PIMRED : ROBBY OCTORA ROMANZA (WARTAWAN UTAMA)

6/recent/ticker-posts
"SEBAR LUASKAN INFORMASI KEGIATAN DAN PROMOSI USAHA ANDA DISINI"

Ketika Perempuan tidak hanya dituntut kuat, Persoalan ini Disoroti Lisda Hendrajoni

Tanamonews.com, Jakarta — Ada urusan rumah yang menunggu, ada keluarga yang harus diurus, dan ada penghasilan yang harus dipastikan tetap mengalir. Inilah perempuan masa kini.

Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, persoalan perempuan Indonesia pun tidak lagi sederhana. Kesempatan memang semakin terbuka, tetapi kesenjangan masih terasa dalam banyak sisi kehidupan.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Lisda Hendrajoni, melihat sedikitnya lima persoalan besar yang masih kerap dihadapi perempuan Indonesia pada 2026. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga beban domestik, akses pembiayaan, hingga ancaman perubahan dunia kerja akibat otomasi dan kecerdasan buatan.

Menurut Lisda, persoalan perempuan sebenarnya jauh lebih kompleks. Namun, jika dirangkum, ada sejumlah masalah yang paling sering muncul dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

Persoalan pertama adalah ekonomi dan ketimpangan akses.

Lisda menyoroti kesenjangan upah antara perempuan dan laki-laki. Menurut dia, perempuan masih menghadapi kondisi ketika pekerjaan dan posisi yang relatif sama belum selalu menghasilkan penghargaan ekonomi yang setara.

“Pertama adalah ekonomi dan ketimpangan akses, seperti kesenjangan upah, saat ini wanita Indonesia dibayar 20-30 persen lebih rendah untuk posisi yang sama,” ujar Lisda saat ditemui di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Di balik angka tersebut, ada persoalan lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: beban ganda.

Perempuan yang bekerja tidak serta-merta terbebas dari pekerjaan domestik. Setelah menyelesaikan pekerjaan profesional, sebagian besar masih harus kembali menjalankan peran di rumah.

Lisda menyebut sekitar 70 persen pekerjaan domestik masih berada di pundak perempuan. Situasi ini membuat perempuan harus membagi energi antara pekerjaan yang menghasilkan pendapatan dan pekerjaan rumah tangga yang sering kali tidak terlihat sebagai pekerjaan.

Beban tersebut menjadi semakin berat ketika perempuan juga berusaha membangun usaha sendiri.

Menurut Lisda, akses terhadap modal masih menjadi salah satu hambatan. Perempuan yang ingin mengembangkan usaha kerap berhadapan dengan persyaratan pembiayaan, terutama persoalan agunan.

Padahal, perempuan memiliki peran besar dalam perekonomian rakyat. Lebih dari 60 persen UMKM di Indonesia disebut dikelola oleh perempuan.

Artinya, persoalan akses modal bukan sekadar soal kemampuan perempuan mendapatkan pinjaman. Lebih jauh, hal itu berkaitan dengan seberapa besar kesempatan yang diberikan kepada perempuan untuk mengembangkan usaha, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.

Di sisi lain, dunia kerja juga sedang mengalami perubahan besar.

Otomasi dan kecerdasan buatan mulai mengubah cara perusahaan bekerja. Perubahan teknologi yang menawarkan efisiensi tersebut pada saat bersamaan menimbulkan kekhawatiran terhadap pekerja di sejumlah sektor yang selama ini banyak diisi perempuan.

Lisda meminta pemerintah memberi perhatian terhadap potensi pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor, antara lain ritel, garmen, dan makanan-minuman.

Sektor-sektor tersebut, menurut dia, memiliki banyak pekerja perempuan sehingga perubahan pola kerja akibat otomasi dan AI perlu diantisipasi sejak dini.

Persoalannya bukan semata-mata bagaimana mempertahankan pekerjaan lama, tetapi bagaimana memastikan perempuan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan jenis pekerjaan baru.

Karena itu, pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya berbicara tentang bantuan. Pendidikan, pelatihan keterampilan, akses pembiayaan, perlindungan pekerja, dan kesempatan yang setara menjadi bagian dari persoalan yang saling berkaitan.

Bagi Lisda, perhatian terhadap perempuan pada akhirnya bukan hanya persoalan kelompok tertentu.

Ketika perempuan memiliki akses ekonomi yang lebih baik, memiliki kesempatan meningkatkan keterampilan, serta memperoleh perlindungan dalam dunia kerja, dampaknya akan terasa hingga ke tingkat keluarga dan masyarakat.

Sebab, di balik persoalan yang kerap disebut sebagai “masalah perempuan”, terdapat persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana Indonesia memastikan setengah dari kekuatan penduduknya tidak tertinggal ketika ekonomi, teknologi, dan kehidupan sosial bergerak semakin cepat.

Tantangannya adalah memastikan perubahan tersebut tidak hanya menghasilkan kemajuan bagi mereka yang sudah memiliki akses, tetapi juga membuka jalan bagi perempuan yang selama ini berada di belakang antrean. (Bee)

Posting Komentar

0 Komentar





Selamat datang di Portal Berita, Media Online : www.tanamonews.com, atas nama Redaksi mengucapkan Terima kasih telah berkunjung.. tertanda: Owner and Founding : Indra Afriadi Sikumbang, S.H. Tanamo Sutan Sati dan Pemimpin Redaksi : Robby Octora Romanza