Tanamonews.com — Jumat (25/9/2026) seharusnya menjadi hari ketika kegelisahan insan olahraga Sumatera Barat mulai menemukan jawaban. Setelah berhari-hari menunggu kepastian Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumbar 2026, secercah harapan akhirnya muncul dari Pendopo Gubernur Sumatera Barat.
Namun, harapan itu belum sempat berubah menjadi keputusan. Di tengah kabupaten dan kota menghitung hari, anggaran, keberangkatan hingga nasib atletnya, sebuah Story justru muncul dari akun Instagram @koni_sumbar_official: “CIEE GALAAAUUU TUUU”, lengkap dengan emoji tertawa terbalik.
Rakor KONI se-Sumatera Barat
Ketua KONI Pesisir Selatan M. Adli menjadi salah seorang yang mengikuti langsung rangkaian dinamika tersebut. Ia hadir sejak Rapat Koordinasi KONI Sumbar bersama KONI kabupaten/kota se-Sumatera Barat hingga ikut menunggu hasil pertemuan Ketua KONI Sumbar Hamdanus dengan Gubernur Sumbar Mahyeldi.
Rangkaian itu bermula Kamis (24/9/2026). KONI Sumatera Barat menggelar Rapat Koordinasi bersama KONI kabupaten/kota se-Sumbar di Kantor KONI Sumbar. Berdasarkan surat undangan Nomor 1148/U/K-SB/KU/IX/2026, sebanyak 19 KONI kabupaten/kota diundang untuk menyamakan persepsi mengenai pelaksanaan Porprov XVI.
Di ruang rapat itulah berbagai persoalan yang selama ini dihadapi daerah dibuka. Sebanyak 12 KONI kabupaten/kota, termasuk Pesisir Selatan, meminta pelaksanaan Porprov digeser ke November 2026. Salah satu persoalan utama yang disampaikan adalah APBD Perubahan yang belum dapat dicairkan sesuai kebutuhan persiapan kontingen.
Bagi Pesisir Selatan, persoalan tersebut sangat konkret. Daerah bukan tidak ingin mengikuti Porprov. Atlet telah dipersiapkan, cabang olahraga telah bergerak dan dukungan anggaran juga telah disediakan. Persoalannya, rentang waktu yang tersedia dinilai terlalu sempit untuk menyelesaikan pencairan anggaran dan seluruh kebutuhan kontingen secara tertib.
Pertemuan Dengan Gubernur, Hamdanus: Siapkah pada 10 November?
Rakor tersebut akhirnya menghasilkan satu langkah lanjutan. Hamdanus dijadwalkan bertemu Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi pada Jumat pagi (25/9/2026) untuk menyampaikan aspirasi daerah mengenai perubahan jadwal Porprov. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sumbar Tasliatul Fuaddi juga tercatat hadir dalam Rakor tersebut.
M. Adli bersama sejumlah pengurus KONI kabupaten/kota kemudian ikut menunggu hasil pertemuan tersebut di Pendopo Gubernur. Mereka menanti jawaban yang bukan hanya menentukan agenda organisasi, tetapi juga menyangkut persiapan atlet di daerah masing-masing.
Harapan itu seperti menemukan jawabannya ketika Hamdanus selesai bertemu Mahyeldi. Menurut kesaksian Adli, Hamdanus menghampiri pengurus KONI kabupaten/kota yang telah menunggu dan bertanya, “Apakah KONI kabupaten dan kota siap melaksanakan Porprov pada 10 November 2026 mendatang?” Ujar Adli menirukan gaya Hamdanus pagi itu.
Pertanyaan tersebut disambut gembira para perwakilan daerah. Bahkan para Ketua KONI yang hadir, tak berhenti bersyukur dan saling “Tos” satu sama lain bahkan dengan Ketua KONI Hamdanus. Salah seorang Ketua KONI yang hadir juga dengan penuh syukur berucap “Alhamdulillah, Jum’at Berkah.”
Bagi Adli yang berada dalam rangkaian pertemuan itu, tanggal 10 November memberi harapan baru. Tambahan waktu berarti kesempatan bagi daerah untuk menuntaskan administrasi, pencairan anggaran, perlengkapan kontingen hingga persiapan atlet secara lebih layak.
