![]() |
| Oleh: Muhibbullah Azfa Manik |
Ramadhan 2026 di Tanah Minang diharapkan menjadi momentum di mana angka inflasi tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, melainkan sebuah variabel yang bisa dikendalikan melalui dendang kebersamaan
Tanamonews.com - Ramadhan di Sumatera Barat selalu punya ritme tersendiri. Di antara aroma rendang yang menguar dari dapur-dapur warga dan keriuhan pasar kaget menjelang berbuka, terselip sebuah kecemasan klasik yang menghantui setiap tahun: lonjakan harga pangan. Fenomena ini seolah menjadi ritual tahunan yang tak terelakkan, di mana harga cabai merah dan daging sapi kerap menari-nari di atas daya beli masyarakat.
Namun, pada tahun 2026 ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat mencoba menggubah narasi berbeda melalui sebuah gerakan kolaboratif yang diberi nama DAUN Ramadhan Festival. Nama yang terdengar puitis ini sebenarnya adalah sebuah akronim taktis dari Dedikasi Antar Unsur Negeri, sebuah upaya "keroyokan" untuk memastikan meja makan warga tetap terisi tanpa harus menguras kantong terlalu dalam.
Secara filosofis, pemilihan nama DAUN bukan sekadar urusan estetika. Ia mencerminkan semangat pertumbuhan dan sinergi, di mana Bank Indonesia bertindak sebagai dirigen yang memimpin orkestra dari berbagai elemen bangsa. Program ini lahir dari kesadaran bahwa inflasi di hari raya tidak bisa diredam hanya dengan kebijakan di atas kertas.
Dibutuhkan kehadiran fisik di lapangan, mulai dari pasar murah yang menyentuh akar rumput hingga penyediaan akses keuangan yang inklusif. DAUN menjadi panggung di mana berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, perbankan, hingga distributor besar, menanggalkan ego sektoral mereka demi satu tujuan: stabilitas harga pangan dan menjaga martabat daya beli rakyat di tengah bulan suci.
Sinergi Raksasa di Balik Dapur Halal
Jika kita membedah isi dari DAUN Ramadhan Festival, kita akan menemukan sebuah ekosistem yang kompleks namun terorganisir. Salah satu pusat gravitasinya tahun ini berada di kawasan Masjid Al-Hakim, Padang, sebuah ikon wisata religi yang kini bertransformasi menjadi pusat ekonomi kerakyatan. Di sana, festival ini tidak hanya bicara soal angka inflasi, tetapi juga soal pemberdayaan.
Melalui Ramadhan Halal Fest, puluhan pelaku UMKM yang telah mengantongi sertifikasi halal diberikan panggung untuk memasarkan produk mereka. Ini adalah langkah strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Sumatera Barat, di mana aspek kehalalan produk menjadi komoditas kepercayaan yang sangat tinggi nilainya di mata konsumen lokal.
Keterlibatan pihak-pihak dalam program ini sangatlah masif. Di satu sisi, ada Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang bergerak memantau rantai distribusi pangan, memastikan tidak ada spekulan yang bermain di tengah tingginya permintaan. Di sisi lain, kehadiran BULOG menjadi sangat krusial sebagai penyedia stok komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, dan gula pasir dengan harga yang jauh di bawah pasar.
Namun, yang membuat DAUN terasa berbeda adalah sentuhan digitalisasinya. Bank Indonesia secara aktif mendorong penggunaan QRIS dalam setiap transaksi di festival ini. Langkah ini bukan sekadar gaya-gayaan teknologi, melainkan upaya untuk menciptakan ekosistem transaksi yang lebih efisien, transparan, dan tercatat secara akurat, sekaligus memberikan stimulus berupa potongan harga bagi warga yang mau beralih ke cara bayar kekinian.
Mengatasi Ketakutan Ekonomi dengan Partisipasi Aktif
Seringkali, ketakutan masyarakat akan kelangkaan barang justru memicu perilaku yang memperburuk keadaan, seperti penimbunan barang di tingkat rumah tangga. Di sinilah partisipasi individu menjadi sangat krusial. Program DAUN mencoba memitigasi kecemasan sistemik ini dengan memberikan akses informasi yang transparan mengenai ketersediaan stok.
