PIMRED : ROBBY OCTORA ROMANZA (WARTAWAN UTAMA)

6/recent/ticker-posts
"SEBAR LUASKAN INFORMASI KEGIATAN DAN PROMOSI USAHA ANDA DISINI"

PERANG IRAN PEMBELAJARAN KITA

 “Ulah hees ku hese, ulah layu ku payu, kudu lain jeung nu lian” (Nasehat orang tua Sunda)

“Jangan berputus asa dalam kesulitan, tidak sombong/ lengah dalam kesuksesan, harus berbeda dengan yang lain” 

Tanamonews.com - Sekarang, hampir setiap saat, kita mendengar atau membaca berita tentang perang Iran melawan Amerika dan sekutunya, Israel, baik di media mainstream, maupun melalui sosial media. Kegagalan negosiasi damai yang dimediasi Pakistan, banyak diperbincangkan oleh para pengamat dan analis dari berbagai sudut pandang.

Secara umum, para pengamat dan analisis mengagumi Iran sebagai bangsa berani, punya harga diri yang tinggi, serta berhasil mengembangkan dan memiiki teknologi yang tinggi, sekalipun selama empat dekade lebih diembargo, dan dibekukan seluruh asetnya di luar negeri. Di lain sisi ada juga yang tidak setuju dengan Iran, dan pro Amerika dan Israel.

Awal tahun1980, ketika baru saja revolusi Iran selesai, ditandai dengan pergantian penguasa, penulis dibawa oleh seorang akitivis Pelajar Islam Indonesia (PII) mengunjungi kedutaan besar Iran. Di kedutaan besar Iran saat itu diputar film tentang kejahatan Syah Iran, Reza Pahlavi yang didukung oleh Amerika-Israel, serta perjuangan para pejuang/ mujahid Iran dalam menumbangkan rezim Pahlavi. Selain menonton film revolusi Iran, juga ada staf kedutaan memberikan informasi tentang latar belakang, proses berjalannya revolusi Iran, serta arah dan tujuan bangsa Iran ke depannya, yang kemudian dilanjutkan denga tanya jawab yang menarik.  

Ada dua tokoh besar penggerak Revolusi Iran, yang terekam sangat dalam di ingatan penulis yaitu alamah Thabathaba’i yang menjadi salah satu  arsitek revolusi Iran melalui pemikirannya yang banyak dituliskan lewat karya karyanya, dan imam Khomenei yang menjadi eksekutor revolusi Iran, yang merekam pidato-pidatonya dari Perancis, lalu disebarkan kepada para aktivis dan rakyat Iran yang mencintai negaranya. Pemikiran dan pidato keduanya menjadi senjata dan mesin yang sangat sakti, mempengaruhi rakyat Iran untuk menggerakan revolusi Iran sebagai solusi untuk mengakhiri rezim Pahlavi yang disokong oleh Amerika-Israel yang ingin mengangkangi kekayaan alam Iran. 

Pulang dari sana, saking terpesonanya penulis kepada keduanya, poster besar imam Khomenei dan alamah Thabathba’i yang didapat dari kedutaan Iran, penulis pasang di kamar penulis di perumnas Klender. Baik alamah Thabathaba’i dan imam Khomenei, keduanya adalah pemikir dan aktivis hebat. Mereka sangat mendalami pemikiran pemikiran Islam klasik, serta menguasai filsafat dan pemikiran Barat. Keduanya menentang pemikiran komunisme dan materialisame melalui pembedahan pisau filsafat yang tajam. Menurutnya baik materialisme maupun komunisme keduanya dapat melahirkan penjajahan dan perbudakan, serta dapat menjerumuskan manusia dalam kehampaan dan kehinaan.

