Tanamonews.com, Dharmasraya – Angka seringkali hanya menjadi deretan mati di atas kertas. Namun, di tangan Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, angka-angka itu menceritakan sebuah narasi kebangkitan yang nyata.(09/04/26)
Dalam kurun satu tahun kepemimpinannya, Dharmasraya yang sebelumnya berada di posisi juru kunci pertumbuhan ekonomi, kini melesat ke posisi puncak, melampaui rata-rata pencapaian di Sumatera Barat.
"Mandiri itu berarti mampu menggenjot potensi lokal. Alhamdulillah, tren PAD (Pendapatan Asli Daerah) kita positif. Di tahun 2025 saja, peningkatan kita mencapai Rp22 miliar, dan itu baru permulaan," ujar Annisa dengan nada optimis saat memaparkan capaian daerah dalam Musrenbang Kabupaten baru-baru ini.
Membasuh 'Rapor Merah' Menjadi Prestasi
Menoleh ke belakang pada tahun 2024, kondisi makro Dharmasraya sempat dibayangi "rapor merah" dari Bapperida Provinsi. Kala itu, Dharmasraya berada di peringkat ke-19 dari 19 kabupaten/kota dalam hal pertumbuhan ekonomi.
Tingkat pengangguran terbuka pun berada di posisi ke-16 tertinggi. Namun, peta itu kini berubah total. Memasuki tahun 2025, Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Dharmasraya melakukan lompatan kuantum.
DATA TRANSFORMASI DHARMASRAYA (2024 - 2025)
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE): Dari Peringkat 19 (Terendah) melompat ke Peringkat 2 se-Sumatera Barat. Pendapatan Asli Daerah (PAD): Kenaikan signifikan sebesar Rp22 Miliar. Sektor Sawit: Kucuran bantuan & replanting senilai Rp50+ Miliar.
Rapor Makro: Dari 3 indikator merah, kini tersisa 1 indikator yang terus diperbaiki intensif. "Dulu kita lapor merah di tiga sektor utama: IPM, pengangguran, dan ekonomi. Sekarang, untuk ekonomi, kita sudah berbalik unggul," jelas Annisa.
Strategi 'Hilirisasi' dan Sentuhan ke Akar Rumput:
Keberhasilan ini bukan kebetulan. Annisa mengungkapkan bahwa kuncinya ada pada stimulus sektor utama: Sawit dan pertanian. Pemerintahannya menggelontorkan bantuan pupuk dan program replanting senilai lebih dari Rp50 miliar melalui dukungan BPDPKS.
Saat harga sawit membaik, ekonomi masyarakat langsung terakselerasi karena pondasi produksinya telah diperkuat. Tak hanya sawit, Annisa jeli melihat peluang dari kebijakan nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menyadari kebutuhan telur dan ikan yang melonjak, ia mengarahkan APBD melalui program One Village One Product (OVOP). "Kita tidak ingin ekonomi kita 'bocor' ke luar daerah.
Selama ini kita punya sawit, tapi telur dan beras masih beli dari luar. Melalui BUMD Pangan dan pembangunan Rice Milling Unit (RMU), kita ingin gabah petani kita diolah di sini, dibranding di sini, dan dinikmati oleh orang kita sendiri," tegasnya.
Menatap Masa Depan: Industri dan Kemandirian
Visi Annisa ke depan jauh melampaui sekadar angka. Ia tengah menyiapkan pembentukan BUMD Pertambangan dan BUMD Pangan. Salah satu target ambisiusnya adalah membangun Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik daerah.
Dengan surplus lahan sawit seluas 22.000 hektar yang belum terakomodasi pabrik lokal, ia mengajak para investor untuk melirik Dharmasraya. "Kita adalah salah satu penghasil sawit terbesar. Kita ingin nilai tambah industri pengolahan itu tinggal di sini, di kantong-kantong masyarakat kita," tambahnya.
Di sektor fiskal, potensi kenaikan PAD dari sektor mineral galian C dan pajak permukaan air juga terus diperketat melalui perbaikan database dan kolaborasi dengan Forkopimda. Targetnya jelas: memastikan setiap rupiah dari kekayaan alam Dharmasraya kembali untuk pembangunan daerah.
Penutup: Menjahit Harapan
Perjalanan satu tahun ini memang baru sebuah awal. Tantangan seperti defisit anggaran dan penguatan sektor pakan ternak (jagung) masih menjadi pekerjaan rumah.
Namun, dengan arah kebijakan yang menyentuh langsung "piring makan" masyarakat, Dharmasraya kini bukan lagi daerah yang sekadar mengekor. Dharmasraya telah membuktikan bahwa dengan data yang presisi dan keberanian mengeksekusi potensi, posisi buncit pun bisa diubah menjadi keunggulan yang disegani.(Dimetri Robi)







0 Komentar