Tanamonews.com, Dharmasraya – Merespons pemburukan kualitas udara dan lonjakan suhu ekstrem yang kian mengkhawatirkan, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya bergerak cepat melindungi warganya. Di bawah instruksi langsung Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, S.H., LL.M., jajaran Dinas Kesehatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung turun ke jalan untuk mendistribusikan masker secara masif kepada masyarakat.
Langkah taktis ini diambil menyusul pekatnya kabut asap yang diduga kuat merupakan polusi kiriman dari wilayah tetangga.
Berdasarkan rilis infografis resmi Pemerintah Kabupaten Dharmasraya pada Selasa (6/10/2026), angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Bumi Cati Nan Tigo menyentuh level 135, yang mengonfirmasi bahwa kualitas udara berada dalam kategori Tidak Sehat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dharmasraya, Yosta Defina, mengungkapkan bahwa aksi kemanusiaan ini merupakan pengejawantahan dari atensi besar Bupati terhadap kesehatan publik. Sebanyak 5.000 masker langsung disebar di enam titik urat nadi mobilitas warga, meliputi kawasan depan RSUD Sungai Dareh, halaman Kantor Bupati Dharmasraya, Sikabau, Koto Baru, Sungai Rumbai, hingga Tiumang.
"Memburuknya kualitas udara ini menjadi alarm bagi kita semua. Atas arahan serta komitmen kuat dari Ibu Bupati Annisa Suci Ramadhani untuk memprioritaskan keselamatan warga, kami langsung bergerak membagikan masker kepada para pengguna jalan," ujar Yosta Defina tegas.
Tidak berhenti di jalan protokol, Yosta menambahkan bahwa komando dari Bupati Annisa juga diteruskan ke tingkat akar rumput. Seluruh Puskesmas di Kabupaten Dharmasraya kini telah diinstruksikan untuk bergerak serentak membagikan masker di wilayah kerja masing-masing guna memastikan proteksi yang merata.
Panduan Ganda: Hadapi Kabut Asap dan Cuaca Panas Ekstrem
Melalui imbauan resmi Dinas Kesehatan, Pemkab Dharmasraya tidak hanya menyoroti kabut asap, melainkan juga mengantisipasi dampak cuaca panas ekstrem yang melanda. Masyarakat diminta untuk membatasi aktivitas luar ruangan, terutama antara pukul 10.00 hingga 15.00 WIB yang menjadi puncak terik matahari.
Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, warga diwajibkan menggunakan masker, pelindung diri seperti topi atau payung, serta menjaga hidrasi dengan meminum air putih minimal 8 gelas sehari. Jendela dan pintu rumah juga diimbau untuk ditutup rapat demi meminimalkan partikel asap masuk ke dalam kediaman.
Yosta juga memastikan bahwa seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari Puskesmas hingga rumah sakit, bersiaga penuh 24 jam untuk melayani warga yang mengeluhkan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), sesak napas, batuk tak kunjung sembuh, mata perih berair, hingga pusing hebat akibat dehidrasi.
Nihil 'Hotspot' Internal, Diduga Kuat Asap Kiriman
Di sisi lain, potret mitigasi bencana memperlihatkan performa koordinasi yang solid. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Dharmasraya, Suherman Junaidi, memaparkan fakta bahwa wilayah Dharmasraya sebenarnya bersih dari titik api internal.
"Berdasarkan pantauan intensif kami, sejak 23 September 2026 hingga hari ini, tidak ada lagi hotspot yang terpantau di wilayah Kabupaten Dharmasraya," jelas Junaidi.
Fakta empiris ini memperkuat dugaan bahwa kabut asap pekat yang menyelimuti Dharmasraya hari ini merupakan polusi lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah tetangga.
Kendati demikian, BPBD bersama instansi lintas sektoral tetap menyiagakan radar pemantauan guna mengantisipasi segala potensi karhutla di wilayah lokal.
Melalui momentum ini, Pemkab Dharmasraya kembali mengetuk kesadaran kolektif masyarakat untuk tidak memperkeruh situasi dengan melakukan pembakaran sampah atau lahan secara terbuka.
Penulis:Dimetri Robby







0 Komentar