Keduanya sepakat, Islam menjadi dasar bagi semua kegiatan manusia, dan menjadi solusi bagi setiap problem manusia. Mereka berdua sangat menekankan integritas antara etika individual dengan tanggung jawab sosial. Meminjam istilah Ali Shariati, mereka berdua termasuk  Rausyan Fikr, para pemikir yang tercerahkan., yang tidak berhenti dalam tataran pemikiran, tapi keduanya terjun langsung ke masyarakat memberikan harapan serta mencarikan solusi Bersama dalam setiap permasalahan.

Kemudian pemikiran alamah Thabathaba’i menjadi salah satu topik yang sangat menarik untuk didiskusikan bersama teman teman di IAIN dulu, selain pemikir besar Iran lainnya seperti Muthahari, Syariati, Mulla Sadra dan sebagainya. Saking tertariknya dengan pemikiran alamah Thabathaba’I ketika itu, penulis bersama seorang teman kuliah pernah berkunjung ke kedutaan besar Iran untuk meminta tafsir al-Mizan karya Thabathaba’i. Sayang ketika kami datang, tafsir al-Mizan di kedutaan Iran saat itu sedang kosong.

Tahun 2004 ketika berhaji, penulis beberapa kali menghadiri diskusi jamaah Iran yang diadakan di sebuah tempat di dekat masjidl Haram, dimana banyak jamaah Iran berkumpul. Diskusi yang diadakan setelah shubuh membahas banyak hal selain pemikiran para ulama Iran, juga sikap mereka yang anti terhadap hegemoni kekuasaan Amerika di wilayah Timur Tengah. 

Penulis sangat mengagumi bagaimana jamaah Iran, yang sebagian besar masih muda mendiskusiakan  ide ide besar revolusi Iran dalam kontek kekinian pada saat itu dengan penuh semangat. Penulis juga  mengagumi bagaimana ide ide besar revolusi Iran dapat terus diturunkan dan dilanjutkan dari generasi ke generasi dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Selain menikmati diskusi, penulis juga sangat menikmati sarapan gratis masakan Iran yang lezat seperti Kebab, dan biryani, dan pulangnya, juga bisa sekalian menumpang mobil jamaah Iran yang akan menuju arah Aziziyah, tempat penulis tinggal selama berhaji.

Dalam mobil yang penulis tumpangi, penulis sempat bertanya kepada salah seorang pemuda Iran, tentang bagaimana sistim pendidikan di Iran, sehingga mampu menghasilkan para pemuda dan generasi penerus Iran yang begitu militan, berkarakter dan memegang teguh semangat revolusi Iran, di tengah  gelombang embargo dan penyitaan asset negara Iran oleh Amerika sejak Agustus 1979 (jaman presiden Carter). 

Dengan penuh semangat pemuda tersebut bercerita bahwa pendidikan di Iran sama saja dengan pendidikan di negara negara lain, tapi kurikulum pendidikan benar benar didasarkan kepada ideologi, yaitu al-Islam yang diyakini dapat menjawab dan memberikan solusi terhadap segala macam problem manusia. 

Matematika dan logika diajarkan secara benar dan berkelanjutan dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Adab untuk memuliakan guru dan ulama bukan cuma diajarkan, tapi dipraktekan dan contohkan oleh semua pihak. Pendidikan hampir bisa dikatakan gratis. Kebutuhan dasar seperti air, harga kebutuhan pokok, kesehatan, perumahan semua disubsidi oleh pemerintah, dan rakyat Iran membayar dengan harga sangat murah dan terjangkau.

Ketika Clinton (presiden AS) memperluas sanksi kepada negara Iran yang mencakup larangan berdagang dan investasi, negara Iran tetap bertahan dan berdiri tegap dikarenakan pendidikan yang menanamkan ideologi sebagai negara Islam berjalan dengan sempurna.  Bagi rakyat Iran, pendidikan ideologi tidak terbatas di kelas, tapi bisa dilihat dan dirasakan oleh mereka. Mereka melihat dan merasakan sikap integritas yang tinggi dari para pemimpin dan ulamanya. 

