Tanamonews.com, Dharmasraya – "Cita-cita saya ingin jadi dokter!" seru seorang anak perempuan dengan mata berbinar. Di sudut lain, bersahutan suara anak-anak lelaki dengan lantang, "Ingin jadi polisi!", "Ingin jadi tentara!", "Ingin jadi Damkar.!" Pemandangan penuh energi dan optimisme baru itu mewarnai jalannya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Dharmasraya yang terpantau pada Rabu (5/8/2026).
Langkah bersejarah bagi anak-anak marjinal ini resmi dimulai sejak hari pertama pembukaan gerbang sekolah pada Jumat (31/7/2026) lalu. Sekolah megah senilai Rp244,32 Miliar yang berdiri kokoh di kawasan Pulau Sawah ini, kini resmi menjadi rumah baru bagi 390 anak dari keluarga prasejahtera (Desil I dan Desil II) serta mereka yang sempat putus sekolah. Di sinilah, mimpi-mimpi yang sempat terkubur akibat himpitan ekonomi, kembali ditiupkan.
Air Mata Haru Sang Bupati Visioner
Menyaksikan riuh tawa dan semangat membara anak-anak tersebut, Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Pemimpin perempuan yang cerdas, visioner, dan dikenal sangat dekat di hati rakyatnya ini tampak berkaca-kaca saat mendampingi para siswa baru menjalani transisi hidup berasrama. "Sangat mengharukan melihat bagaimana anak-anak yang selama ini mungkin jalannya tidak selalu mulus, kini bisa berkumpul di sini," ujar Bupati Annisa dengan nada suara bergetar penuh empati.
Bupati lulusan hukum ini menegaskan bahwa mahakarya pendidikan ini merupakan buah dari kepedulian mendalam tingkat tinggi. "Ini adalah inisiasi langsung dari Bapak Presiden Prabowo Subianto yang dieksekusi lewat kolaborasi apik dengan Pemerintah Provinsi bersama Bapak Gubernur dan Bapak Wagub. Kami di tingkat daerah merapikan teknisnya di bawah. Alhamdulillah, hari ini Sekolah Rakyat pertama di Sumatera Barat resmi dibuka," lanjut bupati yang akrab disapa Caca ini.
Gadang Hati: Jeritan Syukur Orang Tua Akar Rumput
Bagi para orang tua wali murid, kehadiran Sekolah Rakyat bak sebuah mukjizat di tengah keputusasaan. Dengan bahasa daerah yang kental dan jujur, mereka menumpahkan segala keluh kesah yang selama ini dipendam sendiri.
"Yang gadang tu dek putuih sakolah labieh duo tahun, Pak. Emang kekurangan biaya pak untuk sekolah di sekolah umum (Anak saya yang besar itu terpaksa putus sekolah lebih dari dua tahun, Pak. Memang kekurangan biaya untuk sekolah di sekolah umum)," kenang salah satu wali murid dengan mata berkaca-kaca.
Namun, rona kesedihan itu kini berganti binar kebahagiaan. "Samanjak ado Sekolah Rakyat sanang lah pak bisa sakolah disitu, gadang hati rasonyo bisa sakolah baliek. Syukur alhamdulillah ditolong samo pamarintah, harapan supayo jadi anak yang sukses, cerdas, dan pinter," tutur mereka sembari tersenyum lega, sebuah tawa yang sudah lama hilang dari wajah-wajah pekerja keras itu.
Kebahagiaan tulus juga terpancar dari testimoni polos anak-anak yang kini tinggal di asrama modern tersebut. "Lai sanang kami sakolah di Sekolah Rakyat nyo pak. Lalok lamak, makan lamak, kawan banyak (Kami senang sekali sekolah di Sekolah Rakyat ini pak. Tidur enak, makan enak, dan punya banyak teman)," celoteh salah satu siswa bernama Defri yang bercita-cita menjadi polisi.
"Mau Jadi Pak Gubernur Buya!"
Sebuah momen hangat dan penuh tawa terekam saat Bupati Annisa menyampaikan pidatonya di atas panggung peresmian. Di tengah pidato, ia memanggil salah seorang anak untuk berdiri bersamanya di atas panggung. "Siapa namanya?" tanya Annisa lembut sambil merangkul anak tersebut di hadapan para undangan."Davi," jawab anak itu polos."Davi kemarin, Davi bilang mau jadi apa?" pancing Annisa lagi memotivasi."Mau jadi Pak Gubernur!" seru Davi tanpa ragu lewat mikrofon.
Mendengar jawaban berani itu, Bupati Annisa langsung melemparkan pandangan dan senyuman lebarnya ke arah deretan kursi depan, tempat Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah duduk menyaksikan. "Jadi Gubernur, Buya," goda Annisa berinteraksi langsung dengan Gubernur yang akrab disapa Buya Mahyeldi tersebut. "Insya Allah bisa ya, Buya," tambahnya, yang langsung disambut senyum hangat penuh dukungan dari Buya Mahyeldi di bangku depan serta riuh tepuk tangan hadirin.
Memutus Rantai Kemiskinan Lewat Fasilitas Terbaik
Bupati Annisa menegaskan, Sekolah Rakyat ini adalah manifestasi dari keadilan sosial yang nyata. Di sini, negara hadir memberikan fasilitas tanpa diskriminasi. Seluruh kebutuhan siswa—mulai dari seragam, makanan bergizi, alat tulis, hingga laptop—diberikan secara gratis 100%. "Sekolah Rakyat memberikan kesempatan kepada seluruh anak Indonesia. Terlepas dari siapa pun orang tuanya, setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama dan mengenyam pendidikan dengan kualitas serta fasilitas terbaik," tegas Annisa.
Bagi Annisa, proyek kemanusiaan ini punya target jangka panjang yang konkret untuk masa depan ekonomi bangsa. "Setiap satu anak yang berhasil, maka insya Allah satu keluarga akan bangkit dari kemiskinan. Dan ketika ribuan anak berhasil, maka ribuan keluarga akan ikut bangkit, yang pada akhirnya berdampak luar biasa bagi penguatan ekonomi Indonesia. Saya rasa itu adalah tujuan mulia dari program Sekolah Rakyat ini. Mari kita kawal bersama, karena dari sini akan lahir para pemimpin generasi masa depan Indonesia," pungkas sang Bupati optimis.Penulis : Dimetri Robby







0 Komentar