Bukittinggi, Tanamonews.com - Festival Anak Nagari Pintu Kabun Baralek Gadang menjadi wadah pelestarian budaya sekaligus upaya menanamkan kecintaan terhadap adat dan budaya kepada generasi muda melalui berbagai pertunjukan tradisi, Senin, 24 Agustus 2026.
Kegiatan bertajuk "Lamo Tak Basuo, Kini Kambali Barameh" tersebut digelar di Kelurahan Puhun Pintu Kabun, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi. Anggota DPRD Sumatera Barat, Asril, yang juga menyalurkan dana pokok pikiran untuk kegiatan kebudayaan, mengatakan festival tersebut diarahkan untuk mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kebudayaan daerah.
"Pertama, kegiatan ini bertujuan agar generasi muda kita mulai dan terus mencintai kebudayaan kita. Hal ini sesuai dengan visi pemerintah Provinsi Sumatera Barat, sekaligus visi Kota Bukittinggi, yaitu Adaik Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah," ucapnya. Menurut Asril, pemahaman terhadap adat dan budaya menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang memiliki identitas dan bermartabat secara budaya.
Ia mengatakan kecintaan generasi muda terhadap adat juga dapat membantu memperkuat peran niniak mamak dalam meneruskan pendidikan adat kepada anak kemenakan. "Ketika generasi muda kita memahami dan mencintai adat, maka artinya kita sudah bisa mengatakan bermartabat secara budaya," tuturnya. Asril menambahkan kegiatan tersebut juga diarahkan untuk membentuk generasi muda yang memahami nilai agama dan adat sebagai bagian dari pembentukan calon pemimpin di masa mendatang.
"Tujuan kali kegiatan ini adalah membangun generasi muda kitabullah. Semoga generasi muda kita ke depan, calon-calon pemimpin, pemimpin kita ke depan, benar-benar pemimpin yang paham yang kitabullah," katanya. Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, mengatakan pelestarian budaya perlu dilakukan dengan memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal, mempelajari dan mengembangkan kesenian tradisional. Ia mengingatkan agar ketertarikan generasi muda terhadap budaya luar tidak menghilangkan kesempatan mereka untuk mengenal budaya daerah sendiri.
"Jangan generasi muda kita ingin belajar Korean dance tapi bagaimana nanti kita bisa mengarahkan wisatawan semua pihak asing ini bagaimana bisa belajar dan mempelajari budaya kita," sebutnya. Menurut Devid, festival budaya tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga sarana bagi masyarakat untuk memahami nilai yang terkandung dalam kesenian tradisional. "Kami juga berharap kita semua yang ada di sini tidak hanya menyaksikan pertunjukan tapi juga bisa mengambil nilai dan makna," tuturnya.
Dalam festival tersebut, sebanyak 20 sanggar tradisi menampilkan berbagai tarian tradisi dan kontemporer sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pelestarian kebudayaan di tengah masyarakat. Selain pertunjukan seni, kegiatan juga diisi dengan penyerahan bantuan alat musik tradisional dan pakaian tari tradisional kepada Camat Mandiangin Koto Selayan, Fachrul Razi. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Asril untuk selanjutnya didistribusikan sanggar-sanggar yang membutuhkan perlengkapan pendukung kegiatan kesenian. (Dina)







0 Komentar