Tanamonews com, Dharmasraya – Program One Village One Product (OVOP) yang digagas oleh Bupati Dharmasraya, Ibu Annisa Suci Ramadhani, terbukti bukan sekadar program seremonial di atas kertas. Kebijakan strategis dari Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Dharmasraya ini kini menjelma menjadi instrumen konkret dari hulu ke hilir yang sukses menstimulus, memperkuat fondasi ekonomi nagari, sekaligus menyentuh hati masyarakat di tingkat akar rumput.
Langkah besar ini diambil pemerintah daerah untuk menjawab tantangan serius sektor pangan. Saat ini, kebutuhan konsumsi ikan di Kabupaten Dharmasraya menembus angka 15.000 ton per tahun, sementara produksi lokal sebelumnya baru mampu menyuplai sekitar 15 hingga 20 persen saja. Dampak nyata dan gairah ekonomi dari program prioritas ini dirasakan secara masif oleh berbagai kelompok pembudidaya di wilayah Kabupaten Dharmasraya, yang menyasar dua lokasi utama lintas kecamatan.
Geliat Ekonomi dari Taratak Tinggi, Timpeh
Di lokasi pertama, yaitu di Nagari Taratak Tinggi, Kecamatan Timpeh, perhatian mendalam dari Ibu Bupati disambut penuh optimisme oleh Kelompok Perikanan Enggo Fish. Kehadiran program OVOP dinilai mampu mengikis keterbatasan akses modal dan pakan yang selama ini membayangi para pembudidaya ikan lokal. Saat meninjau pabrik pakan dan melakukan tebar bibit ikan bantuan OVOP 2026, Annisa Suci Ramadhani menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat kemandirian pangan di luar sektor perkebunan yang selama ini menjadi pilar utama Dharmasraya.
"Bantuan pakan, ikan nila, dan lele ini adalah bagian dari program OVOP (One Village One Product). Intinya kita berharap di samping sektor perkebunan yang memang sudah menjadi sektor utama kabupaten kita, melalui program OVOP ini setiap nagari memproduksi minimal komoditas pangan yang dikonsumsi masyarakat Dharmasraya, sehingga ini dapat membantu ekonomi masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga pangan di Dharmasraya," ujar Annisa dalam kutipan video di akun resmi media sosialnya.
Beliau menambahkan, "Khusus hari ini kita membagikan untuk komoditas ikan kepada beberapa kelompok di Dharmasraya. Perkiraan kebutuhan ikan itu mencapai 15.000 ton per tahun, di mana produksi lokal Dharmasraya itu hanya bisa memenuhi sekitar 15 sampai 20 persen dari total kebutuhan tersebut. Jadi dengan adanya bantuan budidaya ikan dan pabrik pakan mandiri ini, diharapkan kekurangan dari jumlah kebutuhan ikan itu dapat dipasok oleh masyarakat lokal Dharmasraya."
Sebagai bentuk intervensi nyata, Pemkab Dharmasraya menyalurkan bantuan komprehensif berupa bibit ikan (nila dan lele), pakan gratis selama satu siklus, hingga fasilitasi cetak kolam bagi masyarakat. Guna menjamin keberlanjutan program, pemerintah daerah juga mendirikan Rumah Pakan Mandiri yang diserahkan kepada 2 kelompok di Dharmasraya. Fasilitas ini diproyeksikan mampu memproduksi pakan hingga 248 ton, guna memasok kebutuhan seluruh kelompok pembudidaya penerima manfaat Tahun Anggaran (TA) 2025 dan TA 2026.
Dego Refenza, Ketua Kelompok Enggo Fish yang menjadi salah satu penerima manfaat, menyampaikan apresiasinya atas program unggulan pemerintah daerah ini. Menurutnya, keberadaan Rumah Pakan Mandiri menjadi solusi konkret di tengah mahalnya biaya operasional.
"Alhamdulillah, sebelumnya kita memang sudah ada kolam dan sudah jalan juga, tapi sekarang kita sudah diberi bantuan dan pemerintah menjadikan ini salah satu program unggulannya. Kami cukup terbantu dari bibit, pakan, sampai rumah pakan cetak mandiri. Nanti kita bikin pelet secara mandiri untuk didistribusikan ke kelompok-kelompok di Dharmasraya. Dari pelet tersebut, kita bisa menekan biaya produksi dari harga pelet pabrikan yang semakin hari semakin naik harganya," ungkap Dego.
Dego juga menambahkan bahwa bimbingan konsisten dari Ibu Bupati Annisa Suci Ramadhani telah memberikan suntikan energi baru serta peta jalan yang jelas bagi kemajuan mereka untuk belajar, berkembang, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas jaringan pemasaran agar usaha semakin maju dan memiliki daya saing kuat.
Formula Bisnis dan Candaan 'DP Pajero' di Piroko, Koto Baru
Rangkaian program berlanjut ke lokasi kedua, yakni di tengah-tengah anggota Kelompok Berkah Abadi, Jorong Seberang Piroko Timur, Nagari Koto Baru, Kecamatan Koto Baru. Di tempat ini, suasana kehangatan tanpa sekat begitu terasa saat Ibu Bupati hadir langsung memimpin penandatanganan kontrak komitmen bersama seluruh kelompok OVOP sekaligus melakukan penebaran benih ikan secara simbolis.
