Tanamonews.com, Dharmasraya – Di saat kalender menunjukkan angka merah dan sebagian besar orang menikmati jeda akhir pekan bersama keluarga, sebuah ruang koordinasi di Sumatera Barat justru tampak hidup dengan diskusi yang bernas.
Tak ada sekat kaku birokrasi yang terasa, yang ada hanyalah deru semangat untuk menuntaskan sebuah mandat suci: pembangunan Kabupaten Dharmasraya. Adalah Annisa Suci Ramadhani, Bupati Dharmasraya, yang menjadi dirigen di balik orkestrasi lintas sektor ini. Langkahnya tak surut meski hari libur menyapa. Bagi sosok pemimpin muda ini, pengabdian tidak mengenal terminologi "waktu istirahat" jika itu menyangkut hajat hidup masyarakat di bumi Ranah Cati Nan Tigo. Pertemuan strategis ini merupakan langkah "jemput bola" yang krusial.
Melalui akun resmi media sosialnya, Annisa memaparkan sinergi yang terjalin erat antara Pemerintah Kabupaten Dharmasraya dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Mahyeldi dan Wakil Gubernur Vasco Ruseimy. (05/04/26). Tak tanggung-tanggung, para punggawa infrastruktur pun hadir lengkap di meja diskusi. Mulai dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V, hingga Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sumbar. Kehadiran para teknokrat ini di hari libur menjadi sinyal kuat bahwa urusan rakyat adalah prioritas di atas segalanya. "Terima kasih telah hadir meskipun tanggal merah," tulis Annisa dengan nada apresiatif yang tulus.
Kalimat sederhana itu menyiratkan kedalaman makna; sebuah pengakuan atas dedikasi para mitra kerja yang bersedia melipat waktu demi kemaslahatan publik. Fokus diskusi kali ini menyentuh urat nadi pembangunan Dharmasraya secara menyeluruh. Mulai dari aksesibilitas jalan yang menjadi jantung ekonomi, tata kelola air dan pengamanan sungai untuk kedaulatan pangan, hingga kualitas permukiman yang sehat dan layak bagi warga. Semua usulan ditelaah secara mendalam guna memastikan setiap rupiah pembangunan tepat sasaran dan tepat guna.
Langkah kolaboratif ini memberikan perspektif baru tentang gaya kepemimpinan yang inklusif. Annisa menyadari betul bahwa membangun daerah tidak bisa dilakukan dalam isolasi. Butuh jalinan tangan yang kuat, kepercayaan yang kokoh, dan sinkronisasi visi antara daerah, provinsi, hingga pusat. Kini, publik menanti realisasi nyata dari buah pemikiran di hari libur tersebut. Kehadiran para pemangku kebijakan di meja koordinasi seolah menjadi oase harapan.
Ada optimisme yang menyeruak bahwa setiap usulan pembangunan bukan sekadar menjadi tumpukan dokumen di laci kantor, melainkan akan segera menjelma menjadi deru alat berat dan transformasi fisik di lapangan. Dari Dharmasraya kita belajar, bahwa di tangan pemimpin yang gigih merajut sinergi, pembangunan bukan lagi soal menunggu waktu yang tepat, melainkan tentang menciptakan momentum untuk segera melangkah maju.(Dimetri Robi)







0 Komentar