Tanamonews.com - Arus informasi di media sosial yang semakin sulit dikendalikan menjadi tantangan baru bagi persatuan bangsa. Hoaks, ujaran kebencian, disinformasi hingga polarisasi kini dinilai lebih berbahaya karena mampu memecah belah masyarakat hanya dalam hitungan menit.
Menjawab tantangan tersebut, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Nurfirman Wansyah, Apt., M.M. mengajak generasi muda tampil sebagai garda terdepan menjaga harmoni dan perdamaian di ruang digital. Ajakan itu disampaikan Nurfirman saat menjadi narasumber pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kewaspadaan Dini yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumatera Barat di Asbun Resort, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, pada 5–6 Juli 2026.
Kegiatan tersebut terlaksana melalui alokasi Pokok Pikiran (Pokir) Nurfirman sebagai anggota DPRD Sumbar. Mengangkat tema "Merajut Perdamaian di Lanskap Digital", Nurfirman menegaskan bahwa ancaman terhadap keutuhan bangsa kini tidak lagi didominasi konflik fisik. Menurutnya, perang opini, penyebaran hoaks, provokasi, hingga ujaran kebencian di media sosial menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi bersama.
"Konflik mungkin tidak pernah hilang, tetapi cara menjaganya harus berubah mengikuti perkembangan zaman," tegasnya. Mantan Wakil Bupati Solok Selatan yang akrab disapa Pak Anca itu mengatakan media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube tidak semestinya menjadi ruang memperuncing perbedaan. Sebaliknya, platform digital harus dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai toleransi, memperkuat literasi digital, dan membangun semangat persatuan di tengah keberagaman.
Ia menilai Generasi Z memegang peran yang sangat strategis karena merupakan kelompok yang paling aktif berinteraksi di dunia maya. Menurutnya, masa depan ruang digital Indonesia sangat bergantung pada bagaimana generasi muda menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Dalam paparannya, Nurfirman mengibaratkan hoaks sebagai virus yang terus bermutasi dan menyebar dengan cepat. Sementara itu, literasi digital adalah "vaksin" yang mampu membangun daya tahan masyarakat terhadap informasi palsu dan menyesatkan.
"Kita tidak boleh kalah cepat dengan penyebar hoaks. Yang harus diperkuat adalah masyarakat yang berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan memilih menjadi bagian dari solusi, bukan penyebar konflik," ujarnya. Melalui kegiatan Bimtek tersebut, para peserta tidak hanya dibekali kemampuan mendeteksi potensi konflik sejak dini, tetapi juga diajak membangun kesadaran bahwa menjaga persatuan bangsa kini menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda yang setiap hari beraktivitas di ruang digital.
Nurfirman berharap semakin banyak anak muda yang berani menjadi pelopor perdamaian digital dengan menghadirkan konten-konten positif, menangkal informasi palsu, serta menjaga etika dalam bermedia sosial. "Perdamaian hari ini tidak cukup dijaga di ruang-ruang pertemuan. Perdamaian harus hadir di layar gawai kita, di setiap unggahan, komentar, dan informasi yang kita bagikan," pungkasnya.YM







0 Komentar