"Oleh karena itu, salah satu upaya pemda untuk komoditas ini adalah memberikan bantuan bibit, cetak kolam, dan pakan selama satu siklus panen. Untuk memastikan keberlangsungan usaha budidaya ikan, kami juga memberikan bantuan rumah pakan mandiri kepada 2 kelompok di Dharmasraya yang mampu memproduksi sampai dengan 248 ton atau sesuai dengan kebutuhan pakan seluruh kelompok kelompok penerima bibit ikan pada tahun anggaran 2025-2026 ini," jelas Annisa saat berdialog dengan warga.
Tidak sekadar memberi bantuan fisik, Pemkab Dharmasraya juga membekali peternak dengan Petunjuk Teknis (Juknis) berupa Standard Operating Procedure (SOP) bisnis yang matang. Di depan para warga Koto Baru, Bupati Annisa membedah langsung simulasi keuntungan yang sangat menjanjikan pada siklus pertama berdasarkan hitungan riil di lapangan.
"Nah kalau saya lihat bu, pak, hitung-hitungannya di sini kalau benar kita menjalankan bisnisnya dari bantuan yang diterima kelompok ini, berarti mulai dari bibit, pakan, sampai panen, kita hitung untuk 25.000 bibit nila. Modalnya kita itu sebenarnya pakan dan bibit per kilo. Nila itu Rp30.000, kalau lele Rp21.000 sampai Rp22.000 itu modal per kilo. Sedangkan harga pasar Rp45.000 per kilo. Berarti ada sekitar Rp15.000 keuntungan satu kilonya. Dari 25.000 bibit ini kira-kira menghasilkan 4.000 kilo hasil panen. Berarti 4.000 dikali Rp15.000, keuntungan bersihnya Rp60.000.000 per siklus panen sekitar 3 sampai 4 bulan," urai Annisa secara detail.
Bahkan, karena pada siklus pertama seluruh modal awal di-subsidi penuh oleh pemerintah, kelompok tani berpotensi mengantongi akumulasi perputaran omzet kotor hingga Rp180.000.000.
"Karena di siklus pertama bapak ibu kita bantu semua, biaya buat beli bibit dan pakan kan tidak keluar nih sekarang. Jadi normalnya kalau yang di siklus pertama ibu berhasil, bisa dapat Rp180.000.000 dalam tiga bulan. Kan lumayan ya bu, bisa buat DP Pajero. Karena kayaknya tolak ukur keberhasilan masyarakat Dharmasraya ini Pajero ya," kelakar Ibu Bupati Annisa yang seketika mencairkan suasana dan disambut tawa hangat serta tepuk tangan warga Jorong Seberang Piroko Timur.
Namun, di balik candaan segar tersebut, terdapat pesan manajemen keuangan yang sangat kuat agar kelompok tani tidak konsumtif. Berdasarkan juknis bisnis yang dibagikan, Ibu Bupati meminta warga disiplin menerapkan formula keuangan 60:40.
"Dari Rp180.000.000 itu ibu sisihkan bu, jangan dipakai langsung semuanya, bingung kita nanti membeli bibitnya buat apa kalau mau lanjut. Jadi disisihkan. Nah kami kasih juknis, juknis ini SOP, panduan hitungan bisnisnya yang sudah kita coba perhitungkan dan kalikan. Laba bersih segala macam sudah ada di sini. Jadi nanti ibu sisihkan 60 persennya, jangan dipakai lah. Sisa yang 40 persen boleh dipakai buat beli bakso atau ditabung buat DP Pajero boleh. Tapi yang 60 persen wajib disisihkan untuk kita beli bibit dan pakannya lagi agar usahanya jalan terus," tegasnya.
Apresiasi Mengalir dari Hulu ke Hilir
Keberhasilan program yang menyentuh langsung hajat hidup orang banyak ini memicu gelombang apresiasi dan rasa haru dari masyarakat Dharmasraya. Salah satunya diungkapkan oleh EM Rizal, seorang warga Dharmasraya melalui akun media sosial pribadinya. "Terima kasih banyak buk Bupati Dharmasraya yg telah peduli dgn generasi muda kami yg bergerak d bidang perikanan untuk menciptakan lapangan kerja n meningkatkan ekonomi masyarakat," tulis EM Rizal tulus sembari menyematkan emotikon jempol dan doa.
Bupati Annisa kembali menegaskan di akhir arahannya bahwa aspek manajemen lapangan tidak akan diabaikan. "Selain itu, pendampingan juga merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin keberhasilan budidaya ikan ini. Oleh karena itu pemda memberikan pendampingan khusus melalui pembagian SOP bisnis budidaya, dan nanti pelaksanaannya akan dicek berkala oleh para penyuluh. Semoga dengan upaya ini keberlanjutan budidaya ikan bisa terjaga, masyarakat kita bisa sejahtera, dan kita bisa memenuhi kebutuhan lokal yang ada di Dharmasraya," pungkasnya optimis.
Di sisi hilir, Dinas Kumperdag Dharmasraya juga telah bersiap pasang badan bertindak sebagai agen pemasaran utama agar seluruh hasil panen melimpah masyarakat terserap optimal dengan harga terbaik di pasaran. Melalui keselarasan komitmen ini, Dharmasraya tidak hanya bergerak menuju swasembada pangan, tetapi juga sedang mencetak generasi wirausaha baru yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing tinggi. Penulis : Dimetri Robby







0 Komentar