Tanamonews.com, Dharmasraya – Gurat haru tak mampu disembunyikan dari wajah Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani. Di hadapan 390 anak didik yang berbaris rapi mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Dharmasraya, Sumatra Barat, Jumat (31/7/2026), sepasang matanya berkaca-kaca.
Bagi Annisa, senyum polos dan binar semangat anak-anak tersebut bukan sekadar seremoni pembukaan tahun ajaran baru biasa. Momen ini adalah kulminasi dari sebuah perjuangan sunyi—sebuah ikhtiar panjang nan melelahkan yang ia tebus selama berbulan-bulan demi memutus rantai kemiskinan struktural melalui jalur edukasi gratis berkonsep boarding school (sekolah berasrama).
Hanya dalam waktu singkat, sebuah keajaiban fisik terjadi di kawasan Pulau Sawah, Nagari Sungai Kambut. Lahan yang semula berupa hamparan tanah kosong tak berpenghuni, kini telah bermutasi menjadi kompleks peradaban baru: deretan gedung megah berarsitektur modern, lengkap dengan fasilitas penunjang belajar mutakhir.
Menjemput Asa Kelompok Marjinal & Harapan Baru Masyarakat
Kehadiran SRT 3 Dharmasraya menjadi oase nyata bagi anak-anak yang berada di garis kemiskinan ekstrem (kelompok desil 1 dan desil 2). Program strategis ini mendobrak sekat kemustahilan, memberikan hak yang setara bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mereguk pendidikan berkualitas tinggi secara terhormat.
"Di hadapan saya hari ini, saya melihat langkah-langkah kecil anak bangsa sedang mengetuk pintu masa depan," ujar Annisa dengan nada suara yang bergetar penuh takzim. "Mereka kini tegak berdiri di garis start yang sama. Punya kesempatan untuk tumbuh sejajar, cerdas bersama, dan merajut cita-cita yang selama ini mungkin hanya berani mereka simpan dalam mimpi.
"Dampak emosional dari kebijakan ini terpancar jelas di sudut-sudut lapangan sekolah. Pantauan di lokasi menunjukkan, tidak sedikit dari orang tua dan wali murid yang hadir tak kuasa menahan genangan air mata kebahagiaan. Bagi mereka—masyarakat kecil yang mayoritas menggantungkan hidup dari sektor informal—kesempatan menyekolahkan anak di institusi berasrama dengan fasilitas premium, pemenuhan kebutuhan gizi, hingga sokongan fasilitas belajar secara gratis, laksana sebuah fajar baru yang menyeka mendung kemiskinan struktural keluarga mereka.
Diplomasi Sengit Lintas Kementerian dan Visi Global
Di balik kemegahan fasilitas ini, tersimpan rekam jejak perjuangan birokrasi yang berliku. Annisa mengenang kembali malam-malam panjang yang ia habiskan untuk merancang proposal, membangun komunikasi makro, hingga berulang kali mengejar penerbangan ke Jakarta guna meyakinkan para pemegang kebijakan di tingkat pusat agar Dharmasraya dipercaya menjadi lokus Sekolah Rakyat.
Perjuangan tersebut menuntut ketabahan ekstra. Pasalnya, lahan di Sungai Kambut tersebut sebelumnya merupakan aset Direktorat Jenderal Sumber Daya Air di bawah Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Annisa harus bergerak lincah melakukan rekonsiliasi lintas kementerian, menjembatani kepentingan Kementerian Sosial sebagai pengampu program dan Kementerian PU. Diplomasi gigih itu akhirnya membuahkan hasil monumental: sebuah proyek mercusuar dengan nilai pekerjaan mencapai Rp244,32 miliar berhasil dialokasikan di Bumi Ranah Cati Nan Tigo.