Bagi warga Sumatera Barat, berpartisipasi dalam program ini berarti bersedia menjadi konsumen yang bijak. Menjadi bijak berarti menahan diri untuk tidak melakukan panic buying yang justru akan memicu kelangkaan dan kenaikan harga yang tidak wajar.
Partisipasi individu adalah kunci terakhir dalam rantai pengendalian inflasi. Sebagus apa pun program pasar murah yang disiapkan pemerintah, ia akan runtuh jika masyarakat tidak memiliki kesadaran untuk berbelanja sesuai kebutuhan. Dinamika ekonomi Ramadhan menuntut setiap individu untuk melihat melampaui kepentingan jangka pendek diri sendiri demi stabilitas ekonomi yang lebih besar.
Dengan hadir langsung di lokasi-lokasi pasar murah dan mengikuti anjuran belanja bijak, setiap orang sebenarnya sedang membantu menjaga napas perekonomian daerahnya agar tetap sehat hingga hari kemenangan tiba.
Layanan Serambi dan Kemudahan di Ujung Jari
Selain urusan perut, Ramadhan juga identik dengan tradisi berbagi melalui uang baru. Di sinilah Bank Indonesia meluncurkan sayap program lainnya yang terintegrasi dalam festival ini, yaitu program SERAMBI atau Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri. Bagi individu yang ingin berpartisipasi, Bank Indonesia telah mempermudah prosesnya melalui jalur digital.
Warga tidak perlu lagi berdesakan dalam antrean yang tidak pasti, karena pendaftaran kini dilakukan melalui aplikasi PINTAR. Dengan sistem ini, setiap individu bisa memilih lokasi penukaran, jam kedatangan, hingga jumlah uang yang ingin ditukarkan secara presisi.
Sistem digital ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal keamanan. Dengan menukarkan uang melalui jalur resmi di kas keliling perbankan yang ada di festival DAUN, masyarakat terlindungi dari risiko uang palsu dan praktik calo yang biasanya mengambil margin keuntungan tinggi.
Partisipasi aktif individu dalam menggunakan layanan resmi ini secara tidak langsung membantu pemerintah dalam menjaga kualitas uang beredar di masyarakat. Ini adalah bentuk gotong royong modern, di mana teknologi digunakan untuk memitigasi risiko ekonomi sekaligus memudahkan ritual budaya masyarakat dalam menyambut hari raya.
Sebuah Catatan Akhir tentang Kebersamaan
Pada akhirnya, DAUN Ramadhan Festival di Sumatera Barat adalah sebuah cermin dari wajah ekonomi kita yang sebenarnya: sebuah ekonomi yang berbasis pada kekeluargaan dan kolaborasi. Kita belajar bahwa stabilitas ekonomi hanya bisa dicapai jika semua pihak—regulator, produsen, dan konsumen—mau bergerak serentak.
Individu tidak lagi hanya menjadi penonton atau objek kebijakan, melainkan menjadi subjek aktif yang menentukan keberhasilan pengendalian harga melalui perilaku belanja yang terkontrol dan pemanfaatan sistem pembayaran yang cerdas.
Ramadhan 2026 di Tanah Minang diharapkan menjadi momentum di mana angka inflasi tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, melainkan sebuah variabel yang bisa dikendalikan melalui dendang kebersamaan. Dengan memanfaatkan pasar murah, beralih ke transaksi digital melalui QRIS, dan menukarkan uang melalui jalur resmi, setiap orang telah berkontribusi menjaga martabat ekonomi daerahnya.
DAUN bukan sekadar festival belanja, ia adalah wujud nyata dari dedikasi antar unsur negeri yang meletakkan kepentingan rakyat banyak di atas segala-galanya, memastikan bahwa kemenangan di Idul Fitri nanti benar-benar dirasakan oleh semua kalangan tanpa ada yang terpinggirkan oleh tingginya harga-harga.







0 Komentar