Tanamonews.com, Dharmasraya — Ada adagium lama yang mengatakan bahwa geografi adalah takdir. Jika Anda lahir di pedalaman yang dikepung bukit dan minim sinyal, maka masa depan Anda mungkin akan berjalan lebih lambat dibanding mereka yang tumbuh di gemerlap lampu kota.
Namun, sejarah baru saja diukir di Ranah Minang khususnya di Ranah Cati nan . Di bawah kepemimpinan Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, kutukan geografis itu resmi dipatahkan. Kabupaten Dharmasraya melesat menjadi kabupaten pertama di Sumatera Barat yang memanfaatkan teknologi internet satelit secara masif untuk sekolah-sekolah di wilayah terisolasi (blank spot).
Lewat langkah progresif yang membetot perhatian publik ini, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya memilih bergerak cepat tanpa birokrasi yang bertele-tele. Ketika sejumlah sekolah di wilayah pelosok masih terseok-seok menghadapi keterbatasan sinyal, Annisa mengambil keputusan berani: menembus batas daratan dan menembak langsung ke langit.
Sejak pertengahan 2025, internet satelit Starlink resmi dikerahkan ke sekolah-sekolah yang berada di area blank spot. Langkah tak biasa ini menjadi bagian dari gebrakan program 100 hari kerja sang bupati muda untuk menghadirkan keadilan digital yang nyata bagi dunia pendidikan.
Dobrak Batas di Sembilan Koto hingga Asam Jujuhan
Kebijakan ini bukan sekadar pemanis di atas kertas. Berdasarkan data taktis di lapangan, sebanyak 17 sekolah terpencil di kecamatan-kecamatan terujung—seperti Kecamatan Sembilan Koto, Asam Jujuhan, dan Timpeh—kini telah terhubung dengan jaringan internet cepat. Lokasi-lokasi ini mencakup sekolah dasar hingga menengah yang selama ini terisolasi dari arus informasi global.
Sebelum satelit ini bertengger di atap sekolah, pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) dan akses ke platform digital seperti akun belajar.id adalah barang mewah yang nyaris mustahil dinikmati tanpa perjuangan berat. Guru dan murid sering kali harus mencari perbukitan tinggi atau menempuh jarak berkilo-kilometer hanya untuk berburu sinyal seluler.
"Di era digital ini, pendidikan tidak boleh tertinggal hanya karena keterbatasan akses internet. Pemerintah wajib hadir memastikan semua anak-anak Dharmasraya mendapat peluang yang sama dalam mengakses pembelajaran digital," tegas Bupati Annisa Suci Ramadhani dalam sebuah kesempatan.
Lulusan Master of Laws dari Columbia Law School, Amerika Serikat ini paham betul, bahwa menanti pembangunan tower telekomunikasi konvensional atau kabel optik darat membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang masif. Baginya, masa depan anak-anak Dharmasraya tidak bisa digantungkan pada antrean proyek infrastruktur permanen yang berjalan lamban. Starlink hadir sebagai solusi taktis jangka pendek yang langsung berdampak seketika.
Filosofi Kepemimpinan: Ilmu Tidak Boleh Terisolasi
Gaya kepemimpinan Annisa mencerminkan cara pandang pemimpin generasi baru: adaptif, melek teknologi, dan berbasis output. Pesan yang ditiupkannya ke tengah masyarakat sangat sederhana namun menohok jantung persoalan: anak-anak tidak boleh menunggu terlalu lama hanya karena tempat mereka belajar belum terjangkau jaringan internet.
Dengan ketukan jemari di atas papan ketik yang kini terhubung ke satelit luar angkasa, para siswa di pelosok Dharmasraya bisa langsung membuka bahan pelajaran modern, berselancar mencari pengetahuan baru, mengakrabkan diri dengan teknologi terapan, hingga mengikuti ke mana arah dunia sedang bergerak.
Jarak geografis secara ajaib menyusut menjadi nol kilometer. Sebab, masa depan seorang anak tidak semestinya didikte oleh seberapa jauh jarak rumahnya dari pusat pemerintahan kabupaten
Mereka boleh saja tinggal di pelosok terjauh. Mereka boleh tumbuh di tengah kepungan keterbatasan fasilitas. Namun, di bawah langit Dharmasraya, mereka dipastikan memegang tiket dan kesempatan yang sama persis untuk mengejar ilmu setinggi langit.
Membangun Jalan Menuju Masa Depan
Bagi Annisa Suci Ramadhani, hakikat esensial dari pembangunan daerah bukan semata-mata tentang menghamparkan aspal atau membangun jalan beton menuju suatu tempat terpencil. Pembangunan yang sejati adalah tentang bagaimana membuka jalan lapang bagi anak-anak daerah menuju masa depan mereka.
Hari ini, untaian konstelasi satelit di langit mungkin baru sebatas menghubungkan ruang kelas mereka dengan dunia luar. Namun besok atau lusa, ilmu, wawasan, dan kepercayaan diri yang mereka serap dari koneksi internet itulah yang akan menerbangkan anak-anak pelosok Dharmasraya melompat jauh lebih tinggi, melampaui batas-batas geografi yang pernah mengurung mereka.
Karena sejauh apa pun pelosoknya, jangan pernah biarkan ilmunya ikut terisolasi. Dan Annisa, sang bupati perempuan pertama di Dharmasraya dan Sumatera Barat, telah memulai langkah berani itu untuk masa depan generasi emas Indonesia.
Penulis : Dimetri Robby







0 Komentar