Tanamonews.com, Dharmasraya – Sebuah momen humanis sekaligus taktis terekam di tengah gersangnya dampak kemarau ekstrem di Kabupaten Dharmasraya. Mengenakan topi dinas hitam bertuliskan namanya lengkap dengan lambang garuda di bagian depan, Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, tidak canggung untuk turun langsung dan berjongkok di jalanan kampung demi memasangkan masker secara langsung ke wajah seorang anak laki-laki.
"Pakai masker dulu ya, biar sehat. Biar tidak menghirup udara yang tidak sehat," ucap Bupati Annisa lembut namun tegas sambil merapikan tali masker di telinga sang anak. Sambil menatap optimis mata bocah tersebut, ia melanjutkan, "Pakai masker dulu, baru kita cari solusinya nanti.
"Potongan interaksi nyata ini menjadi potret autentik dari gaya kepemimpinan Annisa: hadir langsung di garis depan, peduli pada detail kesehatan rakyat kecil, dan sigap mengeksekusi solusi. Kehadirannya di tengah kepulan debu kemarau bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan sebuah misi krusial untuk membongkar akar krisis pelayanan dasar air bersih yang dipicu oleh fenomena kemarau panjang El Niño.
Menatap Realita 22 Tahun Kabupaten Dharmasraya
Berdasarkan data di lapangan, kemarau ekstrem tahun ini berdampak masif pada 10 dari 11 kecamatan di Dharmasraya. Saat berdialog langsung dengan warga dan Wali Nagari setempat, terungkap bahwa kekeringan sumur galian dangkal yang berkedalaman hanya 5–7 meter selalu menjadi momok tahunan yang berulang saban musim kemarau tiba.
Bupati Annisa dengan jujur mengakui adanya kelemahan struktural tata kelola air yang telah berlangsung selama puluhan tahun di daerah tersebut. "Sangat disayangkan memang Dharmasraya di umurnya yang sudah 22 tahun ini belum memiliki PDAM. Kita belum memiliki sistem perpipaan, sistem pengelolaan air, dan water treatment yang terintegrasi," ungkap Annisa secara terbuka di lokasi peninjauan.
Menurutnya, ketiadaan sistem interkoneksi membuat masyarakat sangat rentan saat kemarau panjang tiba. Ketergantungan penuh pada Pamsimas swadaya pun dinilai kurang optimal karena kerap kali terkendala isu pemeliharaan teknis di tingkat Nagari.
Aksi Tanggap Darurat: 14 Armada Tangki dan 40 Sumur Bor
Menyikapi jeritan warga yang kesulitan air bersih, Pemkab Dharmasraya bergerak cepat menetapkan solusi jangka pendek secara taktis dan masif.
"Dari pemerintah kabupaten kita sudah melakukan distribusi (air tangki) dan ini berjalan setiap hari. Untuk solusi jangka pendek menghadapi kemarau sekarang, kita menyalurkan kurang lebih 14 armada tangki air bersih, berkolaborasi dengan pihak Provinsi dan BNPB," jelas Bupati Annisa di hadapan petugas lapangan.
Tak hanya itu, Pemkab Dharmasraya menggandeng sektor swasta (perusahaan) dan pemerintah pusat untuk membangun 40 titik sumur bor darurat di kawasan-kawasan krisis. Kepada warga yang terdampak, Annisa langsung memberikan instruksi taktis di tempat.
"Ya sudah, kasih pak. Ya, sumur bor dua ya. Tapi tanahnya siapkan 3x7 meter," perintahnya kepada jajaran dinas terkait demi mempercepat eksekusi hibah tanah dan pengeboran. Namun, Annisa mengingatkan bahwa ini barulah kompres luar terhadap penyakit dalam. "Kita harus sepakat, ini adalah solusi darurat. Solusi jangka pendek, bukan solusi jangka panjang.
Megaproyek Rp150 Miliar: Fondasi Jangka Panjang yang Tak Bisa Ditawar
bagi Annisa Suci Ramadhani, solusi jangka panjang ketersediaan air bersih untuk seluruh masyarakat Dharmasraya adalah harga mati yang mendasar. "Solusi jangka panjangnya adalah Dharmasraya harus memiliki PDAM. Ini tidak bisa ditawar!" tegas bupati visioner ini.
Annisa memaparkan cetak biru (blueprint) pengolahan air bersih modern yang sedang ia bangun. Fokus utamanya adalah mengoptimalkan kembali 4 Water Treatment Plant (WTP) utama, yaitu WTP Pulau Punjung, WTP Sungai Dareh, WTP Sitiung, dan WTP Koto Baru.
"Keempat WTP ini sebenarnya dalam keadaan rusak berat beberapa tahun yang lalu. Namun, Alhamdulillah tahun lalu keempatnya telah kita perbaiki dan saat ini sudah bisa berfungsi," jelas Annisa. Melalui wadah PDAM nantinya, aset-aset infrastruktur ini akan dikelola secara profesional dengan sistem perpipaan terintegrasi dan memiliki bak penampung (reservoir) yang kokoh agar pasokan air tetap aman saat kemarau.
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah kalkulasi total anggaran yang mencapai Rp150 Miliar untuk membangun sistem interkoneksi dan penyaringan komprehensif. Angka yang tergolong raksasa bagi APBD daerah. Namun, lewat jejaring diplomasi yang kuat ke pusat, Bupati Annisa sukses menjemput bola.
Tahun ini, Dharmasraya berhasil mengamankan kucuran dana pusat sebesar Rp20 Miliar untuk optimalisasi kawasan jaringan Pulau Punjung. Langkah legal-formal kelembagaan juga dikebut dengan pendirian Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sebagai payung hukum awal pengelolaan WTP.
Menutup keterangannya, Bupati Annisa menegaskan bahwa dirinya tidak akan berhenti mengetuk pintu pemerintah pusat serta membuka peluang pembiayaan kreatif demi masa depan Dharmasraya."Kita sudah kontak-kontak juga untuk minta anggaran lagi ke pusat dan mengeksplorasi skema KPBU (Public-Private Partnership).
Karena kalau ada kemitraan dengan badan usaha, funding dan pengelolaannya bisa jauh lebih baik dan sistem perpipaannya lebih kuat. Doakan, banyak sekali PR kita untuk membenahi pelayanan dasar Dharmasraya ini. Mohon doanya agar senantiasa dipermudah Allah SWT," pungkas Annisa dengan nada optimis. Penulis : Dimetri Robby







0 Komentar