Porprov Diundur 10 November, Heboh di Grup WA Pengcab dan KONI
Pernyataan secara lisan Hamdanus mengenai kesiapan Porprov pada 10 November itu pun dengan cepat diterima sebagai kabar menggembirakan. Informasi tersebut bahkan menyebar ke sejumlah grup WhatsApp cabang olahraga dan KONI kabupaten/kota se-Sumatera Barat.
Kabar itu berpindah dari satu grup ke grup lainnya. Bagi atlet, pelatih dan pengurus cabang olahraga yang sejak beberapa hari sebelumnya menunggu kepastian, November seolah menjadi jawaban atas kegelisahan mereka. Daerah mulai memiliki gambaran waktu untuk menyelesaikan anggaran, administrasi dan persiapan kontingen.
M. Adli mengaku ikut menyaksikan bagaimana kabar tersebut diterima dengan antusias. Apalagi, informasi mengenai 10 November muncul setelah Ketua KONI Sumbar bertemu langsung dengan Gubernur Sumatera Barat. Karena itu, menurutnya, wajar apabila pengurus olahraga di daerah menganggap informasi tersebut bukan sekadar wacana biasa.
“Kami yang ada di sana tentu menangkapnya sebagai kabar gembira. Bahkan kabar Porprov diundur itu sudah menyebar ke grup-grup WhatsApp Cabor dan KONI kabupaten/kota. Kawan-kawan menyambut gembira karena menganggap sudah ada jalan keluar,” kata Adli.
Hamdanus kemudian menyampaikan bahwa tahapan berikutnya adalah menemui Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat untuk mengurus administrasi formal terkait perubahan jadwal. Pengurus KONI kabupaten/kota pun menunggu kabar lanjutan setelah pertemuan tersebut.
Kena Prank! Ciee Galau Tu..
Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Kepastian administratif mengenai perubahan jadwal tak kunjung diterima. Sebaliknya, daerah kembali diminta menuntaskan pendaftaran kontingen melalui aplikasi Sirimau.
KONI Sumbar memperpanjang batas pendaftaran hanya beberapa jam, dari sebelumnya Kamis (24/9/2026) pukul 23.59 WIB menjadi Jumat (25/9/2026) pukul 18.00 WIB.
Dalam rilis tersebut, Hamdanus menegaskan, “Pendaftaran agar segera diselesaikan dan dimanfaatkan waktu yang diberikan sampai batas waktu yang telah ditetapkan.”
Situasi itu membuat pertanyaan daerah semakin besar. Pagi harinya mereka mendengar langsung wacana pelaksanaan 10 November. Kabar tersebut telanjur menyebar kepada Cabor dan insan olahraga di berbagai daerah. Namun beberapa jam kemudian, daerah justru kembali berhadapan dengan tenggat pendaftaran yang tetap berjalan.
“Makanya kalau kemudian ternyata tidak ada keputusan seperti yang kami harapkan, tentu kawan-kawan merasa seperti kena prank. Pagi kami mendapat kabar yang membuat lega, sudah menyebar pula ke Cabor dan atlet, tetapi setelah itu kami kembali bertanya-tanya. Jadi sebenarnya Porprov ini kapan?” ujar Adli.
Belum selesai kebingungan tersebut, pada hari yang sama muncul sesuatu yang semakin menarik perhatian. Akun Instagram @koni_sumbar_official sempat menampilkan Story bertuliskan “CIEE GALAAAUUU TUUU”, disertai emoji tertawa terbalik dan iringan musik Crayon Shinchan.
Berdasarkan tangkapan layar yang diperoleh, Story tersebut terlihat baru diunggah sekitar 15 menit ketika didokumentasikan. Beberapa jam kemudian, unggahan tersebut disebut sudah tidak lagi terlihat pada akun tersebut.
Hingga kini belum ada keterangan yang terverifikasi mengenai konteks unggahan tersebut, kepada siapa kalimat “CIEE GALAAAUUU TUUU” itu ditujukan maupun alasan Story tersebut kemudian tidak lagi terlihat.
Namun kemunculannya terjadi pada saat daerah sedang berada dalam ketidakpastian. Hanya beberapa jam sebelumnya, pengurus KONI kabupaten/kota menerima harapan mengenai kemungkinan Porprov digelar 10 November. Di saat bersamaan, atlet dan Cabor di berbagai daerah menunggu jawaban tentang kapan mereka sebenarnya akan bertanding.
Bagi Adli, kegelisahan yang dialami daerah bukan perkara lucu. Di balik ketidakpastian tersebut ada atlet yang sudah berlatih berbulan-bulan, pelatih yang menyusun program latihan, Pengcab yang mempersiapkan kontingen serta pemerintah daerah yang harus mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran.
