Tanamonews.com, Dharmasraya – Di bawah pendar lampu halaman Kantor Wali Nagari Sitiung, Minggu malam (29/03/2026), sebuah harmoni tercipta.
Malam itu bukan sekadar seremoni Halal bi Halal rutin, melainkan sebuah episentrum silaturahmi yang mempertemukan visi besar pemerintah dengan denyut nadi aspirasi rakyat yang murni. Dikutip dari Akun faceebok Nagari Sitiung dan dari berbagai sumber
Kehadiran Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, menjadi magnet yang menyatukan ribuan pasang mata dalam satu frekuensi perjuangan:
Mewujudkan Dharmasraya yang Mandiri, Inklusif, dan Berkeadilan. Manifestasi Kepemimpinan yang "Menjemput Takdir" Rakyat
Bagi Wali Nagari Sitiung, Julisman, kehadiran sang Bupati adalah bukti nyata dari kepemimpinan yang tidak hanya memerintah dari balik meja, melainkan kepemimpinan yang "menjemput bola" hingga ke akar rumput.
Dalam sambutannya yang sarat emosi, Julisman menekankan bahwa dukungan Pemerintah Kabupaten bukan sekadar kalkulasi angka anggaran, melainkan pengakuan tulus atas martabat masyarakat nagari.
"Kami melihat aksi nyata, bukan sekadar orasi. Respon cepat Ibu Bupati terhadap dinamika di Sitiung adalah bahan bakar bagi kami untuk terus bersinergi. Inilah bukti bahwa nagari adalah fondasi utama kemajuan daerah," ujar Julisman penuh haru di hadapan jajaran perangkat nagari dan tokoh masyarakat.
Simpul Zakat: Membasuh Luka, Memuliakan Martabat
Sisi humanis acara ini memuncak saat Bupati Annisa, bersama BAZNAS Dharmasraya, menyalurkan santunan melalui program asnaf.
Di momen ini, pembangunan tidak lagi bicara tentang semen dan aspal yang dingin, melainkan tentang binar mata anak yatim dan ketenangan hati fakir miskin.
Pesan yang tersirat sangat kuat: di bawah kepemimpinan Bupati Annisa, kemajuan material harus berjalan seiring dengan pemuliaan martabat manusia.
Keadilan sosial hadir dalam sentuhan nyata yang merengkuh mereka yang selama ini mungkin terlupakan dalam hiruk-pikuk pembangunan. Sitiung Sebagai "Sabuk Hijau" dan Peran Inklusif Pemuda-Perempuan
Dalam dialog dinamis yang berlangsung hingga larut malam, Bupati Annisa membedah peta jalan (road map) ekonomi dengan visi yang tajam. Ia memposisikan Sitiung sebagai "Sabuk Hijau" (Green Belt) penyangga pangan Dharmasraya.
Tiga pilar strategis yang ditekankan antara lain:
Revolusi Pengairan: Komitmen rehabilitasi irigasi guna menjamin kedaulatan air petani.
Hilirisasi Rakyat:
Mendorong industri pengolahan pasca-panen agar petani memetik nilai tambah dari produk olahan, bukan sekadar menjual gabah mentah.
Inklusivitas Ekonomi:
Mengajak Generasi Z dan Milenial menjadi agropreneur (pengusaha tani modern) serta mendorong kaum perempuan melalui UMKM sebagai benteng ekonomi keluarga.
"Saya ingin memastikan petani di Sitiung menjadi tuan di tanah sendiri. Ekonomi kita harus tumbuh dari bawah—dari tangan kreatif UMKM, inovasi pemuda, dan peluh mulia para petani. Infrastruktur yang kita bangun adalah jembatan menuju kesejahteraan di setiap dapur warga," tutur Bupati Annisa, disambut anggukan mantap para hadirin.
Epilog: Menenun Masa Depan yang Inklusif
Malam ditutup dengan jabat tangan hangat dan swafoto penuh keceriaan yang melarutkan sekat antara pemimpin dan rakyat. Pertemuan di Sitiung ini menyisakan satu pesan fundamental: bahwa pembangunan sejati hanya bisa tegak berdiri jika fondasinya adalah kepercayaan mutual (mutual trust).
Dari Sitiung, optimisme itu bersemi. Sebuah janji untuk terus berjalan beriringan, menenun masa depan Dharmasraya yang tidak hanya gemilang secara fisik, tetapi juga menyentuh setiap relung hati masyarakatnya.(DR)







0 Komentar