Tanamonews.com, Dharmasraya – Masalah klasik kelangkaan air bersih yang kerap menghantui masyarakat Kabupaten Dharmasraya saat musim kemarau kini menemui titik balik yang progresif. Di bawah komando Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, pemerintah daerah mengambil langkah konkret dan taktis dengan melakukan lobi strategis ke tingkat pusat guna mengurai simpul kemacetan pelayanan air bersih publik.
Langkah ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa Dharmasraya belum memiliki Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang beroperasi penuh. Akibatnya, masyarakat sangat rentan terhadap ancaman kekeringan karena masih bergantung pada sumur galian tradisional. Merespons kondisi tersebut, Bupati Annisa bergerak cepat mengajukan usulan anggaran tambahan kepada Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk merehabilitasi infrastruktur Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan Water Treatment Plant (WTP) yang telah lama terbengkalai.
Mengoptimalkan Aset Eksisting, Efisiensi Anggaran Jangka Panjang
Lobi intensif ini membuahkan hasil nyata. Usulan Pemkab Dharmasraya mendapat respons positif dari Kementerian PU. Alih-alih membangun infrastruktur baru dari nol yang memakan biaya besar dan waktu lama, Bupati Annisa memilih strategi mitigasi yang lebih cerdas: menghidupkan kembali aset-aset yang telah lama "mati suri.
""Kondisinya, Dharmasraya sebenarnya sudah memiliki WTP dan intake air di beberapa titik kawasan padat penduduk. Namun, sangat disayangkan infrastruktur ini sudah lama sekali tidak berfungsi sehingga mengalami kerusakan parah. Fokus kita adalah membenahi yang sudah ada dan membangun sistem yang lebih kuat," ungkap Annisa Suci Ramadhani dalam kutipan video di akun resminya.
Tercatat ada sejumlah titik SPAM dan WTP strategis yang masuk dalam radar optimalisasi, meliputi WTP Silago, WTP Pulau Sawah, WTP Batang Mimpi, WTP Sitiung, WTP Sungai Duo, WTP Koto Baru, dan WTP Sungai Rumbai. Langkah taktis ini bahkan telah berhasil mengamankan kucuran dana sebesar Rp20 Miliar yang dikhususkan untuk WTP Pulau Sawah.
Sementara untuk wilayah strategis seperti Sungai Rumbai—yang menjadi pintu gerbang utama Sumatera Barat dari arah Jambi—serta Koto Baru, Bupati Annisa secara detail memetakan kendala belum optimalnya idle capacity akibat ketiadaan reservoir serta kerusakan pipa distribusi utama.
Bedah Teknis: Pemetaan Masalah dan Solusi Penanganan
Dalam pemaparannya di hadapan jajaran Kementerian PU, Bupati Annisa menyodorkan hasil kajian lapangan yang sangat komprehensif. Masalah-masalah teknis yang selama ini memicu kemandekan operasional diurai secara gamblang menjadi dua klaster permasalahan utama beserta usulan penangannya:
Klaster Pertama: Kendala Fungsi Intake dan Kualitas Air
- Permasalahan: Tidak berfungsinya intake akibat penurunan muka air, serta merosotnya kualitas dan debit air baku yang dipicu oleh alih fungsi lahan di hulu sungai dan aktivitas penambangan galian C di sepanjang aliran sungai. Selain itu, lama tidak berfungsinya sistem membuat jaringan banyak yang rusak.
- Usulan Penanganan: Pembangunan intake baru, pembuatan sumur bor berkapasitas besar dengan debit sesuai desain Instalasi Pengolahan Air (IPA) pada WTP sebesar 20 L/s, serta penggantian dan penambahan jaringan distribusi pada target layanan.
Klaster Kedua: Kendala Sedimentasi, Mekanikal, Elektrikal, dan SDM
- Permasalahan: Sedimentasi tinggi pada intake karena ketiadaan pintu penguras, penyumbatan pipa transmisi, kerusakan berat pada panel listrik induk, penurunan kinerja pompa karena faktor usia, serta kebocoran pipa distribusi di sepanjang jalan lintas nasional. Masalah ini diperparah oleh krisis SDM pemeliharaan jaringan dan operator WTP.
- Usulan Penanganan: Rehabilitasi intake agar sistem pengurasan dapat berjalan, penggantian pipa transmisi sepanjang 960 meter, penggantian panel induk, penambahan masing-masing 2 unit pompa distribusi dan transmisi, serta pemenuhan kebutuhan tenaga teknis (2 orang) dan operator (3 orang) yang profesional.
Dukungan Penuh Kementerian PU dan Keberlanjutan PDAM
Visi taktis Bupati Annisa yang berfokus pada optimalisasi aset existing ini mendapat apresiasi tinggi dari perwakilan Ditjen Cipta Karya Kementerian PU, Ibu Duni. Pihak kementerian berkomitmen menjadikan usulan ini sebagai prioritas dalam penyusunan program anggaran ke depan.
"Kami akan menghidupkan dulu infrastruktur yang sudah existing. Langkah ini sangat tepat. Sebelum membangun yang baru, kita maksimalkan dulu yang sudah ada. Optimalisasi-optimalisasi seperti ini akan kami dorong untuk didahulukan," tegas Ibu Duni saat meninjau dokumen desain dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah disiapkan matang oleh Pemkab Dharmasraya.
Tidak berhenti di situ, Bupati Annisa juga telah menyiapkan proyeksi jangka panjang untuk menyentuh wilayah padat penduduk lainnya yang selama 10 tahun terakhir belum terjangkau pengembangan pemukiman, yaitu Timpeh, Koto Salak, dan Koto Besar. Untuk ketiga wilayah tersebut, pencarian sumber mata air baru kini menjadi agenda kerja berikutnya.
Seluruh infrastruktur SPAM yang direhabilitasi ini nantinya akan dipersiapkan sebagai aset awal operasional bagi PDAM Dharmasraya yang saat ini sedang dalam proses pendirian. Selaras dengan perbaikan fisik, manajemen juga akan menyiapkan pelatihan profesional bagi para tenaga kerja agar seluruh aset dapat dikelola secara optimal dan akuntabel.
Langkah berani dan terukur dari Bupati Annisa Suci Ramadhani ini diharapkan menjadi fondasi kokoh demi menghadirkan akses air bersih yang andal, berkelanjutan, dan merata demi kesejahteraan seluruh masyarakat Dharmasraya.
Penulis: Dimetri Robby
Editor :Redaksi Tanamonews.com







0 Komentar