Tanamonews.com, Padang — Kehadiran orang tua yang mengantar anak selalu mencuri perhatian dalam setiap pelaksanaan UTBK. Pemandangan itu terlihat di Universitas Negeri Padang (UNP). Sejak hari pertama pelaksanaan UTBK-SNBT 2026 pada 21 April hingga hari kelima, Sabtu (25/4/2026).
Orang tua mereka datang bukan sekadar mengantar, tetapi ikut menanggung harapan anak-anak mereka. Eka Fitri menjadi salah satu yang menarik. Ia bersama suaminya, Editya Warman dan anaknya yang kecil terlihat duduk menunggu di pelataran parkir Masjid Al Azhar UNP. Menurut pengakuan keduanya yang tiba di Padang pada Kamis (24/4/2026) menempuh perjalanan dari Lintau, Kabupaten Tanah Datar, menggunakan bus.
Mereka datang khusus untuk mengantarkan anak pertama mereka, Hafizah, siswa SMA Negeri 1 Lintau, mengikuti UTBK di UNP. Selama di Padang, keluarga ini menginap di rumah saudara. Bagi Eka yang sehari-hari bekerja sebagai petani, perjalanan itu bukan hal kecil. Ia ingin anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dari yang ia jalani saat ini. “Jangan sampai seperti saya,” ujarnya pelan.
Harapan itu sederhana, agar Hafizah bisa melanjutkan pendidikan hingga menjadi sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Kisah dari Limapuluhkota, Datuk Rangkayo Basa datang sejak Kamis untuk memastikan anaknya siap mengikuti ujian sesi pagi ini. Ia bahkan meninjau lokasi ujian sehari sebelumnya.
Anak bungsunya, Azam Al Farizi, siswa berprestasi di SMA Negeri 2 Bukit Sambuang Padang Mangateh, menjadi harapan keluarga untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sehari-hari bekerja sebagai peternak ikan, ia memandang pendidikan sebagai bekal penting, bukan hanya untuk pekerjaan, tetapi juga pembentukan karakter.
“Pertama untuk membentuk kepribadian dan wawasan. Kedua, untuk peluang kerja. Sekarang peluang kerja terbatas, jadi kalau bisa mereka menciptakan pekerjaan sendiri,” ujarnya. Ia meyakini bahwa pendidikan tinggi dapat memperluas pola pikir anak. Dengan bekal itu, menurutnya, anak-anak tidak hanya bergantung pada pekerjaan formal, tetapi juga mampu membuka peluang dan bahkan menciptakan lapangan kerja.
Sementara itu, dari Kabupaten yang sama, Tanti juga menjalani perjuangan yang serupa. Ia datang untuk mendampingi anak keduanya, Gian Dharma, siswa SMA Negeri 1 Gaduik, Kabupaten Limapuluh Kota. Tanti menginap di penginapan di Padang dan memilih menunggu hingga sesi ujian selesai sebelum langsung kembali ke kampung halaman.
“Kalau uang, kita beri tidak akan cukup-cukup. Tapi pendidikan, itu yang bisa jadi modal mereka ke depan,” katanya. Di tengah pelaksanaan UTBK yang berlangsung tertib, kehadiran orang tua seperti Eka Fitri, Tanti, dan Datuk Rangkayo Basa menjadi gambaran bahwa perjuangan menuju pendidikan tinggi tidak dijalani sendiri oleh peserta.
Ada orang tua yang turut mengantar, menunggu, dan berharap dengan caranya masing-masing. Kisah ini sejalan dengan upaya mendukung SDGs 4 (Quality Education / Pendidikan Berkualitas), yang menekankan pentingnya akses pendidikan yang inklusif dan merata sebagai kunci peningkatan kualitas hidup di masa depan.







0 Komentar