Diancam Sanksi CAATSA AS, Indonesia Batal Beli 11 Jet Tempur Su-35 Rusia - Tanamonews.com
  • Breaking News

    Diancam Sanksi CAATSA AS, Indonesia Batal Beli 11 Jet Tempur Su-35 Rusia


    Tanamonews | Indonesia dilaporkan membatalkan kesepakatan untuk membeli 11 unit pesawat jet tempur Su-35 Rusia setelah mendapat ancaman dari pemerintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Tak hanya itu, Indonesia juga disebut ditekan untuk tidak membeli kapal militer China.

    Pembatalan pembelian pesawat tempur itu dilaporkan media Amerika, Bloomberg, dalam laporannya 12 Maret 2020. Laporan itu mengutip seorang pejabat Indonesia yang mengetahui masalah itu dan meminta untuk tidak diidentifikasi karena rincian diskusi tetap rahasia.

    Pejabat tersebut mengatakan Indonesia baru-baru ini memutuskan untuk tidak bergerak maju dengan rencana untuk membeli 11 jet tempur Sukhoi Su-35 dengan harga sekitar USD1,1 miliar. Bulan lalu, pejabat itu juga mengungkap bahwa AS juga menekan Indonesia untuk meninggalkan pembicaraan dengan China guna memperoleh beberapa kapal patroli Angkatan Laut dengan harga sekitar USD200 juta.

    Menurut pejabat tersebut, langkah untuk mengesampingkan kesepakatan dengan Rusia terjadi setelah para pejabat Amerika menjelaskan bahwa Indonesia dapat menghadapi sanksi karena berurusan dengan Moskow. Pemerintahan Presiden Joko Widodo juga khawatir AS akan mengambil tindakan hukuman terhadap perdagangan jika melakukan kesepakatan pembelian kapal militer dengan China.

    Langkah tersebut menggambarkan bagaimana AS mencapai beberapa keberhasilan kadang-kadang dengan menggunakan tuas keuangan dan ekonomi menghalangi negara-negara untuk berurusan dengan Rusia dan China, yang diidentifikasi oleh pemerintahan Trump sebagai ancaman terbesar bagi keamanan nasional Amerika.

    Rudal Rusia

    AS telah secara terbuka berselisih dengan Turki atas pembelian senjata Rusia, khususnya rencana Ankara untuk mengaktifkan sistem pertahanan rudal S-400 yang canggih. Washington juga menekan India untuk membatalkan kontrak pembelian S-400 senilai lebih dari USD5 miliar.

    Berdasarkan kesepakatan barter yang diumumkan pada Agustus 2017, Indonesia berencana untuk membeli 11 jet tempur Sukhoi Su-35 dengan imbalan Rusia membeli barang-barang Indonesia seperti karet, minyak kelapa sawit mentah, kopi, teh, furnitur, dan rempah-rempah. Perjanjian tersebut akhirnya ditandatangani pada Februari 2018 oleh Menteri Pertahanan Indonesia yang kala itu dijabat Ryamizard Ryacudu.

    "Bukan rahasia bahwa Amerika Serikat memberikan tekanan yang tidak disembunyikan pada negara-negara yang berniat membeli peralatan pertahanan Rusia," kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva dalam sebuah pernyataan yang dilansir Bloomberg.

    "Tujuannya jelas untuk membuat negara-negara tersebut menolak untuk mendapatkan senjata dari Rusia dan beralih ke Washington. Tentu saja persaingan tidak adil yang melanggar aturan dan norma bisnis yang transparan dan sah."

    Pejabat yang mengungkap pembatalan pembelian jet tempur Su-35 Rusia mengatakan dalam beberapa pertemuan dengan para pejabat Amerika, termasuk menteri pertahanan, pejabat Indonesia berulang kali bertanya mengapa mereka diberitahu untuk tidak membeli jet tempur Rusia.

    Amerika, lanjut pejabat itu, menjawab bahwa itu merupakan kebijakan Washington. Menurutnya, Indonesia juga menduga jawaban AS itu karena jet-jet tempur Rusia yang hendak dibeli akan memberikan keunggulan atas tetangga-tetangganya, yakni Australia dan Singapura.

    Masih menurut pejabat tersebut, sebaliknya pihak Amerika mengatakan kepada Indonesia untuk mempertimbangkan membeli jet tempur F-16 Viper buatan Amerika. Namun, Indonesia malah mencari cara untuk menegosiasikan pembelian pesawat jet tempur siluman F-35 yang dikembangkan sebagai bagian dari program Joint Strike Fighter (JSF) multi-negara.

    Program JSF yang dipimpin oleh AS, melibatkan Inggris, Italia, Belanda, Australia, Kanada, Denmark, dan Norwegia. Singapura baru-baru ini setuju untuk membeli beberapa pesawat tempur siluman itu, sedangkan Jepang adalah pembeli asing terbesar.

    Pejabat itu mengatakan AS menegaskan bahwa pemerintah Joko Widodo (Jokowi) berisiko terkena sanksi AS di bawah Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) karena membeli jet tempur Sukhoi. Namun, ancaman AS terkait penjajakan Indonesia membeli kapal militer China tidak jelas. Kemungkinan ancaman AS yang terkait dengan China menyangkut tentang perdagangan.

    Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS melalui email mengatakan Amerika tidak dapat mengomentari percakapan diplomatik pribadi. Dia menambahkan bahwa AS mendesak semua sekutu dan mitra untuk menjauhi transaksi baru peralatan militer Rusia untuk menghindari sanksi di bawah CAATSA.

    Menurutnya, tujuan kebijakan Amerika itu adalah untuk mencegah pendapatan Rusia yang dibutuhkan untuk melanjutkan "pengaruh buruknya".

    Bloomberg dalam laporannya mengatakan keputusan Indonesia untuk membatalkan kesepakatan pembelian jet tempur Su-35 Rusia dibuat setelah para pejabat Indonesia menyimpulkan bahwa akan salah langkah untuk mengambil sisi yang salah dari AS.

    Masih menurut laporan tersebut, Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dalam koordinasi dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, memutuskan bahwa akan membahayakan hubungan dagang jika tidak membatalkan kesepakatan dengan Rusia. (Muhaimin*1n)

    Posting oleh: Abu Hafizh
    Sumber teks: sindonews.com

    Tidak ada komentar

    Selamat datang di Portal Berita www.tanamonews.com : Legalitas perusahaan media SIUP. No. SK 0075/03.07/MK/SIUP/V/2017-TDP. No. : 03.07.3.58.05437-IG. No. SK : 1078/IG-NI/DPMPTSP/V/2017 - NPWP. Badan : S-4488KT/WPJ.27/KP.0403/2017 - Diskominfo : 555.166/Diskominfo/IV-2017-Surat Domisili : 470/44/APK-IV/2017. Bank Nagari : 2100.0210.45535-821039217 dan BRI : 5466-01-017035-53-8 a/n Pt. Tanamo Media Inter Pers, atas nama segenap redaksi dan Pimpinan Pt. Tanamo Media Inter Pers, mengucapkan Terima kasih telah berkunjung.. tertanda: Owner, Pendiri dan Direksi : Indra Afriadi dan Pemimpin Redaksi : Robby Octora Romanza