Keberhasilan pengoperasian Sekolah Rakyat di Pulau Punjung ini kian memperkokoh peta jalan pendidikan di Dharmasraya. Lompatan kuantum edukasi daerah ini langsung beriringan dengan keberhasilan Bupati Annisa yang juga sukses mengunci dana hibah pusat sebesar Rp250 Miliar untuk pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) berstandar internasional di kawasan Sport Center Koto Baru. Sinergitas luar biasa antara SRT untuk kelompok marjinal dan SNT berbasis sains-teknologi ini menjadi bukti sahih bahwa Dharmasraya tengah dipersiapkan menjadi episentrum utama pencetakan generasi emas di Sumatra Barat.
Apresiasi Tinggi untuk Komitmen Presiden Prabowo
Atas capaian historis ini, Annisa secara khusus melayangkan apresiasi tertinggi kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, atas lahirnya Program Sekolah Rakyat yang dinilainya sangat menyentuh episentrum kebutuhan riil masyarakat akar rumput.
"Program ini menunjukkan cita-cita besar negara untuk menghadirkan kesempatan yang setara bagi setiap anak Indonesia. Pendidikan adalah jalan terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto atas komitmennya menghadirkan harapan baru bagi anak-anak dari kelompok desil 1 dan desil 2," ungkapnya hangat.
Sinergitas yang solid juga diapresiasi oleh Annisa, mulai dari jajaran Pemerintah Provinsi Sumatra Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Mahyeldi dan Wagub Vasco Ruseamy, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri PU Dodi Hanggodo, hingga seluruh elemen daerah yang telah memotong jalur birokrasi demi percepatan pembangunan fisik di lapangan.
Pada tahun operasional perdana ini, SRT 3 menerima 390 siswa pilihan, dengan rincian 268 siswa asal Kabupaten Dharmasraya, 60 siswa dari Kabupaten Solok, 60 siswa dari Kota Padang, serta keterwakilan inklusif dari Kabupaten Padang Pariaman (1 siswa tingkat SD) dan Kota Bukittinggi (1 siswa tingkat SMP). Seluruh peserta didik diseleksi melalui mekanisme berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) secara objektif, transparan, dan akuntabel.
Melahirkan Kembali Pemikir Bangsa dari Rahim Minangkabau
Senada dengan itu, Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi, menegaskan dengan penuh optimisme bahwa Sekolah Rakyat merupakan program strategis nasional Presiden Prabowo Subianto yang membuka kesempatan lebih luas bagi anak-anak Sumatra Barat untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Mahyeldi mengingatkan kembali memori kolektif bahwa Sumatra Barat secara historis adalah gudang orang-orang hebat, rahim para pahlawan kemerdekaan, serta telah melahirkan banyak konseptor dan pemikir bangsa. Ia optimistis, SRT 3 Dharmasraya akan meneruskan estafet emas sejarah tersebut.
"Melalui Sekolah Rakyat ini, anak-anak Sumatera Barat bisa menjadi apa pun yang mereka cita-citakan. Saya yakin dari sekolah ini akan lahir generasi-generasi hebat yang akan mengharumkan nama Sumatera Barat dan NKRI," ujar Mahyeldi dengan penuh semangat membakar motivasi para siswa.
Agenda sakral pembukaan MPLS ini turut dikawal dan dihadiri oleh jajaran elit daerah, di antaranya Wakil Bupati Dharmasraya Leli Arni, Anggota DPRD Dharmasraya Pasdisata Dt Kabikangan, Kepala Kejaksaan Negeri Dharmasraya Indra Gunawan, Kapolres Dharmasraya yang diwakili PS Kabag SDM AKP Hendriza Oktavianus, Dandim 0310/SSD yang diwakili Danramil Pulau Punjung Letda Inf. Magel Hendri.
Hadir pula Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Wildan Humaedi, Sekda Dharmasraya Medison, Plt. Ketua LKAAM Marlon Martua Dt Rangkayo Mulie, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumbar, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar, Kepala BPS Provinsi Sumbar, Kepala BPBD Provinsi Sumbar, kepala sekolah, jajaran majelis guru, tenaga kependidikan, tokoh masyarakat, serta jajaran orang tua siswa yang melepas anak-anak mereka menuju gerbang peradaban baru yang lebih cerah. Penulis : Dimetri Robby







0 Komentar