Tanamonews.com, Dharmasraya – Deru mesin alat berat dan aroma aspal bakar kini mewarnai sepanjang Jalur Lintas Sumatra (Jalinsum) yang membelah Kabupaten Dharmasraya. Denyut nadi ekonomi Sumatra ini sedang bersolek lewat proyek rehabilitasi masif sepanjang 30 kilometer.
Namun, di balik urgensi pembangunan tersebut, kenyamanan warga dan ketepatan metode kerja tetap menjadi prioritas utama, Sabtu (01/08/26). Hal itu ditegaskan langsung oleh Annisa Suci Ramadhani saat turun ke lapangan pada Kamis (30/07/2026), guna meninjau langsung progres pengerjaan jalan nasional tersebut.
Dengan gaya kepemimpinan yang humanis namun visioner, ia menyampaikan pesan menohok kepada pihak rekanan dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah Sumatra Barat. "Saya bermohon, tolong selesaikan ruas per ruas. Selesai di sini, baru pindah ke ruas berikutnya," ujar Annisa dengan nada tegas di lokasi proyek.
Ia menggarisbawahi bahwa manajemen proyek yang buruk hanya akan menyengsarakan masyarakat pengguna jalan. "Daripada dibongkar, dibongkar-bongkar tapi terbengkalai terlalu lama ngerjainnya. Lebih baik selesaikan dulu satu lajur, sisanya yang spot-spot kecil (rusak sedang) belakangan tidak apa-apa," tambahnya memberikan solusi taktis di lapangan.
Investasi Multiyears Rp168 Miliar: Cetak Biru Pemetaan Infrastruktur
Proyek raksasa periode 2025–2027 ini disokong oleh dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp168 Miliar yang dikucurkan melalui skema multiyears (tahun jamak). Berdasarkan cetak biru pengerjaan, ruang lingkup infrastruktur koridor utama Dharmasraya ini dibagi secara spesifik dan presisi:
- Pengecoran Struktural (Rigid Beton): Difokuskan pada rute padat mulai dari SPBU Sialang hingga ke depan Kantor Bupati Dharmasraya untuk ketahanan jangka panjang.
- Pelebaran & Pengaspalan Ulang (Overlay): Menyasar bentangan jalan dari Jembatan Kabel Sungai Dareh, Gunung Medan, hingga ke kawasan Koto Baru.
- Pemeliharaan Berkala (Patching): Penambalan taktis pada titik-titik yang mengalami kerusakan tingkat sedang di sepanjang jalur Lintas Sumatra dari Gunung Medan hingga ke Sungai Rumbai.
Apresiasi besar pun dilayangkan kepada Kementerian Pekerjaan Umum melalui BPJN. Sejak tahun lalu, dampak pembangunan sudah mulai dirasakan masyarakat lewat pelebaran jalur di berbagai titik rawan kemacetan.
Manajemen Keselamatan dan Seni Merawat Fasilitas Publik
Menyadari proyek ini memakan sebagian badan jalan, Annisa meminta pihak kontraktor untuk tidak lalai dalam urusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Pemasangan rambu-rambu pengaman yang kontras di sekitar area galian dan pelebaran jalan adalah harga mati untuk menghindari kecelakaan lalu lintas, terutama saat malam hari. Di sisi lain, ia juga mengetuk pintu hati masyarakat Dharmasraya untuk saling mengerti dan bersabar selama proses transisi pembangunan ini berjalan.
"Mohon masyarakat sekiranya memaklumi jika saat ini perjalanan sedikit terganggu karena ada pelebaran jalan. Kita terus berkoordinasi melihat progres bagaimana pekerjaan ini bisa selesai tepat waktu. Ini semua demi wajah baru Dharmasraya yang lebih baik," ungkapnya penuh optimisme. Namun, tantangan terbesar sesungguhnya baru dimulai setelah aspal mengering. Anggaran ratusan miliar ini akan menguap sia-sia jika raksasa jalanan bernama kendaraan ODOL (Over Dimension Over Load) tetap dibiarkan bebas melintas tanpa sanksi tegas.
Menutup peninjauannya, ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan ketegasan dan sinergi kolektif antara Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Daerah untuk menertibkan kendaraan kelebihan muatan. Menjaga infrastruktur tetap awet adalah bentuk ikhtiar bersama demi Dharmasraya yang maju, megah, dan berwibawa. Penulis: Dimetri Robby







0 Komentar