“Kalau ditanya siapa yang galau, tentu kami galau. Atlet kami juga galau. Mereka sudah latihan berbulan-bulan, tetapi sampai mendekati pelaksanaan masih bertanya: jadi berangkat atau tidak, bertanding Oktober atau November? Ini menyangkut atlet, bukan sekadar candaan,” kata Adli.
Menurutnya, KONI Sumbar semestinya menjadi rumah yang mampu memberikan ketenangan dan kepastian kepada KONI kabupaten/kota ketika menghadapi persoalan. Perbedaan pandangan mengenai jadwal, kata dia, seharusnya diselesaikan melalui komunikasi dan keputusan yang jelas.
“Kami tidak sedang mencari ribut dengan KONI Sumbar. Kami meminta kepastian. Kalau memang Oktober, sampaikan dan jelaskan. Kalau November, putuskan. Jangan sampai atlet kita yang menjadi korban karena daerah terus menunggu,” ujarnya.
Adli menegaskan, sikap Pesisir Selatan sejak awal bukan menolak Porprov. KONI bersama Pengcab di Pesisir Selatan telah mempersiapkan atlet. Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan juga telah menyiapkan dukungan anggaran bagi kontingen. Persoalannya adalah waktu pencairan dan proses administratif yang tidak dapat diselesaikan hanya dalam hitungan hari.
Karena itu, menurut Adli, kegelisahan daerah bukan sesuatu yang pantas dipandang ringan. Di balik satu keputusan jadwal terdapat atlet yang menjaga kondisi fisik, menjalani latihan dan mempersiapkan diri untuk membawa nama daerah.
“Yang kami perjuangkan bukan kepentingan Ketua KONI kabupaten/kota. Yang kami pikirkan anak-anak kita. Jangan sampai mereka sudah berlatih dan berharap tampil, tetapi akhirnya gagal berangkat hanya karena persoalan jadwal dan administrasi yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui komunikasi yang baik,” kata Adli.
Bahkan, jika Story tersebut memang berkaitan dengan kegaduhan jadwal Porprov, Adli menilai persoalannya bukan lagi tentang siapa yang sedang “galau”.
“Yang galau itu atlet kita. Yang galau Cabor. Yang galau KONI kabupaten dan kota karena kami harus memberikan jawaban kepada atlet. Jangan kegelisahan mereka justru menjadi bahan candaan,” tegasnya.
KONI Pesisir Selatan Dapat Dukungan Penuh dari Pemkab
Pesisir Selatan sebelumnya telah mengambil sikap melalui hasil Rakortek KONI Pessel bersama seluruh Pengcab. Mereka meminta Porprov XVI diundur karena keterbatasan waktu penyelesaian anggaran dan administrasi hingga konsekuensi hukum apabila pertandingan tetap dilaksanakan pada 2–14 Oktober 2026.
Dalam pertemuan sebelumnya dengan pengurus KONI Pesisir Selatan, Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni juga memberikan ruang kepada KONI dan insan olahraga untuk menentukan opsi yang dianggap sesuai dengan kondisi persiapan kontingen. Pemerintah daerah tidak mengintervensi keputusan yang lahir dari pembahasan KONI bersama cabang olahraga.
Kini persoalan Porprov XVI Sumbar bukan lagi sekadar memilih Oktober atau November. Yang dipertaruhkan juga kepastian bagi atlet, kredibilitas komunikasi organisasi serta kemampuan para pemangku kepentingan olahraga memberikan satu keputusan yang dapat dijadikan pegangan bersama.
Sebab, bagi atlet yang telah berbulan-bulan berkeringat di tempat latihan, kata “galau” mungkin terdengar sederhana dan mudah dijadikan gurauan di media sosial.
Tetapi bagi mereka, kegamangan itu menyangkut sesuatu yang jauh lebih nyata: latihan yang telah dijalani, kesempatan membela daerah dan harapan untuk berdiri di arena Porprov membawa nama kabupaten/kota masing-masing.
Dan setelah kabar 10 November telanjur menyebar dari Pendopo Gubernur hingga grup-grup WhatsApp Cabor di berbagai daerah, satu pertanyaan masih menggantung di kalangan insan olahraga Sumatera Barat:
Porprov XVI sebenarnya digelar kapan?







0 Komentar