melainkan pengakuan bahwa sebuah kota mampu merawat, mengembangkan, dan menjadikan kuliner sebagai ekosistem budaya dan ekonomi yang berkelanjutan.

Rendang dan Bahasa Kesabaran

Di jantung narasi gastronomi Padang, rendang berdiri sebagai simbol. Bukan hanya karena popularitasnya, tetapi karena kedalaman maknanya. Rendang tidak lahir dari kebutuhan cepat. Ia menuntut waktu, ketelatenan, dan penguasaan teknik yang diwariskan lintas generasi. Proses memasaknya yang berjam-jam adalah pelajaran tentang kesabaran, tentang bagaimana api tidak boleh terlalu besar, tentang kapan harus mengaduk dan kapan membiarkan waktu bekerja.

Dalam budaya Minangkabau, rendang juga mengandung filosofi sosial. Daging, santan, cabai, dan rempah dimaknai sebagai representasi elemen masyarakat. Semua berpadu melalui proses musyawarah simbolik di atas api. Maka rendang bukan sekadar makanan, melainkan narasi kebudayaan yang bisa dibaca, dipelajari, dan dipahami.

Gastronomi, Lebih dari Soal Rasa

Di sinilah perbedaan mendasar antara kota kuliner dan kota gastronomi. Gastronomi tidak berhenti pada lidah. Ia berbicara tentang sejarah, lanskap, ekologi, dan struktur sosial. Sebuah kota gastronomi menjadikan makanan sebagai medium untuk memahami dirinya sendiri. Resep tidak hanya dicetak di buku, tetapi hidup di dapur-dapur warga, di pasar tradisional, di ladang, dan di laut tempat bahan baku berasal.

Rendang memenuhi kriteria itu. Bahan-bahannya lokal, tekniknya khas, narasinya kuat, dan transmisinya berlangsung secara organik. Dalam kosakata UNESCO, ini disebut warisan budaya takbenda. Sesuatu yang tidak bisa direplikasi secara instan, karena ia tumbuh bersama masyarakatnya.

Belajar dari Kota Gastronomi Dunia

Padang tidak berdiri di ruang hampa. Di Italia, Parma membangun identitas gastronominya lewat keju dan daging olahan, didukung sistem dokumentasi, pendidikan, dan perlindungan indikasi geografis. Chengdu di Tiongkok mengintegrasikan kuliner Sichuan dengan riset, festival, dan pariwisata berbasis pengalaman. Hatay di Turki merawat kuliner sebagai arsip peradaban lintas etnis. Östersund di Swedia bahkan menjadikan keberlanjutan lingkungan sebagai pusat narasi gastronominya.

Kesamaan kota-kota itu bukan pada jenis makanannya, melainkan pada cara mereka menata ekosistem. Kuliner diposisikan sebagai pengetahuan, bukan sekadar komoditas. Negara dan pemerintah lokal hadir sebagai fasilitator, bukan pengendali rasa.

Keunggulan Padang yang Terlambat Disadari

Padang memiliki keunggulan yang sering luput disadari karena terlalu dekat dengan keseharian. Masakan Minangkabau telah menjadi bahasa global jauh sebelum konsep kota gastronomi populer. Ia menyebar bukan melalui promosi resmi, tetapi melalui perantau. Autentisitasnya terjaga karena tidak tunduk sepenuhnya pada selera pasar global. Rendang tetap rendang, meski berada di negeri yang jauh dari Sumatra Barat.

Di sisi lain, kekuatan ini belum sepenuhnya didukung oleh sistem. Dokumentasi resep masih terfragmentasi. Pendidikan gastronomi belum terstruktur. Festival kuliner kerap bersifat seremonial. Branding internasional berjalan parsial. Di sinilah tantangan Padang jika ingin melangkah dari popularitas menuju legitimasi global.

Antara Ambisi dan Konsistensi

Menjadi kota gastronomi dunia bukan tujuan jangka pendek. Ia menuntut konsistensi kebijakan lintas pemerintahan, kolaborasi dengan komunitas, serta keberanian merawat tradisi tanpa membekukannya. Gastronomi hidup dari perubahan yang berakar, bukan dari inovasi yang tercerabut.

Padang sedang berada di persimpangan menarik. Ia memiliki bahan mentah yang kuat, simbol kuliner yang diakui dunia, dan narasi budaya yang kaya. Yang dibutuhkan kini adalah kesabaran kolektif, seperti memasak rendang itu sendiri. Tidak tergesa-gesa, tidak sekadar mengejar gelar, tetapi membiarkan api kecil bekerja, perlahan, hingga identitas itu matang dan mengikat.

Jika berhasil, Padang bukan hanya akan dikenal sebagai kota asal rendang. Ia akan dibaca sebagai kota yang memahami makanannya sebagai cermin peradaban. Dan di dunia yang semakin seragam rasanya, pemahaman semacam itu adalah kekayaan yang tak ternilai. 


Posting Komentar

0 Komentar





Selamat datang di Portal Berita, Media Online : www.tanamonews.com, atas nama Redaksi mengucapkan Terima kasih telah berkunjung.. tertanda: Owner and Founding : Indra Afriadi Sikumbang, S.H. Tanamo Sutan Sati dan Pemimpin Redaksi : Robby Octora Romanza