Hadiri Pentas Seni Bersama Wamen Dikdasmen, Bunda Lisda: Anak Berkebutuhan Khusus Berhak Bermimpi dan Meraih Masa Depan
Tanamonews.com, Jakarta – Setiap anak memiliki keistimewaan, potensi, dan kesempatan yang sama untuk meraih masa depan. Pesan kesetaraan tersebut mengemuka dalam pertunjukan drama musikal anak berkebutuhan khusus bertajuk Aku Hanya Kupu-Kupu Kecil, yang digelar di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. Hj. Lisda Hendrajoni, S.E., M.M.Tr., turut hadir bersama Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menyaksikan penampilan anak-anak berkebutuhan khusus yang menunjukkan bakat serta kemampuan mereka melalui seni dan tari.
Pertunjukan yang diinisiasi Komunitas Aku Menari tersebut menghadirkan kisah perjuangan, harapan, dan proses tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus. Melalui gerakan tari dan ekspresi seni, mereka menunjukkan bahwa kondisi yang berbeda bukanlah penghalang untuk berkarya dan berprestasi.
Kehadiran Lisda Hendrajoni yang akrab disapa Bunda Lisda menjadi bagian dari perhatian terhadap pemenuhan hak anak dan penyandang disabilitas, terutama dalam memperoleh kesempatan pendidikan, pengembangan bakat, serta penerimaan sosial yang setara.
Bunda Lisda memandang bahwa anak berkebutuhan khusus tidak boleh dinilai semata-mata dari keterbatasan yang dimiliki. Mereka mempunyai potensi besar yang dapat terus berkembang apabila mendapatkan dukungan, kepercayaan, dan kesempatan dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
“Setiap anak dilahirkan dengan keistimewaannya masing-masing. Anak-anak berkebutuhan khusus juga mempunyai mimpi, cita-cita, dan masa depan yang harus kita dukung bersama. Jangan pernah membatasi harapan mereka hanya karena kondisi yang berbeda,” demikian draf pernyataan Bunda Lisda.
Menurutnya, penampilan anak-anak berkebutuhan khusus dalam pertunjukan tersebut menjadi pengingat penting bahwa kemampuan seseorang tidak selalu dapat diukur melalui standar yang sama. Setiap anak mempunyai kelebihan yang perlu ditemukan, dihargai, dan dikembangkan.
Bagi Bunda Lisda, keberadaan anak berkebutuhan khusus harus mendapatkan perhatian bersama. Dukungan tidak cukup hanya diberikan melalui rasa simpati, melainkan juga melalui tersedianya pendidikan yang layak, ruang berekspresi, dan kesempatan untuk hidup mandiri.
“Mereka tidak membutuhkan belas kasihan semata, tetapi membutuhkan kesempatan, kepercayaan, dan ruang untuk membuktikan kemampuan mereka. Ketika kita memberikan kesempatan yang sama, kita sedang membuka jalan bagi masa depan mereka,” menjadi pesan lain dalam draf pernyataannya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, memberikan apresiasi terhadap penampilan anak-anak berkebutuhan khusus. Ia mengibaratkan perjalanan mereka seperti proses metamorfosis kupu-kupu yang membutuhkan waktu, pendampingan, dan kepercayaan untuk tumbuh dan berkembang.
“Anak-anak kita punya harapan, punya masa depan. Seperti kupu-kupu, mereka menjalani proses untuk tumbuh dan berkembang, hingga suatu hari bisa terbang tinggi,” ujar Fajar dalam kegiatan tersebut.
Fajar menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong penyelenggaraan pendidikan inklusif agar seluruh anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, memperoleh hak pendidikan tanpa diskriminasi. Sekolah diharapkan mampu memberikan layanan pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik.
Sebagai salah satu langkah penguatan pendidikan inklusif, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menargetkan sebanyak 1.500 guru mengikuti Pelatihan Pendidikan Inklusif tingkat mahir pada 2026. Program tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga pendidik dalam memberikan layanan kepada anak berkebutuhan khusus.
Semangat tersebut sejalan dengan perhatian Bunda Lisda terhadap dunia pendidikan dan perlindungan sosial. Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Pesisir Selatan, Lisda selama ini mendorong pentingnya pemerataan kesempatan belajar serta pemenuhan kebutuhan anak dan keluarga.
Bunda Lisda berharap kesadaran terhadap hak anak berkebutuhan khusus semakin tumbuh di tengah masyarakat. Peran orang tua, tenaga pendidik, pemerintah, dan lingkungan sosial dinilai sangat penting dalam membangun rasa percaya diri serta kemandirian anak.
“Jangan sampai ada anak yang kehilangan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kemampuannya hanya karena keterbatasan fasilitas maupun kondisi yang mereka miliki. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, kasih sayang, dan masa depan yang lebih baik,” demikian draf pernyataan Bunda Lisda.
Pertunjukan Aku Hanya Kupu-Kupu Kecil sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik setiap perbedaan terdapat potensi yang patut dihargai. Dengan dukungan dan kesempatan yang setara, anak-anak berkebutuhan khusus dapat terus tumbuh, berkarya, dan mewujudkan cita-cita mereka. (Bee)







0 Komentar