Tanamonews.com, Dharmasraya – Langit Kecamatan Tiumang mendadak robek oleh pekik takbir dan merdeka. Selasar Lapangan Blok E Sitiung 1 tidak sekadar menjadi saksi bisu barisan pawai, melainkan altar suci tempat sejarah, budaya, dan air mata kerinduan akan kemerdekaan melebur menjadi satu sakramen yang agung, Selasa (18/8/2026).
Di bawah kepakan Sang Saka yang menari megah menyambut gerbang usia ke-81 Republik Indonesia, ribuan pasang mata dibuat terpaku, takzim, dan bergidik ngeri.
Ketika Amarah Surabaya Membakar Dharmasraya
Daya pikat paling magis lahir dari rahim kreativitas tanpa batas masyarakat Tiumang: sebuah teatrikal kolosal bertajuk Battle of Surabaya. Di tengah kepulan asap imajiner dan dentum kepedihan, sosok Bung Tomo hadir menyeruak takdir. Orasinya yang membelah langit merestorasi kembali memori kelam namun gemilang pada 10 November 1945.
Itu bukan sekadar akting; itu adalah resonansi jiwa. Penonton dibawa melintasi lorong waktu, menyaksikan bagaimana arek-arek Suroboyo menantang maut, menerjang angkuhnya moncong meriam kolonial Belanda dan sekutu demi sebuah kata keramat: Merdeka! Sebuah pengingat nan puitis bahwa tanah yang kita pijak hari ini subur karena siraman darah dan air mata para syuhada bangsa.
Geliat Jiwa Nasionalisme yang Menjalar di Ranah Cati Nan Tigo
Kemeriahan di Blok E Tiumang ini rupanya bukanlah riak tunggal. Mengacu pada catatan resmi portal informasi Pemkab Dharmasraya, pawai kolosal serupa juga digelar secara serentak di berbagai penjuru kecamatan dan nagari se-Kabupaten Dharmasraya. Bumi mekar ini seolah menolak tidur; dari ujung ranting hingga ke pusat kota, semuanya berderap dalam satu irama kibaran Merah Putih yang magis.
Namun, Tiumang memiliki magnetnya sendiri. Di tengah keriuhan itu, hadir Annisa Suci Ramadhani, sang nahkoda Dharmasraya. Sebagai bupati perempuan pertama di Sumatera Barat, ia memilih meluruhkan seluruh kasta kepemimpinan. Tiada sekat, tiada barikade protokoler yang kaku.
Dengan senyum yang merakyat, ia turun dari podium, melangkah anggun di atas tanah yang sama, menembus kerumunan, dan membiarkan dirinya didekap oleh kehangatan warganya. Kamera ponsel warga terus menyala, mengabadikan siluet sang bupati yang tertawa bersama emak-emak, bersalaman dengan para pemuda, dan memeluk anak-anak dengan kasih seorang ibu—formalitas yang menjelma jadi ketulusan nyata.
Suara dari Akar Rumput: "Kami Merasa Memiliki Pemimpin"
Kekaguman atas runtuhnya sekat pembatas ini diakui langsung oleh masyarakat setempat. Salah seorang warga Blok E yang ikut menyaksikan teatrikal dengan mata berkaca-kaca mengungkapkan rasa bangganya yang mendalam.
"Baru kali ini kami melihat sejarah sedekat ini, dan yang lebih luar biasa, Ibu Bupati ada di samping kami, berdiri di tanah yang sama tanpa jarak," ungkap salah seorang pemuda perwakilan warga Tiumang dengan nada bergetar haru. "Melihat beliau membaur, kami tidak hanya merasa merdeka sebagai bangsa, tapi kami merasa benar-benar memiliki seorang pemimpin yang berjiwa rakyat."
Mahar Cinta untuk Kreativitas: Anggaran Meroket Rp50 Juta
Cinta tidak pernah ingkar dalam tindakan. Terpukau oleh mahakarya estetika dan semangat gotong royong yang menyala-nyala di dada warganya, Bupati Annisa langsung memberikan kado terindah dari atas panggung kehormatan.
Jika tahun ini Pemerintah Daerah menyuntikkan dana apresiasi sebesar Rp20 juta, maka untuk tahun depan, ia berkomitmen melipatgandakannya menjadi Rp50 juta. Sebuah angka yang menjadi bukti bahwa pemerintah hadir untuk merawat api kreativitas ini agar tidak pernah padam.
"Ini bukan sekadar ritual tahunan yang bising," tutur Bupati Annisa dengan nada bergetar penuh penegasan. "Ini adalah ruang sakral tempat kita merayakan perbedaan dan mengikat kembali tali persaudaraan agar Dharmasraya tetap kokoh melangkah ke masa depan."
Sinergi Agung Penjaga Negeri
Keindahan simfoni kemerdekaan ini kian paripurna dengan hadirnya para pilar pelindung daerah. Di barisan kehormatan, tampak hadir menyaksikan dengan tatapan bangga:
- AKBP Kartyana Widyarso Wardoyo (Kapolres Dharmasraya) yang memastikan kedamaian senantiasa terjaga.
- Kapten CKE Jarman (Danramil 10/Koto Baru) dengan kharisma prajuritnya.
- H. Reno Lazuardi (Kepala Dinas Budparpora Dharmasraya) sang kurator kebudayaan daerah.
- Bayu Irawan (Anggota DPRD Dharmasraya) sang penyambung lidah rakyat.
- Marjilis (Camat Tiumang)
- Zulkifli (Wali Nagari Tiumang) selaku tuan rumah yang sukses merajut harmoni.
Sore pun jatuh di Blok E Tiumang, meninggalkan sisa asap teatrikal dan tawa warga yang masih membekas. Namun satu yang pasti, mereka pulang membawa keyakinan baru: bahwa kemerdekaan adalah milik semua hati yang berani bersatu. Penulis : Dimetri Robby







0 Komentar