Para ulama dan pemimpin Iran lebih dahulu mencontohkan ajaran ajaran dari doktrin/ ideologi dengan mempraktekannya dalam kehidupan sehari hari, seperti kesederhanaan, mementingkan rakyat, dan rela berqurban, dan mencarikan solusi bersama dalam menghadapi setiap problem sosial. Integritas yang sangat tinggi, yang dipraktekan oleh para pemimpin Iran dalam kehidupan sehari hari, menjadi kunci dari kesuksesan Iran tetap bertahan menjadi bangsa yang bermartabat hingga saat ini.

Dengan integritas para pemimpin dan ulama Iran itulah yang melahirkan rasa hormat dan cinta rakyat Iran kepada para pemimpin dan ulamanya. Tahun 2026, ketika Iran diserang Amerika dan Israel, lagi lagi Iran sebagai bangsa menunjukkan dirinya sebagai bangsa yang beradab, yang tidak tunduk pada ancaman, maupun kekuatan militer Amerika-Israel. Iran berhasil membalas setiap serangan militer dengan senjatanya yang mereka rancang sendiri, dan juga berdiri tegap sebagai bangsa yang terhormat dalam perundingan dengan Amerika.

Diembargo, dikucilkan dari pergaulan internasional, dikerubuti dan digempur oleh beberapa negara sekutu Amerika-Israel, serta fitnahan dari media barat tidak menjadikan Iran lemah, malahan menjadikan bangsa yang mandiri, baik secara ekonomi maupun teknologi persenjataannya.

Penulis jadi teringat pepatah orang orang tua Sunda dahulu yang mengatakan “Ulah hees ku hese, ulah layu ku payu, kudu lain jeung nu lian” yang secara bebas berarti jangan pernah putus asa ketika menghadapi kesulitan, jangan pernah sombong dan lengah ketika berada di atas, dan mesti berbeda dengan yang lainnya. 

Rakyat Iran tidak pernah berputus asa dalam kesulitan. Mereka hadapi semua embargo,  pembekuan asset serta fitnahan negara-negara barat lewat medianya dengan dada terbuka, berdiri dengan tegak, dan tidak menjual kehormatan mereka. Mereka belajar dari sejarah panjang bangsanya, terus mengembangkan diri dan keyakinan penuh bahwa kebenaran pasti akan menemukan jalannya sendiri. Ini gambaran ulah hees ku hese.

Ketika bernegosiasi dengan Amerika di Pakistan pun, Iran tidak lengah dan mudah terpedaya. Iran belajar dari sejarahnya bagaimana negara negara barat seringkali ingkar janji  dengan kesepakatan yang telah dibuatnya. Tetap waspada dan berhati hati itulah inti dari ulah layu ku payu. Para pemimpin dan ulamanya tidak mudah dirayu dengan kesenangan dunia yang mengorbankan harga diri dan bangsanya.  

Terakhir, Iran mempraktekan kudu lain jeung nulian, artinya harus berbeda dengan yang lain. Iran telah mempraktekan taktik, strategi dan teknologi perang Iran berbeda dengan cara mesin perang negara yang lain yang mengandalkan mesin perang yang mahal.

Dengan pendidikan yang baik, Iran telah menghancurkan mitos Amerika sebagai polisi dunia yang super, dan juga mengubah geopolitik baik regional maupun global. Para pemimpin mereka boleh gugur, tapi semangat dari ideologi yang terus diturunkan melalui pendidikannya tidak hancur malahan semakin militan. Semoga kita dapat belajar dari kasus Iran ini. Penulis: Nanang Sumanang

Posting Komentar

0 Komentar





Selamat datang di Portal Berita, Media Online : www.tanamonews.com, atas nama Redaksi mengucapkan Terima kasih telah berkunjung.. tertanda: Owner and Founding : Indra Afriadi Sikumbang, S.H. Tanamo Sutan Sati dan Pemimpin Redaksi : Robby Octora Romanza