Tanamonews.com, Dharmasraya – Ada sebuah harmoni yang tengah tumbuh di sela-sela rimbunnya daun sawit dan hamparan tanah subur Kabupaten Dharmasraya.
Di bawah langit Ranah Cati Nan Tigo, sebuah komitmen besar sedang mewujud nyata. Bukan sekadar janji di atas panggung politik, melainkan sebuah pengabdian yang mengalir langsung ke urat nadi ekonomi rakyat melalui tangan dingin Bupati Annisa Suci Ramadhani.
Sambil menyesap secangkir kopi di pagi yang tenang, mari kita maknai angka 51 miliar rupiah bukan sebagai deretan nol yang dingin di atas kertas anggaran. Angka itu adalah simbol perjuangan yang dijemput dari BPDPKS dan Kementerian Pertanian—sebuah "darah baru" yang disuntikkan untuk membangkitkan marwah petani di tahun 2025.
Melukis Ulang Harapan: Lebih dari Sekadar Peremajaan
Program replanting (peremajaan) seluas 442 hektar bagi lima kelompok tani menjadi pembuka simfoni ini. Dengan alokasi 26 miliar rupiah, Annisa menghadirkan konsep "Lahan yang Terus Bernafas". Di sela-sela bibit sawit unggul yang baru ditanam, kini mulai menyembul padi gogo dan tanaman tumpang sari yang didukung penuh dengan pupuk berkualitas.
Ini adalah literasi ekonomi yang cerdas. Pemerintah memastikan bahwa dapur petani tidak boleh berhenti mengepul saat menunggu sawit mereka berbuah. Sebuah harmoni antara investasi jangka panjang dan ketahanan pangan yang instan.
Tiang Pancang Produktivitas dan Martabat Petani
Visi Annisa tidak berhenti pada penanaman. Ia memahami bahwa martabat petani tumbuh dari kemandirian dan dukungan sarana yang mumpuni. Sebesar 25 miliar rupiah dialirkan khusus untuk sarana dan prasarana (sarpras) berupa pupuk dan pestisida bagi enam kelompok tani.
Tak ketinggalan, sebanyak 13.800 batang bibit sawit siap salur telah didistribusikan kepada tujuh kelompok tani lainnya. Ini adalah pesan tegas bahwa pemerintah hadir di setiap jengkal tanah masyarakat, memastikan setiap peluh yang jatuh ke bumi berubah menjadi kesejahteraan yang terhormat.
Investasi Manusia: Menanam Ilmu, Menuai Masa Depan
Namun, mahakarya sesungguhnya dari kepemimpinan Annisa adalah pandangannya yang menembus batas zaman. Ia menyadari bahwa kebun yang subur butuh otak yang cerdas untuk mengelolanya. Melalui program Beasiswa Anak Petani Sawit, sebanyak 107 putra-putri daerah kini menggenggam harapan pendidikan tinggi hingga 2026.
Ia tidak hanya sedang membangun kebun; ia sedang membangun manusia. Anak-anak Dharmasraya ini adalah para arsitek masa depan yang kelak akan memimpin perkebunan modern dengan bekal ilmu pengetahuan yang mumpuni.
Aroma Baru di Cakrawala Agustus 2026
Sebelum cangkir kopi Anda kosong, bayangkanlah aroma baru yang akan menyerbak di Ranah Cati Nan Tigo. Sebagai langkah antisipasi dan diversifikasi ekonomi, program penanaman kopi seluas 2.000 hektar telah dicanangkan untuk mulai tumbuh pada Agustus 2026. Dharmasraya kini tidak lagi hanya bersandar pada satu komoditas. Ini adalah langkah visioner untuk menciptakan kemandirian ekonomi yang berlapis dan tangguh terhadap badai zaman.
Penutup: Sebuah Janji yang Bertumbuh
Rangkaian program strategis ini menjadi bukti otentik bahwa di tangan Annisa Suci Ramadhani, pembangunan di Dharmasraya memiliki jiwa. Setiap kebijakan adalah bait puisi tentang pengabdian, dan setiap rupiah yang tersalurkan adalah janji yang terpenuhi. Mari kita jaga momentum ini dengan semangat gotong royong. Satu batang bibit yang kita tanam hari ini adalah nafas kehidupan bagi anak cucu kita di masa depan.
Dharmasraya kini bukan lagi sekadar nama di peta Sumatra Barat, melainkan sebuah simbol tentang bagaimana keberanian, literasi, dan kasih sayang seorang pemimpin mampu mengubah wajah daerah menjadi lebih bercahaya. Dharmasraya Maju, Petani Sejahtera, Ranah Cati Nan Tigo Berjaya!( Dimetri R)







0 Komentar