Tanamonews.com — Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah menegaskan bahwa kepemimpinan nasional tidak cukup dibangun dengan kecerdasan, kompetensi, dan kemampuan teknis, tetapi harus berakar pada nilai, integritas, akhlak, dan keteladanan.
Menurutnya, kepemimpinan yang kuat secara moral akan menjadi kunci dalam melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul dan menentukan arah pembangunan bangsa kedepan. Hal itu disampaikan Mahyeldi saat menjadi keynote speaker pada Kuliah Umum bertajuk “Kepemimpinan Nasional sebagai Kunci Pembinaan SDM Unggul Bangsa”, yang dirangkai dengan Launching dan Bedah Buku “40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa” di Institute SEBI, Depok, Jawa Barat, Senin (31/8/2026). Menurut Mahyeldi, pemimpin memiliki posisi strategis karena setiap keputusan dan kebijakan yang diambil dapat memberikan dampak luas terhadap lingkungannya.
Karena itu, seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu mengambil keputusan, tetapi juga harus mampu memberikan keteladanan dan memastikan kewenangan yang dimiliki digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan. “Pemimpin bukan hanya orang yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, tetapi juga orang yang mampu memberikan keteladanan dan memastikan setiap kewenangan yang dimiliki digunakan untuk kemaslahatan masyarakat,” ujar Mahyeldi. Ia menilai pembangunan SDM unggul harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter.
Generasi yang memiliki kompetensi tinggi perlu dibekali integritas, akhlak, tanggung jawab sosial, serta kesadaran bahwa ilmu dan kemampuan yang dimiliki pada akhirnya harus diabdikan bagi kepentingan masyarakat dan bangsa. Dalam konteks tersebut, Mahyeldi menyambut baik kehadiran buku “40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa”. Menurutnya, buku yang menghimpun hadis-hadis Nabi Muhammad SAW tentang kepemimpinan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan amanah dan sarana untuk menegakkan keadilan serta menghadirkan kemaslahatan.
“Kami melihat bahwa buku 40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa adalah pengingat yang tegas sekaligus lembut, bahwa kekuasaan bukan tujuan, melainkan alat untuk menegakkan keadilan,” katanya. Mahyeldi menambahkan, keberhasilan seorang pemimpin tidak semata-mata diukur dari lamanya memegang kekuasaan atau besarnya kewenangan yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat dan kemaslahatan yang mampu diwujudkan selama masa kepemimpinannya tersebut. “Pemimpin sejati diukur bukan oleh lamanya berkuasa, tetapi oleh seberapa besar maslahat yang dihasilkannya,” tegasnya.
Lebih jauh, Gubernur Sumbar menilai kepemimpinan yang kehilangan pijakan nilai akan mudah kehilangan arah. Sebaliknya, kepemimpinan yang menjadikan akhlak dan nilai-nilai Ilahiah sebagai landasan akan memiliki kompas moral dalam menggunakan kekuasaan dan menjalankan amanah. “Kekuasaan tanpa akhlak akan rapuh, dan kepemimpinan tanpa petunjuk Ilahi akan kehilangan arah,” lanjut Mahyeldi. Karena itu, pembinaan SDM unggul harus dilakukan secara utuh dengan memadukan kompetensi, karakter, integritas, dan nilai-nilai keagamaan.
Mahyeldi berharap forum tersebut dapat memperluas dialog tentang kepemimpinan nasional sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar melahirkan pemimpin masa depan yang kompeten, berintegritas, berakhlak, dan berorientasi pada kemaslahatan bangsa. “Pada akhirnya, kepemimpinan adalah amanah. Semakin besar kewenangan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya bagi kepentingan masyarakat,” pungkasnya. Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Yassierli. (adpsb)







0 Komentar